Mengeksplorasi Situs Banten Lama: Wisata Edukatif dalam Balutan Sejarah

Mahasiswa Ilmu Sejarah UNNES, sedang belajar di Pekanan Rakjat
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Abu Sofyan Maldini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sarana belajar sejarah tidak hanya kita peroleh melalui buku saja, kita juga dapat mempelajarinya melalui tempat-tempat yang memiliki nilai historis. Seperti halnya di Kesultanan Banten yang meninggal jejak sejarahnya melalui situs-situs di Kawasan Banten Lama yang saat ini menjadi tempat wisata. Selain sebagai tempat untuk berlibur, kita juga dapat mengekplorasi nilai budaya dari berbagai situs peninggalan bersejarah Kesultanan Banten.

Pada Selasa, 22 April 2025, kami Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Universitas Negeri Semarang (UNNES), melakukan kunjungan ke beberapa tempat di Situs Banten Lama seperti Benteng Speelwijk, Keraton Surosowan, Masjid Agung Banten, dan Museum Kepurbakalaan Banten Lama.
Kunjungan kami ke tempat-tempat tersebut sebagai bagian dari kegiatan Kajian Peninggalan Sejarah yang dibimbing oleh Dr. Carolina Muji Santi Utami M.Hum. dan Bambang Rakhmanto M.Hum. Setelah kegiatan tersebut, kami tertarik menulis naskah laporan citizen jurnalism ini. Berisi tentang cerita pengalaman kami dalam menjejaki sejarah Kesultanan Banten di situs-situs warisannya yang dijadikan sebagai tempat wisata edukatif dalam balutan sejarah.
Sejarah Singkat Kesultanan Banten
Kesultanan Banten terletak di pesisir barat Pulau Jawa yang sekarang berada di wilayah administratif Provinsi Banten. Wilayah ini sejak lama dikenal strategis dan selalu diperebutkan. Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, tanah ini merupakan bagian dari Kerajaan Padjadjaran yang bercorakan Hindu.
Kesultanan Demak, dalam upayanya menyebarkan Islam dan menghadang kekuatan Portugis di Jawa, menyerang Sunda Kelapa di bawah pimpinan Fatahillah dan berhasil menguasai wilayah tersebut. Kesultanan Banten kemudian berdiri pada tahun 1526 oleh Maulana Hasanuddin yang merupakan putra dari Sunan Gunung Jati.
Islam kemudian meluas seiring perkembangan Kesultanan Banten, hingga mengalami puncak kejayaannya di tangan Sultan Ageng Tirtayasa. Banten kala itu menjadi salah satu pusat pusat perdagangan di Nusantara menghubungkan antara Malaka dan Maluku. Lada menjadi salah satu komoditas dalam perdagangan di Banten.
Kejayaan itu tak berlangsung lama, konflik internal di dalam istana dan politik adu domba yang dilakukan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) menyebabkan ketidakstabilan di Kesultanan Banten. Hingga pada masa pendudukan Inggris di bawah pimpinan Raffles, Sultan Muhammad Syaifuddin yang menjadi Sultan terakhir di Banten dipaksa turun takhta dan menandai akhir dari Kesultanan Banten.
Menjejaki Sejarah Kesultanan Banten Melalui Peninggalannya
Kesultanan Banten meninggalkan banyak bukti yang menunjukan eksistensi dari Kerajaan ini melalui situs-situs warisannya. Keraton Surusowan, Masjid Agung Banten, dan Benteng Speelwijk merupakan beberapa contoh situs kebudayaan yang kami kunjungi. Selain itu kami juga mengunjungi Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama yang berisi artefak-artefak peninggalan Masyarakat Banten terdahulu.
Langkah awal kami dalam menjejaki sejarah Kesultanan Banten dimulai di Benteng Speelwijk. Bangunan ini memang tidak didirikan oleh Kesultanan Banten, namun keberadaan benteng ini memiliki pengaruh besar terhadap dinamika di Banten. Didirikan antara tahun 1677 hingga 1678, yang difungsikan sebagai pertahanan sekaligus pemukiman orang-orang Belanda di Banten.
Penamaan Speelwijk sendiri didedikasikan sebagai penghormatan pada Speelman yang menjabat sebagai Gubenur Jenderal VOC saat itu pada 1681-1684. Benteng Speelwijk menjadi saksi bisu bagaimana upaya Belanda dalam menguasai tanah Banten.
Saat ini Benteng Speelwijk hanya menyisakan tembok utama yang masih berdiri kokoh dan Kerkoff (kuburan orang-orang orang-orang Eropa) yang berada di luar Struktur benteng. Bangunan-bagunan lain seperti gereja dan rumah pejabat-pejabat Belanda yang berada di dalam tembok hanya menyisakan reruntuhan pondasinya saja. Karena sudah lama ditinggalkan dan peperangan dengan Kesultanan Banten menyebabkan banyak bangunan telah runtuh.
Walaupun berdiri kokoh tembok ini tak lepas dari ancaman kerusakan, parit yang mengelilingi benteng ini, membuat air merembes ke dalam struktur Tembok dan menggenangi beberapa bagian seperti di Kerkoff. Hal tersebut menyebabkan tembok lapuk dan terkikis secara perlahan karena lebab. Selain itu, air parit yang tidak mengalir dan sampah di dalamnya menimbulkan bau tidak sedap yang membuat kami tidak begitu nyaman selama kajian.
Perjalanan kami kemudian berlanjut ke kompleks utama Keraton Kesultanan Banten. Di sini terdapat tiga bangunan utama di area ini, Keraton Surosowan, Masjid Agung Banten, dan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Di sini kami dipandu oleh salah satu pegawai dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII yaitu ibu Hany.
Tempat pertama yang kami eksplorasi adalah Keraton Surosowan. Bangunan ini didirikan oleh sultan pertama Banten setelah memisahkan diri dengan Demak dan dibangun selama 4 tahun (1522-1526). Berdiri di atas lahan seluas 3 hektar yang menjadi bukti kejayaan Banten di tanah Sunda kala itu. Komplek keraton ini sempat hancur pada tahun pada 1680 akibat perang saudara antara Sultan Ageng Tirtayasa menghadapi putranya sendiri yaitu Sultan Haji yang bersekutu dengan VOC.
Kemudian oleh Sultan Haji Keraton Surosowan mengalami perbaikan dengan bantuan seorang arsitek Belanda Bernama Hendrik Laurenzns Cardeel. Hingga pada 1808 Keraton Surosowan Kembali mengalami kehancuran karena penyerbuan oleh Belanda yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal Deandels.
Konflik ini dilatarbelakangi karena saat itu Sultan Alliyuddin II menolak mengirimkan tenaga kerja paksa yang diminta oleh Deandels. Kehancuran yang kedua kali ini, memaksa pusat pemerintahan Banten berpindah ke Keraton Kaibon hingga berakhirnya Kesultanan Banten.
Kembali keperjalan kami menyusuri Keraton Surowan, kini bangunan tersebut hanya menyisakan reruntuhan. Satu-satu bangunan yang masih terlihat jelas strukturnya adalah benteng setinggi 2 meter yang mengelilingi keraton. Benteng ini memiliki pengaruh dari arsitektur Belanda dengan adanya bastion-bastion di setiap sudutnya.
Ketika memasuki ke dalam keraton, terdapat sebuah anak berbentuk setengah lingkaran yang diidentifikasi sebagai jalan masuk ke dalam bagunan utama keraton. Sayangnya kami tak sempat menelusuri keseluruhan Keraton Surosowan karena keterbatasan waktu.
Berlanjut ke tempat kedua yaitu Masjid Agung Banten. Masjid ini menjadi satu-satunya bangunan dari masa Kesultanan Banten yang masih berdiri kokoh. Hal ini tak lepas dari peran dari Masyarakat sekitar dalam menjaga dan melestarikan Masjid Agung Banten. Bangunan ini memiliki bentuk khas masjid pada zamannya, yaitu atap punden berundak. Selain itu tiang-tiang yang terbuat dari kayu jati masih berdiri kokoh menopang bangunan ini.
Di depan masjid terdapat kolam dan menara, keduanya dulu difungsikan sebagai tempat wudhu dan tempat muazin mengumandangkan adzan. Dulunya di depan Masjid Agung Banten merupakan alun-alun. Namun saat ini tempat tersebut sudah dipasangi keramik dan beralih fungsi menjadi pelataran masjid untuk kenyamanan para pengunjung.
Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Tempat ini terdapat berbagai benda-benda dari masa Kesultanan Banten, seperti gerabah, perkakas, guci yang berasal dari Cina, dan masih banyak lagi. Di sini kami juga mendapatkan penjelasan mengenai Kesultanan Banten, baik dari penjelasan infografis atau pegawai di sana. Berdirinya bagunan ini menunjukan, upaya dalam menjaga dan melestarikan peninggalan-peninggalan Banten Lama.
Berwisata Sambil Belajar Sejarah
Upaya pemerintah dalam melestarikan situs warisan Kesultanan Banten dengan mengembangkan Kawasan Banten Lama sebagai tempat wisata. Pembangunan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama dan revitalisasi Kawasan Banten Lama menunjukan keseriusan pemerintah dalam menjadikan Kawasan Banten Lama sebagai tempat wisata edukasi. Tujuannya agar Masyarakat dapat belajar tentang sejarah Kesultanan Banten selain berwisata menghabiskan waktu libur.
Kawasan Banten Lama selalu ramai dengan pengunjung walaupun bukan hari libur. Ketika kami sedang berada di Museum Situs Kepurkalaan Banten Lama, di sana kami tidak sendirian. Banyak pengunjung terutama anak-anak sekolah yang sedang melakukan study tour. Naura salah satu murid SD di kabupaten Serang mengatakan tujuan dia datang kemari karena ingin menjelajahi museum dan belajar mengenai Kesultanan Banten. Berlanjut di Masjid Agung Banten, di sini bahkan lebih banyak di kunjungi wisatawan.
Dikri, salah satu pengunjung di Masjid Agung Banten, ia mengatakan tujuan datang kemari untuk berziarah dan berwisata bersama keluarga, selain itu ia juga ingin mengetahui sejarah Kesultanan Banten melalui peninggalan di Masjid Agung Banten. Dari banyaknya pengujung dan narasumber yang kami wawancarai yang merupakan anak sekolah menunjukan Kawasan Banten Lama merupakan wisata edukasi yang cocok untuk segala usia.
Fasilitas pun sangat mendukung untuk kenyamanan para pengunjung. Di masjid Agung contohnya, terdapat payung-payung besar di pelataran masjid yang digunakan untuk bersantai bagi para wisatawan. Selain itu terdapat banyak kran untuk berwudhu yang mempermudah pengunjung untuk beribadah. Di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama juga memiliki fasilitas dan pelayanan yang baik pula. Di tempat ini para pengunjung difasilitasi oleh seorang tour gate yang mempermudah para pengunjung untuk mengetahui setiap benda yang berada di tempat ini.
Situs Banten Lama menjadi saksi bisu dimana kejayaan, kemakmuran, dan konflik terbungkus dalam setiap bangunan yang pendahulu kita tinggalkan. Belajar sejarah tak hanya melalui buku-buku saja, berkunjung ke tempat yang memiliki nilai historis adalah cara terbaik dalam merasakan lebih dekat dengan suatu peristiwa sejarah.
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Dr. Carolina Muji Santi Utami M.Hum. dan Bambang Rakhmanto M.Hum. selaku dosen pembimbing yang selalu membimbing kami dengan penuh rasa dedikasi yang tinggi dalam kegiatan Kajian Peninggalan Sejarah yang kami lakukan. Saya berkolaborasi dengan rekan saya yaitu Dea Sintia Bela dalam merumuskan naskah laporan citizen jurnalism ini.
