Kenangan pada Fotografer Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Profesi Tergusur Ponsel

Artikel tentang fotografer keliling di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Aceh, yang tayang di acehkini Ahad (14/3) lalu mendapat respons beragam dari pembaca. Sebagian besar mereka bercerita soal kenangan pernah menggunakan jasa juru foto ini.
Kini, profesi fotografer keliling di masjid termegah Aceh kian tergusur. Jasa mereka jarang dipakai pengunjung, tergantikan kamera ponsel. Baca artikel berikut:
Sehari berselang, acehkini mengunggah pengumuman di kanal media sosial: mengajak pembaca membagikan kenangan mereka ketika menggunakan jasa fotografer Masjid Raya Baiturrahman. Bagi warga Aceh, profesi juru foto di rumah ibadah bersejarah di Tanah Seulanga ini sangat familier.
Sebabnya, ada sebuah kalimat 'keramat' yang tumbuh di tengah masyarakat: "Hana sah lom jak u Banda meunyo hana foto di Masjid Raya." Bila diterjemahkan, kira-kira begini maknanya: Belum sah berkunjung ke Banda Aceh kalau belum berfoto di Masjid Raya Baiturrahman. Karena itu, berfoto di halaman Masjid Raya seakan ‘wajib’.
Setelah pengumuman itu, kami menerima banyak kenangan dari pembaca. Misalnya dari akun Instagram @iky_oya_rizkiaulia yang mengirim gambar hasil potret anaknya di halaman Masjid Raya Baiturrahman pada 2019 dan 2020.
"Fotografer Masjid Raya mengingatkan saya dulu waktu kecil dibawa ayah ke Banda Aceh pas lebaran Idul Fitri. Saya difoto sama fotografer Masjid Raya. Sekarang saya sudah punya anak, dan anak saya pun saya fotokan di Masjid Raya, supaya mengingat foto ayahnya waktu kecil dulu," tulisnya.
Akun @taqy_02 mengirim hasil potret bersama keluarganya yang direkam pada 2020. "Kenangan yang tidak akan pernah terlupakan," katanya. Foto bersama keluarga juga dikirim akun @fatma_wetty. "Hasil jepretan fotografer Masjid Raya, sebelum COVID-19," tulisnya.
Sementara akun @itsme_ikbal mengirim hasil potret dalam Masjid Raya Baiturrahman bersama keluarganya pada 2010. Ia mengingatkan agar tidak perlu khawatir tidak ada pemotret kalau berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman. "Karena banyak yang menawarkan jasa foto dan langsung dicetak di tempat alias langsung jadi," sebutnya.
Sebagian pengguna jasa fotografer masjid raya di masa lalu, berrjanji akan mengirim file fotonya. “Harus membongkar album-album lama, masih mencari-cari ini, belum nemu,” kata Juanda, yang mengaku pernah berposes di sana pada 1994.
Nah, apakah Anda punya kenangan serupa seperti mereka? Sila kirimkan ke kami melalui akun instagram @acehkini untuk ditayang di laporan selanjutnya. []
