kumparan
11 Jul 2019 13:55 WIB

Jalan Panjang Jamblang, Obat Hitam Warisan Dewa Murga (2)

Jamblang atau jambu keling ternyata berasal dari India. Bibitnya dibawa para saudagar dulu, lalu tumbuh subur di Indonesia. Buahnya hitam, berkhasiat sebagai obat. acehkini menelusuri jejaknya dari India sampai ke Aceh.

Buah jamblang dari Krueng Raya, dijual di jalanan pusat Kota Banda Aceh. Foto: Suparta/acehkini
Pohonnya tumbuh lambat, tingginya mencapai 30 meter, dan bisa bertahan hidup hingga seratus tahun. Daunnya lebat, berwarna merah muda saat pertama tumbuh kemudian berubah menjadi hijau tua. Di beberapa tempat, daun ini kerap menjadi makanan ternak. Menurut The Encyclopedia Of Fruit & Nuts, daunnya mempunyai nilai gizi yang baik bagi ternak.
ADVERTISEMENT
Umumnya, pohon jamblang berbunga dari akhir Februari sampai sebulan kemudian. Buah mulai tumbuh pada April, terus ada sampai Agustus. Buahnya berbentuk bulat, hitam setelah matang. Saat dimakan terkadang meninggalkan warna ungu di lidah. Mempunyai kombinasi rasa manis dan asam serta klat. Dalam buku The Useful Native Plants of Australia, disebutkan bahwa buah ini banyak dimakan oleh penduduk dari India. Menjadi makanan favorit bagi burung dan kelelawar besar.
Benih bunga dan biji buah ini sering digunakan dalam pengobatan kuno India atau Ayurveda, Unani dan pengobatan tradisional Tiongkok. Bijinya dapat menjadi obat diabetes.
Pohon jamblang di Aceh Besar. Foto: Khiththati/acehkini
Penggunaan biji jamblang sebagai obat bukanlah hal yang baru. Rada Khisna, warga Banda Aceh keturunan Tamil India yang tinggal Gampong Keudah, sudah mengetahuinya sejak lama. “Orang di Tamil menggunakannya sebagai obat berbagai penyakit sejak dahulu kala,” katanya.
ADVERTISEMENT
Beberapa penelitian menyebutkan, buah ini kaya akan sumber protein, vitamin, antioksidan, flavonoid, mangan, kalium, fosfor, dan kalsium. Karenanya, buah ini membantu melawan kanker, diabetes, infeksi, dan masalah hati. Penelitian yang dilakukan oleh Central Drug Research Institute di Lucknow, India, menemukan adanya zat yang bisa menurunkan kadar gula darah dalam biji jamblang.
“Pembuatan obatnya dilakukan secara tradisional begitu juga dengan obat diabetes,” ungkap Rada Krisna.
Menurutnya, ekstrak kulit kayu, daun, dan biji dicampur dan ditumbuk setelah disangrai. Kombinasi ini dapat mengurangi kadar glikosuria dan gula darah. “Diminum seperti cara meminum teh,” tambahnya lagi.
Jus dari jambe kleng mengandung fitokimia bioaktif yang meminimalkan risiko kanker dan penyakit hati. Dipakai untuk obat kumur untuk menghilangkan bau mulut. Buah yang sudah dipenyet dan dihaluskan bisa dipakai untuk pengobatan pendarahan gusi.
ADVERTISEMENT
Berbuah pada musim panas, di beberapa daerah di India, buah ini disebut Jamun atau Jambu dalam bahasa sanskerta. “Kalau dalam bahasa Gujarat kami menyebutnya Jamboon, ini digunakan sebagai obat tradisional sejak lama, sewaktu kecil suka makan sampai lidah berwarna ungu,” kisah Ram Varma saat ditemui acehkini di Ahmedabad, Negara Bagian Gujarat, India.
Si hitam ini juga disebut buah dewa di Hindustan. Sering hadir dalam upacara adat dan keagamaan, di kuil-kuil negeri Bollywood.
Jamblang dijual di Pasar Ahmedabad, Gujarat, India. Foto: Khiththati/acehkini
Para pemeluk agama Hindu di Aceh juga demikian. “Iya jamblang juga sering dipakai dalam acara keagamaan, seperti di sini (Kuil Hindu Tamil di Banda Aceh),” jelas Rada Krisna.
Jamblang disebut sebagai buah kesukaan Dewa Murga yang mereka puja. Makanya saat musimnya, buah jamblang kerap dibeli dalam jumlah banyak dan membawanya ke ke Kuil Palani Andawer yang dijaganya, di Gampong Keudah, Banda Aceh.
ADVERTISEMENT
Dewa Murga banyak dipuja di kawasan Tamil, dirinya merupakan dewa vegetarian. Jamblang merupakan salah satu buah yang sering disajikan di kuilnya. “Dulu ada acara Tamil besar di sini dan mengundang pendeta dari Malaysia, mereka terkejut ada buah ini karena sudah lama tidak dilihat,” kisah Rada.
Tradisi pemujaan terhadap Dewa Murga oleh warga Hindu Tamil di Banda Aceh. Foto: Suparta/acehkini
Tentang jamblang, juga tercatat dalam Mahabrata dengan sebutan Jambulaakhyan. Menurut Rada, ada beberapa buah-buahan yang menjadi vegetasi di India, namun tumbuh subur di Aceh pesisir. Hal ini juga menjadi salah satu pertanda bahwa dulu banyak penduduk Tamil dan India lainnya yang pernah bermukim di sana. Saat mereka bermigrasi pada masa lalu, ikut membawa beberapa buah-buahan penting bagi mereka.
“Selain jamblang juga ada buah batok yang dipakai untuk rujak itu, lain mungkin masih banyak tapi saja juga belum mendengar ceritanya,” ungkap Rada.
ADVERTISEMENT
acehkini menemukan banyak buah batok dijual di pasar-pasar India. Buah ini mujarab sebagai obat herbal dan tradisional, dikenal dengan nama 'bael', juga disebut sebagai buah dari 'bengala'. Pohon ini telah dibudidayakan di sepanjang Asia Tenggara melalui migrasi penduduk. Bisa dibuat jus dengan campuran lain seperti lemon, atau dimakan mentah seperti salad. Selain itu juga sering dijadikan menu untuk minuman kulki sharbat, khas India Selatan.
Dulu bubuk kering bael mentah dicampur dengan kunyit dan ghee, dapat jadi obat oles untuk mengobati patah tulang. Jika buah mentah diiris, kemudian dikeringkan, ampuh sebagai obat disentri, dan masalah pencernaan lainnya. Kegunaan lainnya sebagai pengontrol gula darah, kolestrol, mempunyai anti inflamasi alami serta dapat menyembuhkan diare, kolera, wasir, vitiligo, dan lainnya. Saat musim panas jusnya biasa dipakai untuk menurunkan suhu tubuh.
Buah batok dijual di Pasar Ahmedabad, Gujarat, India. Foto: Khiththati/acehkini
“Makanya kalau dilihat buah-buahan ini banyak tumbuh di lokasi daerah Lamuri, di Lamreh (wilayah Krueng Raya, Aceh Besar) sana, tempat di mana orang-orang dari India dulunya pernah bermukim,” kata Rada.
ADVERTISEMENT
Jika jamblang dekat dengan ritual Dewa Murga di daerah Tamil, dan Dewa Wisnu di negara bagian Andhra Pradesh. Maka bael juga buah yang dipakai dalam acara keagamaan Hindu. Pohonnya dianggap sebagai rumah Dewa Lakshmi atau dewa kemakmuran. Menjadi pohon suci, hingga banyak ditemukan di dekat kuil dan kebun rumah. Dalam kisahnya, pohon ini juga disenangi Dewa Siwa.
Dedi Satria, seorang arkeolog yang terlibat dalam penggalian situs Lamuri di Lamreh, Aceh Besar, mengatakan kemungkinan memang ada migrasi dan perkampungan orang-orang Tamil dan India di kawasan itu, bisa dibuktikan dengan temuan temuan barang-barang masa lalu, juga tumbuhan di sekitarnya. “Memang penelitian botani belum pernah dilakukan untuk Lamuri, tapi ini bisa jadi awal yang baik,” ungkap Dedi.
ADVERTISEMENT
Namun, kata Dedi, ada beberapa temuan otentik seperti guci, tembikar, kaca-kaca, dan ini temuan yang tidak bisa disangkal, bahwa pengaruh India sangat kuat di Aceh sejak dulu. [bersambung]
Reporter: Khiththati
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan