Kisah Dosen di Aceh: Antisipasi Krisis Pangan Akibat Pandemi dengan Berkebun

Keinginan berkebun sudah dipendam Reza Idria sejak lama. Pandemi Corona yang melanda Indonesia sejak awal Maret lalu membuat rencana itu akhirnya terwujud. Di lahan seluas 700 meter persegi, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, ini menanam beragam jenis sayuran.
"Saya tentu khawatir dengan kemungkinan virus outbreak (pandemi) dan terjadinya krisis pangan, lebih tepatnya krisis sayur mayur yang merupakan menu makan favorit saya," ujar Reza kepada acehkini, Minggu (5/7).
Kekhawatiran Reza itu sebuah hal yang wajar, karena sebagian besar sayuran di Aceh dipasok dari Sumatera Utara. Ia mengaku sempat cemas bila pemerintah membatasi pergerakan orang keluar-masuk Aceh yang mengakibatkan komoditas dari luar susah dipasok.
"Jika terjadi lockdown, saya kira minimal dengan berkebun akan memenuhi kebutuhan sayur-mayur untuk keluarga sendiri," tuturnya.
Oleh karenanya, sekitar Mei lalu Reza menyiapkan lahan yang tak jauh dari tempat tinggalnya di kawasan Lampriet, Kota Banda Aceh. Setelah Lebaran, ia mulai menyemai bibit sayuran. Memasuki bulan kedua, kini sayuran itu mulai tumbuh membesar. Sebagiannya hampir memasuki waktu panen.
Lahan yang Reza gunakan baru perdana dijadikan sebagai kebun. Ia masih mencoba jenis tanaman yang cocok dengan kondisi tanah di sana. Selain sayuran, ke depan ia mengaku akan menyemai bibit tanaman buah.
"Tanaman yang ditanam saat ini di antaranya mentimun, semangka, jagung, labu air, pumpkin, okra, pakcoy, bayam, tomat, kangkung, dan terong ungu," katanya.
Menurut doktor dari Departemen Antropologi Universitas Harvard ini, berkebun merupakan bagian dari bekerja dari rumah di tengah pandemi. Selain itu, kegiatan ini dinilai ampuh meredakan stres di tengah angka positif COVID-19 yang terus melonjak.
Reza belum berpikir untuk menjual hasil kebunnya itu, tapi hanya akan dikonsumsi pribadi. Namun selebihnya akan disumbangkan untuk tetangga dan kerabat yang kerap mengunjungi kebunnya.
"Selain untuk konsumsi, kebun mini ini ingin saya jadikan sebagai taman edukasi bagi anak-anak saya yang juga kehilangan ruang bermain selama pandemi," ujarnya.
Ia mengajak masyarakat yang sebelumnya tak berkebun, agar menjadikannya sebagai kegiatan sampingan di luar pekerjaan. Modal yang harus dirogoh sangat relatif, tergantung luas lahan.
Menurutnya, bagi yang tak punya lahan kosong, kini banyak alternatif untuk bercocok tanam. Misalnya hidroponik dan aquaphonik. "Bibit tanaman biasanya tersedia di mana-mana dan harganya sangat terjangkau," jelas Reza.
Karena kebun organik, untuk pemupukan Reza memanfaatkan tandan rebusan sawit, kotoran kandang, dan pupuk kompos racikan sendiri. Saat ini ia sedang mencoba menghalau hama serangga tanpa menggunakan pestisida.
"Beberapa trik dengan bahan alami saya pelajari dari YouTube dan saya kembangkan sendiri. Internet menyediakan banyak sekali ilmu berkebun," katanya.
Nah, bagaimana Anda tertarik mencoba berkebun sembari menghabiskan waktu luang di rumah saja selama pandemi?
