Konten dari Pengguna

Suara Hati Murid Terhadap Perubahan Kurikulum Indonesia

Abyan Al Viandra Zein Nasution

Abyan Al Viandra Zein Nasution

Sekolah SMA Citra Berkat

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abyan Al Viandra Zein Nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Murid Terhadap Kurikulum Merdeka, Foto: ChatGPT.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Murid Terhadap Kurikulum Merdeka, Foto: ChatGPT.com

Perubahan kurikulum adalah suatu hal yang sangat wajar di dalam dunia pendidikan. Kurikulum selalu berkembang dan berubah seiring dengan zaman dengan tujuan yang baik. Hal ini terbukti dengan adanya perubahan dari Kurikulum 2013 menuju Kurikulum Merdeka dengan tujuan fleksibilitas dan mempersiapkan murid menghadapi era digitalisasi dimasa yang mendatang. Namun, di dalam perubahan kurikulum tersebut masih terdapat berbagai tantangan yang perlu diperhatikan agar tujuan tersebut bisa dicapai sepenuhnya.

Salah satu hal yang sering membingungkan murid beserta guru adalah kebebasan memilih mata pelajaran di jenjang SMA. Tentu saja kebebasan dalam memilih mata pelajaran tersebut memberikan peluang untuk berkembang lebih, namun tidak semua murid mendapatkan bimbingan karier atau cita-cita yang searah dengan pandangan mereka kedepannya, sehingga banyak yang merasa ragu dan bingung apakah pilihan mereka sudah sesuai dengan rencana masa depan mereka. Selain itu, Kurikulum Merdeka juga membawa sebuah perubahan besar dengan menghapus sistem rangking dan menerapkan sistem untuk selalu naik kelas. Alasan awal mengapa pemerintah menerapkan kebijakan ini adalah agar setiap anak dapat belajar sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya. Namun, kebijakan tersebut masih perlu dilengkapi dengan mekanisme yang lebih jelas agar motivasi belajar murid dapat tetap terjaga. Sebab evaluasi yang tepat bukan hanya membantu siswa berkembang, tetapi juga memberi guru gambaran mengenai strategi pembelajaran yang lebih efektif. Tantangan selanjutnya terdapat pada Program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang seharusnya menjadi ruang pengembangan karakter malah sering kali berjalan sebatas formalitas saja. Alih-alih memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menguatkan jiwa nasionalisme, sebagian besar murid justru merasa projek tersebut membebani karena tidak selalu relevan dengan minat mereka ataupun memang karena materi yang ada dirasa bersifat membosankan dan linear saja. Pada akhirnya Kurikulum Merdeka memang bertujuan untuk membawa semangat baru di dalam dunia pendidikan Indonesia. Namun, dari sudut pandang siswa, kebijakan ini masih menyisakan beberapa catatan penting, seperti adanya kebingungan dalam memilih mata pelajaran, hilangnya motivasi akibat sistem evaluasi yang kurang jelas dan transparan, hingga pada pelaksanaan Projek P5 yang belum sepenuhnya berjalan dengan efektif. Oleh sebab itu, Kurikulum Merdeka perlu terus disempurnakan agar mampu memerdekakan proses belajar, bukan sekadar mengganti aturan lama dengan aturan baru. Dengan bimbingan karier yang lebih kuat, mekanisme evaluasi yang transparan, serta pelaksanaan projek yang relevan dan menarik kurikulum ini berpotensi sangat besar untuk menjadi pondasi pendidikan yang adil, bermakna, dan dinamis terhadap perkembangan zaman.