Kisah Merpati yang Menyelamatkan 194 Nyawa Manusia

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tahun 1918, saat Perang Dunia Pertama, Batalion Mayor Charles Whittlesey dari Amerika Serikat (AS), telanjur menyerang dan melewati garis musuh. Mereka dikepung oleh Jerman. Bahkan mereka juga dihancurkan oleh artileri dari kawannya sendiri, sesama pasukan AS, yang tidak tahu bahwa mereka sedang ada di sana. Batalion Mayor Charles Whittlesey lantas mengirimkan dua merpati dengan pesan putus asa, untuk menghentikan artileri yang salah sasaran. Sial, keduanya telah mati tertembak. Hanya tinggal satu merpati tersisa yang bisa menyelamatkan mereka, yakni Cher Ami.
Cher Ami adalah merpati pos dan merupakan salah satu dari 600 burung yang dimiliki dan diterbangkan oleh signal corps dari Angkatan Darat AS di Prancis. Selama Perang Dunia I, ia menyampaikan dua belas pesan penting bagi sektor Amerika di Verdun. Nama Cher Ami yang disusun dari bahasa Prancis sama dengan dear friend dalam bahasa Inggris, yang dimaksudkan sebagai kalimat pembuka dalam sebuah surat.
Dalam misi terakhirnya, Cher Ami terbang di atas medan baku tembak, pada tanggal 4 Oktober 1918. Ia membawa pesan dari Batalion Mayor Charles Whittlesey yang berbunyi:
Kami berada di sepanjang jalan paralel 276,4. Artileri menjatuhkan tembakan langsung ke arah kami. Demi Tuhan, hentikan."
Saat mengantarkan pesan itu, Cher Ami sempat tertembak jatuh. Namun, ia langsung terbang lagi. Ia menempuh jarak sejauh 40,23 kilometer dan terbang selama 65 menit, dengan kondisi dada terluka dan satu kaki yang hampir patah. Kendati tembakan telah membutakan matanya, dengan berlumuran darah ia masih sanggup terbang dan menyampaikan pesan. Aksi heroiknya berhasil menyelamatkan 194 tentara AS.
Merpati yang kehilangan kakinya itu kemudian dikirim pulang oleh Jenderal John J. Pershing ke AS, di mana ia disambut sebagai pahlawan. Cher Ami pun dihormati dengan banyak medali.
Ia meninggal setahun kemudian, akibat luka-lukanya, namun tetap menjadi ikon kepahlawanan AS dalam Perang Dunia I. Taksidermi Cher Ami sekarang terpajang di pameran Price of Freedom: American at War di Smithsonian National Museum of American History.
