Konten dari Pengguna

Kisah Kematian di Balik Batu 98 Pulau Wake

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ukiran tersebut dibuat oleh seorang tawanan yang berhasil lolos dari eksekusi.

Kisah Kematian di Balik Batu 98 Pulau Wake
zoom-in-whitePerbesar

Foto: Batu 98 di Pulau Wake | commons.wikimedia.org

Selama Perang Dunia kedua, Pulau Wake merupakan tempat strategis bagi Angkatan Laut Amerika Serikat. Tetapi hanya beberapa jam setelah serangan Pearl Harbor, pada 8 Desember, Jepang berhasil merebutnya.

Jepang kemudian mengirim sebagian besar penduduk sipil dan personel militer AS yang ditangkap ke kamp-kamp POW (Prisoner of War) di Asia. Pengiriman tawanan itu terus berlangsung setiap minggu, selama dua tahun, sampai tersisa hanya 98 tawanan saja di Pulau Wake.

Pada tanggal 5 Oktober 1943, pesawat Angkatan Laut Amerika menyerang Pulau Wake. Membuat panik Laksamana Muda Jepang Shigematsu Sakaibara, hingga memerintahkan eksekusi terhadap 98 tawanan. Eksekusi terjadi saat sore hari di ujung tebing. Sambil menatap laut, mungkin melihat sunset terakhir, mereka ditembak mati.

Tetapi entah bagaimana caranya, seorang tawanan berhasil selamat dan pergi ke bagian pulau yang lain. Tidak diketahui siapa namanya, namun dia berhasil menuliskan pesan ukiran di atas sebuah batu: 98 US PW 5-10-43. Tulisan tersebut menjelaskan jumlah tahanan AS yang tersisa dan tanggal mereka dieksekusi mati.

Tidak butuh waktu lama bagi Jepang untuk menemukan pelarian, tawanan yang tidak pernah terungkap identitasnya itu kembali tertangkap. Kabarnya, Laksamana Sakaibara yang langsung memenggalnya dengan pedang katana.

Setelah perang usai, Laksamana Sakaibara dan bawahannya, Letnan Komandan Tachibana, kemudian dijatuhi hukuman mati karena kejahatan perang mereka.