Konten Media Partner

Kasus Corona di Aceh Terus Meningkat, Satgas Ingatkan Kembali Tausiah MPU

ACEHKINIverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tenaga kesehatan membawa pasien gejala corona ke Poliklinik Pinere RSUDZA Banda Aceh, Minggu (18/4/2021) malam. Foto: Husaini Ende/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Tenaga kesehatan membawa pasien gejala corona ke Poliklinik Pinere RSUDZA Banda Aceh, Minggu (18/4/2021) malam. Foto: Husaini Ende/acehkini

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Aceh Saifullah Abdulgani menyampaikan, virus corona tampak leluasa bergerak di tengah masyarakat Aceh yang sedang menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1442 Hijriah. Kasus konfirmasi positif COVID-19 terus bertambah dan meningkat setiap hari. Virus corona kembali menulari 86 orang dalam 24 jam terakhir di Aceh.

"Ada prakondisi yang membuat virus corona leluasa berpindah dari satu orang kepada orang lain selama Ramadhan," ujar jubir yang akrab disapa SAG dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/4) malam.

Menurutnya, salah satu prakondisi tersebut, makanan berbuka puasa yang dijual tanpa pembungkus. Calon pembeli memilih-milih dengan tangannya bukan dengan menggunakan jepitan khusus.

"Sepotong kue, misalnya, mungkin sudah disentuh beberapa orang sebelum akhirnya dibeli oleh seseorang dan dibawa pulang," sebutnya.

Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Aceh Saifullah Abdulgani (SAG). Foto: Dok. Humas Setda Aceh

SAG mengatakan, para pembeli penganan berbuka itu umumnya tidak menjaga jarak dan tidak memakai masker. Bila ada satu saja di antara pembeli itu merupakan pembawa virus corona (carrier) yang berbicara atau bersin dalam kerumunan itu, virus corona menyebar dengan leluasanya.

Kemudian, tradisi berbuka puasa bersama di Meunasah dan Masjid masih berlangsung dalam masa pandemi COVID-19 ini. Potensi penularan viris corona bisa terjadi karena duduk berdekatan saat berbuka puasa dan tidak mungkin orang memakai masker.

"Kami juga mengamati masih banyak jamaah salat Magrib dan Tarawih tidak menjaga jarak dan menggunakan masker," katanya.

kumparan post embed

Menurut SAG, kondisi ini mestinya tidak perlu terjadi andai Tausiah Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Nomor 2 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Ibadah Bulan Ramadhan dan Kegiatan Keagamaan Lainnya Tahun 1442 H, dipatuhi semua elemen masyarakat, pengurus, dan pengelola rumah ibadah.

MPU Aceh dalam tausiahnya meminta kepada setiap komponen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan diri, keluarga, dan lingkungan, serta menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan halal, baik, dan bergizi. Makanan basah yang dijual tanpa pembungkusnya tentu bukan makanan yang baik, karena tidak higienis.

Ia menambahkan, MPU Aceh juga meminta kepada pengurus dan pengelola rumah ibadah untuk menciptakan kenyamanan beribadah dengan memperhatikan protokol kesehatan dan meningkatkan kesadaran serta kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

Jangan kendor! (Adv Pemerintah Aceh)

Sementara terkait dengan jaga jarak, lanjut SAG, MPU Aceh meminta kepada setiap komponen masyarakat untuk tidak melaksanakan kegiatan keramaian seperti duduk-duduk, kumpul-kumpul bersama di jalan, buka puasa bersama, sahur bersama, dan safari subuh dan lainnya.

"Tausiah MPU Aceh ini merupakan upaya menghilangkan prakondisi agar virus corona tidak leluasa menularkan COVID-19 kepada masyarakat yang sedang berpuasa," kata SAG.

Update Data COVID-19 di Aceh

Selanjutnya, SAG menyampaikan data akumulatif kasus COVID-19 di Aceh per 22 April 2021 sudah tercatat sebanyak 10.516 kasus. Para penyintas yang sudah sembuh sebanyak 9.083 orang. Pasien dirawat (kasus aktif) sebanyak 1.015 orang, dan kasus meninggal dunia sebanyak 418 orang.

"Data akumulatif tersebut sudah termasuk penambahan 87 kasus konfirmasi baru, kasus sembuh bertambah sebanyak 105 orang, dan kasus meninggal dunia bertambah sebanyak dua orang dalam masa 24 jam terakhir," sebutnya.

kumparan post embed