Margaret of Beverley, Tentara Perempuan dalam Perang Salib

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari sekian ribu orang yang terlibat dalam Perang Salib pada abad ke-12, ada seorang perempuan bernama Margaret of Beverley, juga dijuluki Margaret of Jerusalem, yang ikut serta dalam pertempuran. Seperti tentara lain yang umumnya laki-laki, Margaret turun ke medan peperangan untuk melawan musuh.
Partisipasinya dalam perang telah menjadi takdir yang sulit dihindari, karena Margaret lahir di Yerusalem dari orang tua yang berasal dari Inggris.
Saat Margaret beranjak dewasa, kekuasaan atas kota Yerusalem jatuh ke tangan kaum Muslim yang dipimpin oleh Salahuddin Al Ayyubi, pada September 1187. Beralihnya kekuasaan di Yerusalem mengakibatkan penduduk di sana harus hidup dalam posisi yang amat sulit.
Yerusalem saat itu dikepung oleh tentara yang mengakibatkan tidak ada makanan dan air yang bisa dipasok untuk penduduk kota. Margaret yang tidak bisa kemana-mana lantas turun tangan, ambil bagian dalam perlawanan, dan ikut mempertahankan Yerusalem, seperti yang bisa dilakukan kaum laki-laki kala itu.
Yerusalem dikepung selama 15 hari. Selama itu, Margaret tampil dengan potongan prajurit lengkap dengan pelindung dada, helm, serta senjata. Konon, dia sebetulnya merasa sangat takut untuk menghadapi musuh, namun mamaksakan diri untuk terus menyenbunyikan rasa takutnya.
Kala perang berlangsung, kaum perempuan seperti Margaret pun membantu dengan mengoperasikan mesin ketapel serta menyediakan makanan dan minuman. Sial, suatu ketika nasib apes menghampiri Margaret saat sebuah batu menghantamnya hingga berdarah. Dia tidak tewas, namun ada luka yang berbekas selamanya.
Margaret tetap hidup sampai Pengepungan Yerusalem berakhir; kota ini kemudian dikuasai oleh pasukan Muslim . Setelahnya, ia kembali ke Eropa dan menjalani kehidupan di sebuah biara di Prancis.
Sumber: historyextra.com | yorkshire.co.uk
