Bantah Usir 114 Pengungsi Rohingya, Keuchik: Mereka Marah dengan Warga dan Pergi
·waktu baca 2 menit

Sebanyak 114 pengungsi Rohingya meninggalkan tenda darurat yang dijadikan tempat penampungan sementara di Desa Alue Buya Pasi, Kecamatan Jangka, Bireuen, Aceh. Hal ini karena pengungsi Rohingya diduga marah kepada warga sekitar.
Keuchik–kepala desa– Alue Buya Pasi, Muslem, mengatakan duduk perkara itu berawal pada Sabtu (19/3) malam, ada tiga pengungsi Rohingya kabur. Warga setempat kemudian mencari mereka sehingga menemukannya.
"Saat ditemukan, diduga ada seorang pengungsi Rohingya dipukuli warga. Karena pemukulan itu, pengungsi Rohingya yang lain marah," kata Muslem, Senin (21/3).
Keesokan harinya, Ahad (20/3), pukul 9 pagi, para pengungsi Rohingya meninggalkan tenda darurat di Alue Buya Pasi yang telah mereka tempati dalam dua pekan terakhir. Pejabat Kecamatan Jangka lalu merelokasi mereka ke gedung serbaguna di dekat kantor kecamatan.
Muslem membantah tudingan bahwa warga Alue Buya Pasi telah mengusir pengungsi Rohingya. Karena selama mereka tinggal di sana, warga setempat sangat menerima. Bahkan, para perempuan di sana sering memasak untuk para pengungsi Rohingya di dapur umum.
"Bukan kami usir. Kalau kami mengusir, mereka kan sudah 16 hari di sini, kenapa tidak dari dulu kami usir. Ini kan dari awal kami bantu," tutur Muslem.
Meski demikian, Muslem mengaku prihatin dengan pengungsi Rohingya yang menempati gedung serbaguna kantor kecamatan. Sebab, tidak ada fasilitas yang layak, seperti kamar mandi.
"Kasian juga kami lihat mereka, kami satu agama. Binatang saja kami lindungi, apalagi manusia. Tapi mereka tidak mau tinggal di kampung kami lagi, kami juga tidak bisa melarang," katanya.
Sebagaimana diketahui, 114 pengungsi Rohingya yang terusir dari negaranya, Myanmar, terdampar di pantai Kuala Raja, Kabupaten Bireuen, Aceh, Ahad (6/3) dini hari. Ketika ditemukan nelayan setempat, para pengungsi Rohingya itu sudah turun ke darat. Mereka lalu dievakuasi ke Desa Alue Buya Pasi. []
