Foto: Gua Ek Luntie, Geopark Tsunami Purba Aceh
Minggu pagi, 26 Desember 2004 atau 15 tahun silam, bencana dahsyat gempa dan tsunami menghantam Aceh. Sebanyak 200 ribu lebih warga menjadi korban, setengah juta lainnya kehilangan tempat tinggal. Peristiwa itu diperingati saban tahun di Aceh, sambil belajar menguatkan pengetahuan siaga bencana.
Mengenangnya, acehkini menurunkan laporan khusus sepanjang Desember 2019-Januari 2020, tentang kenangan para penyintas, kesiagaan, lokasi yang remuk, rekontruksi, sampai kebangkitan warga setelahnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Nasional (BNPB), Letjen TNI Doni Monardo, bersama Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dan rombongan berkesempatan mengunjungi kembali Gua Ek Luntie, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, Sabtu (7/12).
Kunjungan dilakukan usai meninjau persiapan Launching Keluarga Tangguh Bencana (Katana) di Pasie Jantang, tak jauh dari lokasi Gua Ek Luntie.
Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) bakal menjadikan kawasan itu sebagai geopark tsunami purba. “Pembebasan lahan warga di sekitar Gua Ek Luntie sedang dilakukan, untuk menjadikannya kawasan geopark,” kata Sunawardi, Kepala BPBA.
Gua itu ditemukan para ilmuwan saat melakukan penelitian terkait keberadaan tsunami purba di Aceh. Gua Ek Luntie merekam beberapa jejak tsunami purba yang pernah melanda Aceh dulunya, sekitar tahun 900, 1349, 1450, 1797, 1833, 1907, dan terakhir pada 26 Desember 2004.
Jejak itu diketahui keberadaan lapisan guano di dalamnya. Hasil penelitian lapisan-lapisan tsunami, menyimpulkan bahwa pengulangan bencana tersebut di Aceh terjadi pada waktu tidak beraturan.
Bagaimana keindahan kawasan yang direncanakan sebagai geopark tsunami purba, lihat foto-fotonya yang diabadikan Sabtu (7/12). [] Abdul Hadi
