Pencarian populer
PUBLISHER STORY
13 Agustus 2019 21:29 WIB
1
0

Kisah Eks GAM Saat Konflik Aceh: Hadapi TNI, Berguru pada Burung (5)

Konflik panjang berakhir di Aceh setelah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia sepakat damai di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005 silam, dikenal dengan “Memorandum of Understanding” (MoU) Helsinki. Memperingati 14 tahun damai Aceh, sepanjang Agustus 2019, redaksi acehkini menurunkan laporan kilas balik konflik. Tentang korban, penyintas, dan kenangan para pihak bertikai. Bukan untuk mengungkit luka lama, tapi untuk belajar agar perang tak terulang.

Air terjun Kuta Malaka, pernah menjadi lokasi markas GAM Aceh Besar masa konflik Aceh.
Pengepungan aparat TNI/Polisi menjadi semakin sering di masa darurat militer. Waktu demi waktu mengajarkan para kombatan bagaimana bertahan hidup dan mengetahui kapan lawan masuk menyerang ke markas. Salah satunya adalah belajar dari tingkah makhluk Tuhan, hewan-hewan hutan.
ADVERTISEMENT
Pengalaman berguru pada burung dan monyet-monyet, dikisahkan kembali oleh mantan Juru Bicara GAM Aceh Rayeuk, Irwansyah alias Tgk Muchsalmina kepada saya, dalam beberapa kesempatan setelah damai hadir di bumi Serambi Makkah.
Belajar dari aneka burung misalnya. Kelamaan di hutan, mereka dapat mempelajari dan membedakan mana suara burung yang sedang bermain maupun suara burung yang yang menandakan adanya manusia baru yang masuk hutan. “Burung juga mudah membedakan kami yang sudah sering di hutan dengan pendatang,” katanya.
Sebuah kisah menjelang Ramadan 2004, kata Irwansyah, mereka kekurangan logistik dan mencoba turun ke desa untuk mengambil bahan makanan. Dia turun bersama empat rekan GAM dengan senjata lengkap. Ketika melewati hutan terakhir yang berbatas dengan perkampungan, mereka memantau situasi sambil melihat burung dan binatang lainnya.
Irwansyah (kedua kanan) saat menjadi perwakilan GAM di Aceh Monitoring Mission (AMM) tahun 2005, sesaat setelah damai Aceh. Dok. Muchsalmina
Aneh, tidak ada burung yang didapati, padahal sebelumnya selalu ramai berterbangan. Irwansyah curiga, “kok hari ini tidak ada burung-burung ya?” dia bertanya kepada temannya. Mereka semakin waspada.
ADVERTISEMENT
Saat itu, Irwansyah mengambil kesimpulan ada pasukan TNI/Polisi yang berada di sana. Tak lama kemudian, mereka melihat monyet-monyet berjalan di tanah, ada juga yang di atas pohon, tidak ada reaksi ketakutan pada hewan itu. Kami mengintip dalam semak, ternyata ada pasukan TNI yang sedang beristirahat sambil tiduran.
Agaknya, aparat kemudian mengetahui keberadaan mereka. Lalu pasukan diperintahkan Irwansyah untuk menyerang sambil mundur, mengingat kekuatan GAM yang sedikit. Pecahlah kontak senjata, monyet-monyet riuh menjauh. “Kami masuk hutan kembali, gagal mencari logistik di perkampungan,” kisahnya.
Tingkah hewan hutan menjadi petunjuk berguna bagi kombatan, untuk mengetahui keberadaan TNI jika melakukan penyerangan ke markas mereka di hutan. Burung selalu memberi tanda jika ada tentara. “Itu sebabnya sampai kini, saya menyukai memelihara burung-burung di rumah, karena merasa sangat dekat,” kata Irwansyah.
ADVERTISEMENT
Masa darurat militer, intensitas pengepungan terhadap markas GAM di Aceh Besar tak tentu, sebulan bisa tiga sampai empat kali, tapi minimal sekali dalam sebulan terjadi pertempuran. Saat pengepungan itulah para kombatan akrab dengan alam dan hewan-hewan. Diguyur hujan dan tidur beratap langit hal biasa dialami pasukan saat penyerangan.
Terkadang, mereka harus tidur di alur-alur sungai kecil yang diyakini airnya tidak akan meluap. “Pernah suatu kali, saya terbangun dengan air yang sudah membasahi sampai ke dada, basah kuyup jadinya. Sejak saat itu saya jera tidur di alur,” kisahnya. [bersambung]
Reporter: Adi Warsidi
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.81