Mengenal Two-Sigma Problem: Tabrakan Ideal dan Realitas Pendidikan

Lulusan Fakultas Pendidikan yang belum sempat menjadi guru
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Abubakar Sidik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan sistem pendidikan dimana hampir semua siswa memiliki potensi untuk menjadi “siswa terbaik”. Dimana hanya 2% siswa paling berbakat yang dapat mencapai tingkat prestasi yang dapat dicapai oleh 98% siswa lainnya. Kita sudah menemukan sistem tersebut, tetapi kita belum pernah menggunakannya.
Benjamin S. Bloom menunjukan temuan penelitiannya pada tahun 1984 yang disebut Two-Sigma Problem: penelitian ini menguji hasil pembelajaran siswa di tiga kondisi yang berbeda. Yang pertama, kondisi konvesional dimana seorang guru menangani 30 siswa dalam satu kelas serta diberi ujian berulang dan beratur. Yang kedua, mastery learning yang mengedepankan penguasaan siswa, tetapi dalam kondisi ini jumlah siswa tidak berbeda dengan kondisi konvensional yang diisi oleh 30 siswa persatu guru, ujian formatif nya sama dengan konvesional hanya sebagai umpan balik untuk mengukur kemampuan siswa. Yang ketiga, kondisi dimana siswa mempelajari materi dengan bimbingan tutor yang kompeten yang bisa diisi oleh satu sampai 3 siswa persatu tutor secara berbarengan.
Siswa yang menerima bimbingan privat satu-satu menunjukkan hasil yang jauh melonjak signifikan atau perbandingan sekitar dua standar deviasi daripada siswa di lingkungan kelas konvesional. Ini adalah fenomena hasil dari pendekatan yang telah terbukti jauh lebih pengaruh. Temuan ini menunjukan paradoks dasar: kita terpaksa menggunakan strategi pengajaran yang jauh kurang efektif karena alasan struktural dan praktis, meskipun kita tahu cara ideal untuk mengajar anak-anak.
Di Indonesia sendiri masih berputar pada kondisi konvesional yang dimana setiap jenjang Pendidikan dibatasi maksimal 15 siswa PAUD, 28 siswa SD, 32 siswa SMP, 36 siswa SMA/SMK, 5 siswa SDLB, dan 8 siswa SMP/SMALB. Tentunya daya tampung siswa dalam satu kelas disesuaikan dengan ketersedian jumlah pengajar, sarana dan prasarana, dan kuota anggaran penyelenggara satuan Pendidikan. Sistem konvesional ini cenderung melakukan evaluasi seragam dengan kurikulum yang standar sehingga mengabaikan kemampuan kecepatan belajar siswa yang berbeda, mengurangi personal feedback, dan acapkali banyak siswa yang ditinggalkan.
Inilah mengapa one-to-one tutor menjadi langkah efektif dalam two-sigma problem. Langkah ini menghadirkan personalisasi yang intens antara pendidik dan siswa, bukan hanya sekedar menambah tambahan pengetahuan. Kondisi ini juga memberikan ruang lebar bagi pendidik dalam memahami daya kecepatan belajar setiap peserta didik. Selain itu dapat meminimalisir kebingungan siswa karena bisa langsung di koreksi atau saling mengasih feedback yang intens dan signifikan. Dari komunikasi personal ini dapat meningkatkan hubungan personal pendidik dan siswa yang memberi ruang motivasi dan rasa percaya diri siswa.
Tabrakan Ideal dan Realitas Pendidikan
Solusi one-to-one tutor memberikan harapan yang besar bahwa kondisi pendidikan Indonesia jauh lebih maju menghasilkan peserta didik yang unggul, namun kita tidak boleh mengabaikan realitas pendidikan kita yang memiliki tantangan yang cukup kompleks; membutuh ketersediaan anggaran dan pendidik dalam jumlah besar sehingga solusi ideal ini menjadi utopis secara praktek. Kondisi ini hanya akan melahirkan fenomena dimana kemewahan two-sigma problem ini hanya bisa digapai oleh sekolompok orang yang mampu membayarnya.
Selain utopis, metode ini juga lebih dominan melebarkan kegagapan keterampilan sosial, etos kerjasama, dan jiwa kemandirian peserta didik karena metode ini hanya mengedepankan nilai akademis yang dominan.
Pada akhirnya, kita menghadapi dilemma pendidikan yang ideal dan kondisi realitas sumber daya dan nilai sosial yang bertolakbelakang. Di era disrupsi digital yang begitu massif ini, mungkinkah teknologi bisa menjadi langkah konkret untuk two-sigma problem ini agar bisa berjalan seimbang? Atau selamanya kita akan terperangkap dalam sistem yang kita tahu tidak ideal?
