Konten Media Partner

Demi Kenangan, Kampus Berikan Ijazah Rina kepada Ayahnya saat Wisuda

ACEHKINIverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bukhari, ayah almarhumah Rina memegang ijazah sebagai kenang-kenangan. Foto: Husaini Ende/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Bukhari, ayah almarhumah Rina memegang ijazah sebagai kenang-kenangan. Foto: Husaini Ende/acehkini

Biasanya ijazah orang sudah meninggal tidak terpakai, dalam daftar wisuda pun dicoret. Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh memberikan keistimewaan kepada (Alm) Rina Muharami, mengabulkan keinginan ayahnya, Bukhari yang ingin ijazah tersebut sebagai kenangan.

Sekretaris Program Studi (Prodi) Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Yuni Setia Ningsih, menceritakan awal mula inisiatif prodi menghadirkan orang tua dari Rina Muharami pada prosesi wisuda. Dia mengaku prakarsa tersebut berawal dari takziah (kunjungan) pihak Prodi Pendidikan Kimia ke rumah duka.

"Pas kami takziah sekitar hari kedua Rina meninggal, orang tua menyampaikan ingin ijazahnya sebagai kenang-kenangan," sebut Yuni kepada acehkini, Kamis (28/2).

Permintaan dari ayah Rina membuat pihak Prodi Pendidikan Kimia mempertimbangkan, bagaimana cara memenuhinya. Apalagi sosok almarhumah Rina merupakan anak pertama dari empat bersaudara pasangan Bukhari dan Nurbayani.

Biasanya orang sudah meninggal, ijazahnya tidak terpakai. Pertimbangan lebih pada urusan perasaan. “Kami berpikir bagaimana sedihnya orang tua. Anak pertamanya yang diharapkan berhasil sukses, dan kesuksesan sudah di depan mata ternyata tidak sempat menikmatinya," kata Yuni.

Yuni menyampaikan persoalan tersebut ke pihak Akademik UIN Ar-Raniry. “Akademik menyebutkan bisa saja, karena ijazah sekarang tidak memakai sidik jari hanya ada kode tertentu," tambahnya.

Saat yudisium Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dilaksanakan, sempat diumumkan nama Rina. Cerita tersebut lantas diketahui oleh Wakil Rektor I UIN Ar-Raniry, maka lahirlah inisiatif tersebut, ijazah dapat diberikan pada waktu wisuda.

Data (Alm) Rina di buku profil wisudawan. Foto: Dok. Fahrul Azmi

"Alhamdulillah ayahnya hadir pada wisuda kemarin dan mengambil langsung ijazah dari almarhumah Rina, anak pertamanya," ungkap Yuni. Kampus UIN Ar-Raniry di Banda Aceh melakukan wisuda terhadap 2.011 lulusannya selama tiga hari berturut-turut, 26-28 Februari 2019, untuk semester ganjil tahun akademik 2018/2019.

Kehadiran orang tua Rina pada wisuda Rabu (27/2) kemarin, membuat suasana haru Auditorium Ali Hasymi. Kisah ini kemudian sempat viral di media sosial.

Yuni mengatakan, Rina yang meraih IPK 3,51 berasal dari keluarga sederhana. Dia anak rajin membantu pekerjaan orang tuanya. Saat libur kuliah, Rina turun ke sawah untuk menanam padi. Almarhumah mengajar anak-anak les privat di rumahnya, selain menjadi guru mengaji.

Di kampus, semangatnya terlihat saat akan menjalani sidang skripsi. Menurut Yuni, dalam kondisi kurang sehat, dia sudah menelepon dosennya untuk menyatakan siap mengikuti sidang akhir, pada 24 Januari 2019. “Sebelumnya jadwal sidang sempat beberapa kali ditunda, karena dia sakit,” kisah Yuni.

Usai sidang, dia meminta orang tuanya untuk dirawat karena merasa sangat lelah. Sakit yang dideritanya adalah tifus. Dia masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia pada 5 Februari 2019.

embed from external kumparan

Sahabat dekat (Alm) Rina di kampus, Nisaul Khaira mengatakan terlalu banyak kenangan dan cerita berkesan bersama Rina semasa di kampus. "Selain sebagai seorang sahabat yang super simple dan perhatian luar biasa kepada sahabat-sahabatnya, dia juga motivator bagi saya," sebutnya kepada acehkini. []

Reporter: Husaini Ende