Konten Media Partner

Investasi di Aceh Rendah, BKPM: Saingannya Vietnam-Malaysia

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Acara Sharia Economic & Investment Outlook 2023 di Banda Aceh. Foto: Abdul Hadi/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Acara Sharia Economic & Investment Outlook 2023 di Banda Aceh. Foto: Abdul Hadi/acehkini

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan jumlah investasi di Aceh masih rendah dibanding daerah lain di Indonesia. Namun, meski posisinya di bawah, BKPM menilai saingan Aceh dalam menggaet investor sebenarnya adalah Vietnam, Thailand, hingga Malaysia.

Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM Indra Darmawan mengatakan, secara nasional posisi investasi Aceh pada peringkat 27 tahun 2022. Tidak berubah dari posisi lima tahun terakhir, yaitu penanaman modal asing di 24 dan penanaman modal dalam negeri di peringkat 21.

"Jadi masih di bawah sebenarnya. Lalu kita berpikir Aceh ini saingannya siapa ya, daerah lain. Kalau menurut saya, Aceh ini saingannya itu Vietnam. Terserah kalau kita masih mikir saingan kita masih Medan, masih Bengkulu," kata Indra Darmawan saat Sharia Economic & Investment Outlook 2023 yang digelar BSI di Aceh, Rabu (25/1).

kumparan post embed

Selain Vietnam, Indra menuturkan saingan Aceh lebih tinggi lagi, yaitu Thailand dan Malaysia. "Jadi kita berpikirnya harus ke arah sana supaya kita juga menjadi lebih besar lagi. Jangan terkotak-kotak dan jangan terlokalisir," ujarnya.

Data Kementerian Investasi/BKPM, pada 2022 jumlah realisasi investasi di Aceh Rp 6,2 triliun. Ini turun dari tahun 2021 yang mencapai Rp 10,9 triliun dan menjadi jumlah terbesar dalam lima tahun terakhir.

Pada 2017, realisasi investasi di Aceh sebesar Rp 1,1 triliun, 2018 sebesar Rp 1,9 triliun, 2019 sebesar Rp 5,7 triliun, dan 2020 sebesar Rp 9 triliun. Dibanding modal asing, tiap tahun, penanaman modal dalam negeri masih mendominasi di Aceh.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengakui Aceh menjadi provinsi yang masih kurang maksimal terkait realisasi investasi. "Jujur saya katakan investasi di Aceh itu belum maksimal," katanya.

Bahlil mengungkapkan sebenarnya sudah ada beberapa investor yang tertarik masuk ke Aceh. Namun, mereka tiba-tiba batal menanamkan investasinya. Misal, investor dari Uni Emirat Arab. []