120 Pengungsi Rohingya Bakal Digiring Lagi ke Laut, UNHCR Serukan Pendaratan
·waktu baca 3 menit

United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) atau Badan PBB untuk Urusan Pengungsi menyerukan segera dilakukannya pendaratan penyelamatan jiwa terhadap kapal yang membawa 120 pengungsi Rohingya yang sedang kesulitan di perairan Bireuen, Aceh, Indonesia.
Hal tersebut disampaikan oleh Associate Communications Officer UNHCR, Mitra Suryono, dalam keterangannya yang diterima acehkini, Selasa (28/12/2021).
Menurutnya, kapal tersebut pertama kali terlihat di perairan Bireuen pada tanggal 26 Desember 2021. Berdasarkan foto dan laporan dari nelayan setempat, mayoritas penumpang dari kapal yang kondisinya sangat padat dan tidak layak berlayar itu adalah wanita dan anak-anak. Kapal yang dilaporkan mengalami kebocoran dan kerusakan mesin ini terombang-ambing di laut terbuka di tengah cuaca yang buruk dan dapat berisiko tenggelam.
UNHCR sangat mengkhawatirkan keselamatan dan nyawa para pengungsi yang berada di kapal. “Untuk mencegah kehilangan nyawa, UNHCR mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera mengizinkan kapal tersebut menepi dengan selamat,” tulis Mitra Suryono.
Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2016 tentang Perlindungan Pengungsi Mencakup Provisi bagi Pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan pengungsi di kapal yang mengalami kesulitan di dekat Indonesia, dan untuk membantu mereka berlabuh. Provisi ini telah diimplementasikan sebelumnya pada tahun 2018, 2020 dan yang terakhir pada bulan Juni 2021, ketika 81 orang pengungsi Rohingya diselamatkan dari perairan in Aceh Timur.
Selama bertahun-tahun, UNHCR menilai Indonesia telah menjadi teladan bagi negara lain di kawasan yang sama dalam hal memberikan perlindungan pengungsi. UNHCR berharap untuk melihat semangat kemanusiaan yang sama lagi hari ini di Aceh. “Kelompok Rohingya telah melarikan diri dari kekerasan, penganiayaan dan melakukan perpindahan yang terpaksa selama puluhan tahun. Bagi mereka yang mencari perlindungan internasional, ijin berlabuh dengan aman dan akses untuk prosedur suaka serta bantuan kemanusiaan harus diberikan.”
“Staff UNHCR saat ini berada di lapangan, bekerja dengan koordinasi erat dengan pemerintah setempat dan kami siap membantu pemerintah serta masyarakat setempat dalam memberikan bantuan darurat penyelamatan jiwa bagi kelompok tersebut. Kami juga berkoordinasi dengan mitra kerja kemanusiaan lainya dalam persiapan respon komprehensif, yang mencakup proses karantina yang sesuai dengan standar internasional dan protokol kesehatan publik,” jelas Mitra Suryono.
Sebelumnya diberitakan aparat keamanan Indonesia berencana menggiring kapal pembawa 120 pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di laut Bireuen, Aceh, ke kawasan Malaysia, meski ada desakan untuk mendaratkan mereka.
Direktorat Kepolisian Air dan Udara Kepolisian Daerah Aceh, Kepolisian Resor Bireuen, Angkatan Laut, dan Pemerintah Kabupaten Bireuen memasok bantuan berupa bahan bakar minyak dan makanan ke kapal Rohingya itu sebelum menuju ke laut lepas.
"Agar mereka melanjutkan perjalanan ke Malaysia sebagaimana rekomendasi yang dimiliki sesuai informasi yang kita dapatkan serta juga sesuai keinginan para pengungsi tersebut," kata Komisaris Besar Winardy, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Aceh, kepada acehkini, Selasa (28/12).
Kapal pengungsi Rohingya terpantau nelayan Bireuen pukul 11 siang Ahad (26/12). Jaraknya sekitar 70 mil dari daratan antara Peulimbang dan Peudada, Kabupaten Bireuen. Nelayan langsung melaporkan ke aparat keamanan begitu melihat kapal Rohingya. []
