Mengapa Kita Kecanduan Horoskop?

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Horoskop seperti junk food yang sering dihujat namun masih diakui lezat.

Foto: commons.wikimedia.org
Telah sejak lama horoskop memiliki penentang, sering dikritik landasan ilmiahnya, dan tak jarang dituduh sebagai untaian penipuan. Bagaimanapun kerasnya penolakan, tetap saja horoskop mampu bertahan. Beberapa media internasional (seperti The Washington Post dan Vice) juga masih rutin menyuguhkan terawangan horoskop harian hingga saat ini.
Jika kita bertanya, mengapa manusia masih saja menyandarkan sebagian nasibnya pada rasi bintang di zaman teknologi dan informasi yang sudah sepesat sekarang? Menurut Galit Atlas, asisten profesor dalam program postdoctoral psikoterapi dan psikoanalisis di Universitas New York, satu di antara jawabannya lantaran horoskop menawarkan petunjuk damai untuk menghadapi masalah dalam modernitas yang kacau.
"Apa yang membuat kita merasa aman di dunia ini adalah keteraturan, batasan, dan urutan, dan ketiga hal itu adalah hal-hal yang dapat diberikan astrologi kepada kita. Terutama dalam periode ketika dunia membuat manusia tidak aman, kita cenderung mencari jawaban yang masuk akal," tutur Atlas di The New York Times.
Penerawangan horoskop bukan hal negatif. Dijelaskan Atlas, semakin kita merasa aman (karena tahu apa yang harus dilakukan dan yang tidak) maka kita dapat menjadi pribadi yang produktif. Metode persuasif horoskop terhadap pembacanya juga senantiasa menggunakan cara yang lembut, penuturannya tidak mengancam pembaca untuk mendiskusikan emosi yang lebih dalam.
Selain itu, dilansir The Guardian, telah muncul kembali kecenderungan pada generasi milenial untuk meminta jawaban pada ranah kosmos tatkala mereka mengalami ketidakpastian dalam hidup. Pesatnya peningkatan visitor pada situs penyedia horoskop seperti The Cut hanyalah salah satu buktinya, yang mengalami hit 150 persen pada tahun 2017 --dibandingkan tahun 2016.
"Saya pikir apa yang terjadi pada orang-orang di akhir masa remaja dan (pada usia) 20-an, dan orang-orang yang bahkan lebih muda lagi, adalah rasa pengkhianatan oleh pengetahuan konvensional," kata Roy Gillet, presiden dari Astrological Association of Great Britain, menanggapi naiknya popularitas horoskop di kalangan generasi muda saat ini.
Tatanan yang telah ada kerap tak mampu memberikan respons bagus terhadap peliknya emosi generasi muda. Sehingga menurut Gillet, saat itulah mereka keluar dari solusi norma-norma sosial yang telah ditentukan masyarakat, menolak kalimat sakti dari mulut motivator dan pengkhotbah pasaran, dan mencari jawaban di tempat lain.
Dalam momen yang serba pas, beban emosi di pundak generasi muda justru sering mudah mencair saat menelaah horoskop, sekalipun mereka sadar sedang membaca ramalan yang tak ilmiah.
Kecenderungan generasi millenial itu bukanlah hal baru dalam sejarah manusia, sebab secara historis horoskop memang telah sejak dahulu meraih tempatnya pada peradaban kita. Kebiasaan manusia untuk membaca horoskop diyakini telah dimulai ribuan tahun lalu, oleh Bangsa Babilonia. Kemudian, menular dan diadaptasi oleh orang-orang Yunani Kuno, Romawi, lalu kepada nenek moyang kita.
Kendati begitu, kehadiran kolom horoskop pada surat kabar masihlah relatif baru. Pertama kali media menghiasi halamannya dengan ramalan zodiak baru dimulai kurang dari seabad lalu; dipelopori oleh The Sunday Express di London, Inggris, pada tahun 1930.
Di sisi bertentangan, tidak semua orang menyukai eksistensi horoskop. John Marchesella, presiden dari Geocosmic Research di Kota New York, menolak keberadaan horoskop dan menyebutnya sebagai penulisan amatir.
Fakta yang menarik ialah tatkala Marchesella membandingkan horoskop seperti junk food atau remah-remah tak berfaedah dari astrologi, sementara dia menjadi ketua untuk kelompok nirlaba yang mempromosikan pendidikan astrologi untuk mendidik para astrolog profesional.
"Kolom bertanda matahari (horoskop) hanyalah potongan kecil dari apa yang bisa diberikan astrologi kepada orang-orang," imbuhnya. Bagi Marchesella seorang astrolog seharusnya dapat memberikan ihwal lebih bermanfaat ketimbang ramalan zodiak semata, mereka tak seharusnya menjual makanan cepat saji ketika sanggup menghidangkan yang lebih bergizi.
Sumber: nytimes.com | theguardian.com
