Konten dari Pengguna

Kehebatan Terbang Nazar Ruppell dan Rahasia Pernapasannya

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Burung ini pernah menabrak Boeing 747 yang terbang di ketinggian 11.5 kilometer.

Kehebatan Terbang Nazar Ruppell dan Rahasia Pernapasannya
zoom-in-whitePerbesar

Foto: commons.wikimedia.org

Setidaknya, ada 13 spesies (termasuk mamalia, burung dan reptil) yang diambil dari nama Wilhelm Peter Eduard Simon Ruppell. Pria ini anak dari seorang bankir yang sangat makmur dari Jerman dan lebih memilih karier sebagai penjelajah. Dia juga salah satu orang paling dihormati dalam dunia zoologi, yang melakukan ekspedisi di sepanjang Sungai Nil pada awal abad ke-19.

Di antara spesies-spesies yang mendapatkan namanya dari penjelajah itu, satu yang paling terkenal ialah nazar ruppell (gyps rueppellii). Rata-rata panjang tubuh hewan ini 90 sentimeter, dengan lebar sayap 2,6 meter dan berat hingga 9 kilogram.

Kendati ukuran tubuhnya cukup besar (untuk seekor burung), nazar ruppell yang berbulu kecoklatan memiliki kemampuan terbang menakjubkan. Pada hari-hari biasa, burung pemakan bangkai ini terbang di ketinggian 6.000 meter, sementara tatkala bermigrasi mampu mencapai ketinggian lebih dari 11 kilometer (dengan kecepatan sekita 34,5 Km/jam).

Lantaran kemampuannya yang hampir setara dengan tinggi terbang maksimal pesawat komersial, nazar ruppell pernah menimbulkan masalah serius pada 29 November 1975. Saat itu, di wilayah Pantai Gading, seekor nazar ruppell tersedot ke dalam mesin Boeing 747 yang terbang di ketinggian 11.5 Km. Salah satu mesin mendapatkan kerusakan parah dan pesawat terpaksa melakukan pendaratan darurat.

Baca juga: 5 Burung yang Sanggup Terbang Tinggi

Terbang setinggi itu dan tanpa dibantu alat pernapasan khusus tentunya merupakan sebuah prestasi bagi mahluk hidup apapun. Manusia yang naik pesawat komersial bahkan akan mulai mengalami kesulitan bernapas saat mendekati ketinggian 12 Km.

Akan tetapi, kesulitan bernapas tersebut tak berlaku bagi nazar ruppell karena tubuh mereka memiliki varian khusus protein dari hemoglobin alpha-D yang berafinitas besar terhadap oksigen. Kecenderungan varian khusus untuk terikat secara mudah dengan oksigen inilah yang memungkinkan nazar ruppell dapat leluasa bernapas di lapisan troposfer.

Bahkan, nazar ruppell mampu menyerap udara secara efisien meski tekanan oksigen di sekitarnya cukup rendah.

Sumber: africageographic.com | theguardian.com