kumparan
18 Jun 2019 15:54 WIB

Lokasi PLTA Tampur di Aceh Sering Dilintasi Gajah

Saksi diambil sumpah sebelum memberi kesaksian pada persidangan lanjutan gugatan Walhi di PTUN Banda Aceh, Selasa (18/6). Foto: Habil Razali/acehkini
Amiruddin, warga Desa Pining, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, menyebutkan lokasi pembangunan Perusahaan Listrik Tenaga Air (PLTA) Tampur, di Kecamatan Pining, merupakan kawasan pelintasan satwa liar, terutama gajah.
ADVERTISEMENT
"Yang paling sering terlihat di situ gajah. Kalau harimau jarang," kata Amiruddin saat memberikan kesaksiannya pada persidangan lanjutan gugatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) atas Gubernur Aceh terkait pemberian Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) untuk pembangunan PLTA Tampur-I, di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Banda Aceh, Selasa (18/6).
Sidang gugatan bernomor 7/G/LH/2019/PTUN.BNA dengan agenda mendengar pengakuan saksi dari penggugat, itu digelar pada Selasa (18/6) pukul 11.00 WIB.
Kawasan PLTA Tampur-1 di Gayo Lues, Aceh. Dok Walhi Aceh
Walhi selaku penggugat menghadirkan Amiruddin, warga Desa Pining, Kecamatan Pining, yang tidak jauh dari lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tampur-I, di Kecamatan Pining.
Sidang ke-12 tersebut dipimpin Majelis Hakim: Muhammad Yunus Tazryan, Fandy Kurniawan Pattiradja, dan Miftah Saad Caniago.
ADVERTISEMENT
Amiruddin dalam kesaksiannya menuturkan, PLTA Tampur-I yang bakal membendung sungai Lesten akan mengganggu sumber kehidupan masyarakat di sana yang mencari ikan di sungai. "Air sungai itu sumber kehidupan masyarakat setempat. Di sana ada sungai-sungai kecil, bisa menghasilkan ikan," ujar dia.
Ia menambahkan, tahun 2006 Kecamatan Pining pernah dilanda banjir bandang yang merendam sembilan desa. Banjir itu banyak menghanyutkan kayu besar. Banjir itu diduga karena maraknya penebangan liar di hutan Lesten.
Seorang Warga Pining memberi kesaksian pada persidangan lanjutan terkait pemberian Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) untuk pembangunan PLTA Tampur-I di PTUN Banda Aceh. Foto: Habil Razali/acehkini
Di lokasi yang direncanakan bakal dibangun PLTA Tampur-I, sebut dia, saat ini sudah terdapat dua bangunan, seperti pondok-pondok kayu. Bahkan saat melintas menggunakan perahu di sungai Lesten menuju Tampur, Amir mendengar suara pengeboran di kawasan itu.
"Saya dengar suara pengeboran. Lalu saya tanya yang bawa boat sama Sabri warga Lesten. Dia bilang di situ ada bor. Menurut penyampaian Sabri, gunung yang dibor," kata Amiruddin.
ADVERTISEMENT
Usai mendapat kesaksian dari Amiruddin, majelis hakim menutup persidangan. Sidang selanjutnya bakal digelar Selasa, 25 Juni 2019, dengan agenda mendengar kesaksian fakta dan saksi ahli dari penggugat.
Suasana persidangan lanjutan gugatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) atas Gubernur Aceh terkait pemberian Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) untuk pembangunan PLTA Tampur-I di PTUN Banda Aceh, Selasa (18/6). Foto: Habil Razali/acehkini
Sebelumnya, Walhi Aceh menggugat Gubernur Aceh atas penerbitan Keputusan Gubernur Aceh Nomor 522.51/DPMPTSP/1499/IPPKH/2017 tentang Pemberian IPPKH dalam rangka pembangunan PLTA Tampur-I (443 MW) seluas lebih kurang 4.407 hektare atas nama PT KAMIRZU di Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tamiang, dan Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh tanggal 09 Juni 2017.
PLTA Tampur-I memiliki luasan genangan mencapai 4.070 hektare dengan ketinggian bendungan mencapai 193 meter. Izin tersebut diterbitkan oleh Gubernur Aceh periode sebelumnya, Zaini Abdullah di akhir masa jabatannya. Dalam hal ini, Walhi mengajukan gugatan ke Gubernur Aceh yang tengah menjabat saat ini, dalam kapasitasnya sebagai Kepala Pemerintahan di Aceh.
ADVERTISEMENT
Dalam melayangkan gugagat tersebut, Walhi menggandeng sembilan pengacara dan bekerja sama dengan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HaKA). Walhi menilai Gubernur Aceh telah melampaui kewenangan dan perusahaan yang ditunjuk belum melunasi kewajibannya.[]
Reporter: Habil Razali
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·