Konten dari Pengguna

Cincin Kawin, Gaun Putih, dan Asal-usul Tradisi Pernikahan di Inggris

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Pexels di pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Pexels di pixabay

Dalam melakukan sebuah pernikahan, ada beberapa hal yang wajib untuk dipersiapkan, seperti biaya, tempat pernikahan, dan lain sebagainya. Semua itu secara tidak langsung telah mencakup berbagai tradisi pernikahan yang ada, entah dari zaman modern atau dari abad pertengahan.

Pernahkah terpikirkan olehmu mengapa pengantin wanita identik dengan berpakaian gaun putih? Atau pernikahan yang terikat dengan sumpah dan ditambah dengan cincin pernikahan sebagai saksi bisu atas dua individu yang bersatu ini?

Berikut ini ialah jawabannya tentang sejarah tradisi yang umum terjadi dalam suatu pernikahan tersebut. Meski jawaban ini hanya didasarkan pada penelitian historis di sekitar Inggris (Britania Raya), besar kemungkinan berkaitan juga juga dengan tradisi pernikahan di negara lainnya.

Cincin Kawin

Foto oleh Arek Socha di pixabay

Sebuah buku di tahun 1680-an yang ditulis oleh Henry Swinburne, seorang penulis Inggris menyoroti pentingnya cincin pernikahan. Tidak masalah cincin tersebut terbuat dari apa, selama bentuknya bulat, itu menjelaskan dan melambangkan bagaimana cinta dan kasih sayang yang tulus selalu mengalir dari satu ke yang lainnya.

Pernikahan di Gereja

Foto oleh Carabo Spain di pixabay

Di tahun 1700-an, pembatasan pengetatan hukum menetapkan bahwa upaca pernikahan harus dilakukan di gereja atau dengan izin khusus, dan wajib ada pendeta. Delegasi ini melegitimasi tren pernikahan umum yang sering dilakukan di tempat-tempat terbuka dengan diterangi cahaya bulan.

Gaun Pengantin Putih

Foto oleh Tú Anh di pixabay

Di Inggris, pernikahan kerajaan pada umumnya akan menjadi sebuah perayaan dan tontonan publik. Gaun putih pertama kali dipopulerkan saat pernikahan Ratu Victoria dan Pangeran Albert. Setelahnya, banyak pengantin wanita yang mengikuti jejak ratu tersebut dengan mengenakan gaun putih.

Sumpah

Foto oleh jyoung0114 di pixabay

Di abad ke-20, pernikahan yang dilakukan semakin dianut sebagai komitmen hukum daripada komitmen keagamaan, dengan membawa lebih banyak kebebasan dalam hal pilihan tempat dan kata-kata sumpah. Hal ini juga dialami oleh Kate Middleton dalam pernikahannya dengan Pangeran William di tahun 2011, dengan menghindari kata-kata “patuh” dalam sumpahnya dengan memilih kata-kata “mencintai, menghormati, dan menyayangi” suaminya tersebut.

Bagaimana, apakah tradisinya serupa dengan di negara kita? Jika tidak, berarti ada tradisi lain yang telah memengaruhi resepsi pernikahan di Indonesia, seperti dari Arab, India, Tiongkok, dan lainnya.

Sumber: historyextra.com | robertscentre.com | instyle.com