Konten dari Pengguna

Rai, Uang Batu Raksasa di Mikronesia

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rai, Uang Batu Raksasa di Mikronesia
zoom-in-whitePerbesar

Foto: Wikimedia Commons

Di depan rumah-rumah penduduk di Pulau Yap, Mikronesia, berdiri ratusan cakram setinggi manusia. Beberapa di luar hotel, berjajar di dekat pantai, atau jauh di dalam hutan; mereka menyebutnya Rai.

Rai bukan sekadar hiasan, itu memang uang atau setidaknya berfungsi sebagai alat jual beli yang telah digunakan selama berabad-abad. Terbuat dari batu kapur, dengan lubang di tengahnya.

Nenek moyang penduduk Yap tidak memiliki batu yang lebih kuat dan tahan lama atau logam mulia untuk membuat koin. Jadi membuat uang dari batu kapur adalah solusi terbaik, karena memang cuma itu bahan yang tersedia.

Kenapa tak ada yang berani mencurinya, sekalipun di simpan di depan rumah? Karena selain sangat berat, penduduk Pulau Yap saling tahu siapa pemilik Rai dan kepada siapa benda itu kemudian diwariskan atau diberikan. Riwayat transaksi inilah yang juga turut menentukan harganya.

Terutama untuk pertukaran konseptual, yang berkaitan dengan adat istiadat, Rai jauh lebih berharga ketimbang kertas. Seperti ketika sebuah keluarga di Yap hendak meminta maaf lantaran berbuat salah kepada keluarga lain, mereka memberikan uang batu raksasa sebagai alat damai.

Kenapa takada yang berani mencurinya, sekalipun di simpan di depan rumah? Karena selain sangat berat, penduduk Pulau Yap saling tahu siapa pemilik Rai dan kepada siapa benda itu kemudian diwariskan atau diberikan. Riwayat transaksi inilah yang juga turut menentukan harganya.