Konten Media Partner

Amnesty International: Kapal Rohingya di Laut Bireuen Harus Dibiarkan Mendarat

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid. Foto: amnesty.id
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid. Foto: amnesty.id

Amnesty International Indonesia mendesak Pemerintah Indonesia harus membiarkan kapal berisi sekitar 72 pengungsi Rohingya di laut Bireuen, Aceh, untuk mendarat. Kapal itu terombang-ambing sekitar 70 mil dari daratan antara Peulimbang dan Peudada karena rusak mesin sejak Ahad (26/12).

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mendesak pihak berwenang untuk menerima kedatangan pengungsi Rohingya, meski untuk sementara. Kalau menolak mereka menepi atau mengirim kembali mereka ke lautan lepas, menurut Usman, itu sama saja melepas kewajiban internasional Indonesia.

"Kapal mereka harus dibiarkan masuk dan mendarat di pantai terdekat. Para pengungsi diselamatkan dan dipenuhi kebutuhan dasarnya," kata Usman kepada acehkini, Senin (27/12).

Kapal pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di laut Bireuen, Aceh. Foto: Dok. Panglima Laot

Menurut Usman, Indonesia sebenarnya telah menunjukkan teladan yang baik dengan menerima beberapa gelombang pengungsi Rohingya sebelumnya. Usman menilai itu perlu diulang kembali. Di sisi lain, tak ada alasan bagi negara-negara tetangga untuk membiarkan Indonesia bergerak sendiri dalam menangani kapal Rohingya.

Ia menilai harus ada tanggung jawab bersama di antara negara-negara kawasan untuk melakukan pencarian dan penyelamatan agar mereka terhindar dari bahaya di laut, dan kondisi sulit di kampung halaman serta di kamp pengungsi di mana pun.

kumparan post embed

“Pengungsi Rohingya membutuhkan respon kemanusiaan dari kawasan, khususnya kepemimpinan strategis Indonesia. Energi kemanusiaan nelayan Aceh adalah kekuatan Indonesia dalam menyelamatkan pengungsi Rohingya," ujar Usman.

Sebagaimana diketahui, kapal pengungsi Rohingya itu awalnya terpantau nelayan Bireuen pukul 11 siang Ahad (26/12). Jaraknya sekitar 70 mil dari daratan antara Peulimbang dan Peudada, Kabupaten Bireuen. Nelayan langsung melaporkan ke aparat keamanan begitu melihat kapal Rohingya. Sekitar 72 pengungsi Rohingya berada dalam kapal itu.

kumparan post embed