ICGR: 120 Pengungsi Rohingya Harus Diselamatkan
·waktu baca 2 menit

Sebanyak 120 pengungsi Rohingya masih terombang-ambing di perairan Kabupaten Bireuen, Aceh. Kapal yang mereka tumpangi diduga rusak mesin, mereka kemudian ditambatkan oleh nelayan setempat di salah satu rumpon laut.
International Concern Group for Rohingyas (ICGR) mendesak Pemerintah Indonesia menyelamatkan pengungsi Rohingya tersebut. “Biarkan mereka mendarat, jangan tolak mereka atau jangan kirim lagi mereka ke laut lepas. Apalagi kondisi mereka sebagian besar adalah anak anak dan perempuan. Ini persoalan hidup mati mereka,” kata Adli Abdullah, Sekretaris ICGR, Rabu (29/12/2021).
Menurut Adli, apapun alasannya mereka harus diselamatkan untuk tujuan kemanusiaan. “Saya juga dapat info Panglima Laot Bireuen lagi diminta keterangan polisi, mohon jangan kriminalkan nelayan dan panglima laot,” katanya.
Nelayan semata-semata membantu untuk alasan kemanusiaan, dan sesuai adat-istiadat yang mereka amalkan. Membantu dan memberi bagi yang membutuhkan di laut.
Adli meminta aparat kepolisian, TNI AL dan pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk segera menyelamatkan para pengungsi Rohingya ini. “Karena sudah berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan mereka berada di laut. Tiada orang yang senang mengungsi kalau tidak ada masalah di negaranya,” jelasnya.
ICGR juga mengajak negara di kawasan ASEAN agar proaktif menyelesaikan permasalahan Rohingya, agar tidak mengganggu kestabilan kawasan, dan pengungsi Rohingya tidak menjadi masalah setiap tahunnya.
Kapal pengungsi Rohingya terpantau nelayan Bireuen pukul 11 siang Ahad (26/12). Jaraknya sekitar 70 mil dari daratan antara Peulimbang dan Peudada, Kabupaten Bireuen. Nelayan langsung melaporkan ke aparat keamanan begitu melihat kapal Rohingya. []
