Curhat Dokter Positif COVID di Aceh: Dilan Saja Tidak Sanggup, Cukup Kami Saja

COVID-19 telah memakan korban semua kalangan di Aceh, semua profesi termasuk ulama bahkan dokter. Sampai saat ini, virus Corona telah menyebar di 21 kabupaten/kota dari 23 kabupaten/kota yang ada di Aceh.
Di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, sejumlah dokter dan tenaga kesehatan terjangkit COVID-19, diduga dari pasien yang pernah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Manyang Kute. Salah seorang dokter yang divonis positif COVID-19 adalah dr IS (35) tahun.
dr IS bersama sejumlah pasien positif lainnya, saat ini sedang menjalani karantina di ruang isolasi Pinere, Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh. Dia membagikan testimoni keduanya, dengan judul ‘Melawan Stigma’ di media sosial, dan beredar luas.
Testimoni pertama dapat dilihat di bawah ini:
Testimoni kedua, dituliskan pada Senin (3/8/2020) dengan tujuan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang COVID-19. acehkini diizinkan mengutip curhatan hatinya, sebagai berikut:
Assalamualaikum semua,
Hari ini adalah hari ke-4 rawatan saya di ruang Pinere 1 RSUDZA Banda Aceh, Alhamdulillah saya sangat bersyukur masih diberikan kesehatan jiwa, dan raga serta umur untuk bisa terus menghirup segarnya udara pagi, dan indahnya suasana dunia.
Empat hari lalu, saya dengan hati dan perasaan yang tulus menuangkan isi pikiran saya pada sebuah tulisan yg saya beri judul ‘Melawan Stigma’. Alhamdulillah respon dari masyarakat sangat baik, mendoakan kesehatan saya, memberi dukungan secara psikis dan semangat melawan virus yang bersarang di tubuh ini. Saya ucapkan: terima kasih, dan semoga Allah SWT membalas kebaikan anda.
Sengaja saya tidak membalas satu persatu karena saya ingin sekali melihat respon dari masyarakat tentang COVID-19 yang saya derita ini, ternyata banyak yang sudah sangat baik menanggapi penyakit ini.
Namun muncul lagi pertanyaan dalam pikiran saya, apakah masyarakat akan bisa menerima kepulangan saya setelah dinyatakan sembuh, dan ditambah sudah melakukan isolasi mandiri 14 hari di rumah nantinya?
Jika dokter ahli (spesialis paru & tim) sudah menyatakan sembuh, tentunya kita sebagai manusia harus menerima di lingkungan dan di pekerjaan, semoga.
Saya ingin sekali menyampaikan tips atau saran kepada semua pembaca, ada 2 hal:
Pertama: Jika anda terkonfirmasi positif COVID-19, maka patuhi protokol kesehatan. Yang tidak kalah penting adalah ‘Jangan menstigmasi Diri Sendiri’, tidak boleh ada dalam pikiran anda menganggap bahwa anda sedang mendapat kutukan, jangan menganggap diri kita pembawa malapetaka, jangan merendahkan diri kita akibat penyakit yang diderita, lalu bagaimana? Kita harus tenang, lakukan evaluasi diri tentang gejala yang berkembang, jauhkan pikiran terhadap dampak virus ini terhadap kematian, munculkan semangat untuk sembuh, serta berdoa.
Saran untuk keluarga, mari kita pahami, situasi ini mengharuskan untuk tetap di rumah. Kita bukan sedang dikurung atau dikekang, melainkan sedang menolong orang lain di luar sana agar tidak terpapar oleh kita yang belum mengetahui hasil pemeriksaan.
Kedua: Untuk anda di luar sana, yang keluarga anda tidak terpapar COVID-19, tolong hargai keluarga kami yang sebenarnya sedang menolong anda dari paparan virus ini, bantu keluarga kami, jangan menghakimi, jangan mendiskriminasi, lakukan tindakan pengisolasian secara santun dan lembut, InsyaAllah akan terjadi pemikiran yang sejalan antara anda dan keluarga kami.
Mungkin buah pikiran ini dapat meluruskan stigma masyarakat, khususnya kabupaten tempat tinggal saya dan kabupaten tempat saya bekerja, umumnya untuk seluruh masyarakat di Indonesia, agar tidak terjadi hal-hal yang menyedihkan dan menyakitkan. Mari kita berikan edukasi-edukasi yang membangun dimulai dari diri kita..
Pesan dari kami yang berjuang melawan COVID-19 yang berada di tubuh ini. Ini bukan teori konspirasi, harus tetap gunakan masker, cuci tangan, jaga jarak, jika tidak ingin merasakan isolasi 14 hari. "Itu berat, Dilan saja tidak sanggup, cukup kami saja." []
