Konten dari Pengguna

Suatu Malam ketika Bulan Meledak

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kawah Giordano Bruno | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Kawah Giordano Bruno | Wikimedia Commons

Pada sore tanggal 18 Juni 1178, lima biarawan dari Canterbury di Inggris bagian selatan, melaporkan telah menyaksikan fenomena yang tidak biasa di langit. Menurut biarawan Gervase, penulis sejarah Gereja Abbey of Christ, orang-orang itu melihat bulan sabit baru dan melihat bagian atasnya "terbelah dua" akibat ledakan.

Gervase pun menulis:

From the midpoint of the division a flaming torch sprang up, spewing out, over a considerable distance, fire, hot coals and sparks. Meanwhile the body of the Moon which was below writhed, as it were in anxiety, and to put it in the words of those who reported it to me and saw it with their own eyes, the Moon throbbed like a wounded snake. Afterwards it resumed its proper state.

This phenomenon was repeated a dozen times or more, the flame assuming various twisting shapes at random and then returning to normal. Then, after these transformations, the Moon from horn to horn, that is along its whole length, took on a blackish appearance.

facebook embed

Narasi Gervase itu dilupakan hampir selama berabad-abad, hingga Jack Hartung, seorang ahli geofisika di Universitas Negeri New York di Stony Brook, menemukannya kembali pada tahun 1970-an. Sejak itu, narasi Gervase menarik minat di antara para astronom.

Hartung memperkirakan bahwa orang-orang yang menyaksikan meteor, atau tabrakan asteroid di Bulan, menjadi saksi awal kemunculan kawah Giordano Bruno (kawah di Bulan) sepanjang 22 kilometer. Hal ini karena periode waktu pembentukannya sesuai dengan tanggal fenomena yang diamati.