Konten dari Pengguna

Fish and Chips, Kudapan Tradisional Inggris dan Sejarah Toleransi

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Telah sejak lama dijuluki sebagai 'hidangan nasional Britania Raya yang tak terbantahkan'.

Fish and Chips, Kudapan Tradisional Inggris dan Sejarah Toleransi
zoom-in-whitePerbesar

Foto: commons.wikimedia.org

Duet goren ikan tepung dan kentang telah sejak lama dijuluki sebagai 'hidangan nasional Britania Raya yang tak terbantahkan'. Selama Perang Dunia II, perdana menteri Winston Churchill membebaskan rakyat untuk mengonsumsinya dalam jumlah tak terbatas; hari ini puluhan ribu toko ramai-ramai menjualnya.

Bagaimanapun, baik gorengan ikan atau kentang, keduanya sama-sama tidak berasal dari Britania Raya. Kisah kemunculan mereka sebenarnya cukup kompleks dan tak dimulai oleh pribumi.

Dituturkan oleh Simon Majumdar, seorang penulis kuliner, ikan bertepung datang dari sebuah komunitas Yahudi Sephardic yang hidup sejak abad ke-8 hingga ke-15 di Portugal. Sebagai minoritas, mereka hidup damai dalam toleransi bersama orang-orang Muslim dan Kristen.

Namun, setelah berakhirnya pemerintahan Moor (Al-Andalus) dan penikahan Raja Manuel I dengan Isabella I pada 1496, keselarasan beragama runtuh di Portugal. Lalu, kondisinya kian parah tatkala Portugal jatuh di bawah kekuasaan Spanyol, dengan inkuisisi yang menargetkan kekerasan terhadap garis keturunan Yahudi.

Orang-orang Yahudi pun terusir dari Portugal dan banyak di antara mereka yang hijrah ke Inggris dengan hanya membawa harta benda seadanya. Beruntungnya, mereka turut membawa salah satu warisan kuliner paling berharga ke tanah baru itu, yakni peshkado frito.

Hidangan berbahan ikan kod yang digoreng dengan lapisan tepung tipis itu seketika menjadi kudapan viral. Dihidangkan dengan cara Yahudi dan dijual di jalanan kota-kota besar di Inggris setiap hari Jumat.

Pemilihan hari tersebut didasarkan pada kebiasaan klasik orang-orang Yahudi dan Katolik yang taat memakan ikan hanya pada hari Jumat. Meskipun keduanya sama-sama kelompok minoritas di Inggris, para pelanggan (yang bukan Yahudi atau Katolik) tidak keberatan untuk mengikuti ketetapan dua agama minoritas itu.

Beberapa abad setelah peshkado frito menguasai lidah rakyat Inggris, popularitas olahan kentang kemudian mulai mencuri perhatian pada akhir abad ke-19 di Eropa. Gorengannya kali perama dijual di Inggris oleh seseorang yang disebut Mrs. 'Granny' Duce; segera ramai diburu oleh para penikmat kuliner.

Kabarnya, adalah Joseph Malins, imigran Yahudi dan sahabat Churchill, yang mempolopori penyajian Fish and Chips sebagai satu menu. Ada juga yang menyebutkan bahwa ide itu muncul dari pengelola restoran bernama John Lee.

Bagaimanapun, terlepas dari siapa yang memulainya, tak butuh waktu lama bagi dua makanan tersebut untuk menjadi pasangan serasi yang paling dicintai rakyat Britania Raya. Serta, sesuai tradisi lama Yahudi dalam menjual peshkado frito, ikan tepung dan kentang goreng pun memiliki hari khusus yang disebut Fish & Chip Friday.

Sumber: simonmajumdar.com | atlasobscura.com