Gajah Liar di Aceh Rusak 2 Rumah dan Obrak-abrik Kebun Warga Nagan Raya

Kawanan gajah liar merusak dua rumah dan tanaman pertanian seperti sawit dan pisang di lima desa dalam Kecamatan Seunagan Timur, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Hewan dilindungi yang diperkirakan berjumlah belasan ekor itu memasuki areal perkebunan dan permukiman penduduk dalam sepekan terakhir.
Lima desa yang didatangi gajah liar tersebut adalah Desa Blang Tengku, Tuwi Meuleusong, Blang Lango, Kandeh, dan Kila.
Arifin, warga Desa Blang Lango, mengatakan kawanan gajah liar mendatangi permukiman penduduk sekitar pukul 22.00 WIB, nyaris setiap malam. Keberadaan hewan bertubuh besar di lingkungan perumahan membuat warga di sana resah dan khawatir diserang gajah.
“Kemarin saya sempat mau pergi kerja ke Banda Aceh, tapi akhirnya pulang lagi karena orang di rumah ketakutan dan kalau malam kadang-kadang di belakang rumah sering ada gajah,” kata Arifin, Senin (24/8).
Arifin menyebutkan, sebelumnya kawanan gajah liar itu hanya terlihat sekitar tiga bulan sekali di areal perkebunan dan permukiman penduduk, tidak sesering sekarang yang terlihat hampir setiap pekan. Ia berharap pemerintah segera mengatasi permasalahan tersebut.
Sementara itu, Kepala Resor Wilayah 13 Meulaboh, Seksi Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Zulkarnaini, menuturkan gajah liar di Nagan Raya itu adalah kawanan yang juga merusak perkebunan masyarakat di Aceh Barat.
“Sebelumnya konflik gajah liar ini di Aceh Barat, sekarang gajahnya sudah mengarah ke Nagan Raya,” kata Zulkarnaini dikonfirmasi acehkini, Senin (24/8) malam.
Menurutnya, BKSDA Aceh telah memberikan bantuan petasan kepada warga Desa Blang Lango, untuk mengusir gajah liar. Selain itu, lembaganya juga telah membahas penanganan konflik gajah liar ini dengan Pemerintah Kabupaten Nagan Raya.
Kabag Humas Kabupaten Nagan Raya, Muhammad Maksum, mengaku telah turun ke Desa Blang lango dan Tuwi Tuwi Meuleusong pada Minggu (23/8). "Melihat langsung memang banyak tanaman yang sudah rusak, warga juga terlihat ketakutan," katanya kepada acehkini.
Maksum menambahkan, pemerintah terus berupaya untuk menangani permasalahan ini. “Kami berharap, jika nantinya lima desa yang sering diserang gerombolan gajah liar tersebut akan menjadi tempat penangkaran gajah, kemudian tanaman yang sudah rusak segera diganti oleh pemerintah,” ujarnya.[] Siti Aisyah
