Konten dari Pengguna

Rockall, Batu yang Tak Bisa Dihuni Manusia namun Diperebutkan 4 Negara

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Flickr/Chris Murray
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Flickr/Chris Murray

Sekitar 480 kilometer dari lepas pantai barat Skotlandia, ada sebuah pulau batu yang relatif kecil, biasa-biasa saja, dan tidak berpenghuni. Lebarnya hanya sekitar 25 meter dan tinggi 21 meter di atas permukaan laut. Meski penampilannya sama sekali tidak spesial, pulau kecil ini rupanya telah menjadi pusat perselisihan internasional selama beberapa dekade. Empat negara (Inggris, Irlandia, Islandia, dan Denmark) pernah mengklaim kepemilikan atas Rockall.

Piramida granit vulkanis yang menjorok keluar dari Samudra Atlantik itu seperti sirip hiu raksasa. Laut di sini sangat bergelora, sehingga amat sulit untuk menentukan ketinggian Rockall yang sebenarnya (antara 20 dan 30 meter di atas permukaan laut). Satu-satunya penghuni permanen pulau adalah tumbuhan periwinkle dan hewan moluska. Terkadang, sejumlah burung laut juga memanfaatkan batu tersebut untuk beristirahat saat musim panas, ada kalanya mereka juga berhasil berkembang biak di sana jika musim panas berlangsung tenang tanpa gelombang badai yang menyapu batu.

Jadi, dengan struktur fisik yang sama sekali tidak spesial, mengapa empat negara begitu tertarik pada sebongkah batu yang terisolasi? Rupanya, jawabannya tidak tertuju pada batu tersebut. Mereka justru mengincar wilayah perikanan yang luas, cadangan minyak, dan sumber gas yang sangat besar yang tersembunyi di dasar laut di sekitarnya.

Inggris pun menjadi negara yang paling ngotot untuk memiliki Rockall. Pada 21 September 1955, sebuah helikopter dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris mendarat di pulau kecil itu. Tiga tentara dan seorang ilmuwan kemudian ditugaskan untuk tinggal di sana sementara waktu. Mereka mengibarkan bendera kerajaan dan memasang pelat semen, sebagai klaim ambil alih Rockall atas nama Yang Mulia Ratu Elizabeth II.

Pengibaran bendera Kerajaan Inggris di Rockall | Wikimedia Commons

Pada tahun 1972, The Island of Rockall Act bahkan disahkan oleh parlemen, yang secara resmi menyatakan pulau itu sebagai bagian dari Britania Raya. Undang-Undang Parlemen Inggris ini secara resmi memasukkan Pulau Rockall ke dalam wilayah Inggris, untuk melindunginya dari klaim Irlandia dan Islandia.

Namun, klaim itu tidak pernah diakui secara resmi oleh negara lain. Ambisi kekaisaran Inggris untuk memiliki Rockall mengalami kemunduran dengan munculnya ratifikasi Hukum Laut Internasional pada tahun 1982, yang menyatakan:

Bebatuan yang tidak dapat menopang tempat tinggal manusia atau kehidupan ekonominya tidak akan memiliki zona ekonomi eksklusif atau landas kontinen."

Ratifikasi itu secara tegas memastikan Rockall tidak bisa dimiliki oleh negara mana pun. Begitu pun tidak ada yang bisa mengklaim kekayaan laut, sumber daya gas, dan cadangan minyak, yang ada di sekitar Rockall.

Untuk membuktikan Rockall dapat dihuni oleh manusia, Inggris sampai pernah menugaskan mantan tentara SAS, Tom McClean, untuk tinggal di atas bongkahan batu itu selama 40 hari pada tahun 1985. Sial, hal ini pun tak cukup membuatnya diakui secara internasional.

Rockall | Wikimedia Commons

Sikap Inggris yang berlebihan, dalam upaya menguasai, tidak diterima dengan baik oleh banyak orang di Irlandia. Kekonyolan Inggris demi memiliki Rockall lantas menginspirasi grup musik Irlandia, Wolfe Tones, menciptakan lagu patriotik yang berjudul "Rock On Rockall":

.... Oh rock on Rockall you'll never fall For Britains greedy hands Oh you'll meet the same resistance Like you did in many lands

May the Seagulls rise and pluck your eyes And the water crush your shell And the natural gas will burn your ass And blow you all to hellThis rock is part of Ireland ....

Rockall tidak akan pernah jatuh di tangan serakah orang Inggris. Dan Anda akan menemui perlawanan yang sama, seperti yang Anda temukan di banyak negeri. Begitu tulis Wolfe Tones dalam liriknya.

***

Saksikan video menarik di bawah ini: