Konten Media Partner

Dampak Corona di Aceh: Industri Tahu Terganggu Kala Ramadhan

ACEHKINIverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Industri tahu di Aceh terdampak virus corona. Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Industri tahu di Aceh terdampak virus corona. Foto: Suparta/acehkini

Wabah virus corona tidak hanya membuat panik dunia. Selain masalah kesehatan, virus asal Wuhan, China, juga memberikan dampak pada sektor ekonomi secara global, bahkan mengganggu industri kecil.

Dampak corona di tengah Ramadhan 2020 sangat dirasakan sejumlah pengusaha tahu di Banda Aceh. Produksi mereka terganggu akibat naiknya harga bahan baku kedelai. Apalagi yang mereka gunakan adalah kedelai impor.

“Bahan baku ada, tapi sekarang dijatah, harganya pun telah naik. Dulu Rp 6.800 per kilogram, kini menjadi Rp 8.800,” kata Mulijar, seorang pengusaha tahu di Gueceu Kayee Jato, Banda Aceh, Senin (27/4).

Menurut pria yang juga Sekretaris Asosiasi Pengusaha Tahu dan Tempe ini, dirinya kini hanya mendapat jatah 8 ton kedelai per dua minggu.

Dampak kekurangan bahan baku, memaksa dirinya mengurangi jumlah produksi. Padahal permintaan sedang banyak untuk kebutuhan menu Ramadhan. “Bila sebelum corona bisa satu ton kedelai setiap hari, kini paling 500 kilogram,” jelas Mulijar.

Produksi tahu terganggu di Aceh. Foto: Suparta/acehkini

Akibat naiknya harga kedelai, Mulijar mengaku, dengan berat hati dirinya menaikkan harga jual tahu. Bila saat normal dulu dijual Rp 35.000 per papan, kini terpaksa dijual Rp 40.000.

Kenapa tidak beralih pada kedelai lokal? Menurut Mulijar, dulunya dia selalu menggunakan bahan baku lokal. Tapi belakangan dengan terpaksa tidak mau manggunakan lagi.

“Sebenarnya kualitas kedelai kita bagus, tapi di tinggkat agen kemudian dicampur dengan kedelai apkir. Bagi kami yang memproduksi tahu tidak bisa menggunakannya, waktu direndam banyak yang apung,” jelas pengusaha tahu sejak 2007, mempekerjakan 10 pegawai. []