Memorialisasi 'Rumoh Geudong', Tempat Penyiksaan Kejam Saat Konflik Aceh

Konten Media Partner
3 Maret 2020 21:10
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tugu Rumoh Geudong. Foto: Khairul/KontraS Aceh
zoom-in-whitePerbesar
Tugu Rumoh Geudong. Foto: Khairul/KontraS Aceh
ADVERTISEMENT
Mengenang salah satu lokasi penyiksaan kejam masa konflik Aceh, 1.500 warga berkumpul dalam acara Memorialisasi di Rumoh Geudong, di Gampong Bilie Aron, Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh, Selasa (3/3/2020).
ADVERTISEMENT
Acara diinisiasi oleh Yayasan Pengembangan Aktivitas Sosial Ekonomi Masyarakat Aceh (PASKA), dihadiri oleh korban Rumoh Geudong, keluarga korban, anak yatim, dan warga sekitar. Sejumlah pejabat ikut hadir seperti Anggota DPR RI asal Aceh, Nasir Djamil dan Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah, serta perwakilan dari Komnas HAM, Komnas Perempuan, perwakilah Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan sejumlah pejabat daerah lainnya.
Direktur PASKA, Farida Haryani, mengatakan memorialisasi Rumoh Geudong telah digelar rutin sejak 2017. Mengambil momen peringatan International Day for the Right to the Truth concerning Gross Human Rights Violations and for the Dignity of Victims atau Hari Internasional untuk Hak Atas Kebenaran dan Martabat Korban Pelanggaran Berat HAM, kerap disebut sebagai Hari Kebenaran Internasional.
ADVERTISEMENT
Hari tersebut umumnya diperingati seluruh dunia pada 24 Maret. “Kami memperingatinya lebih cepat, sesuai kesepakatan korban dan keluarga korban yang umumnya sedang sibuk di sawah,” katanya.
Menurut Farida, peringatan tragedi Rumoh Geudong juga disertai dengan doa bersama, santunan anak yatim, serta kenduri bersama sebagai ajang silaturahmi para korban, keluarga korban dan masyarakat sekitar.
Farida Haryani, Direktur PASKA dalam acara Memorialisasi Rumoh Geudong di Pidie. Dok PASKA
zoom-in-whitePerbesar
Farida Haryani, Direktur PASKA dalam acara Memorialisasi Rumoh Geudong di Pidie. Dok PASKA
Para korban dan keluarga korban masih menaruh harapan kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib mereka. Di antaranya mereka menuntut kesempatan pendidikan buat anak-anak korban, pemulihan trauma yang belum selesai, dan kesejahteraan buat keluarga korban dan korban.
Mereka juga meminta tanah tempat lokasi Rumoh Geudong dibeli pemerintah, untuk dijadikan warisan sejarah masa lalu Aceh. “Karena lokasi ini menjadi bersejarah buat mereka, tempat berkumpul, dan tempat berdoa bagi keluarga mereka yang meninggal dan hilang saat konflik,” kata Farida.
ADVERTISEMENT
Sebuah tugu juga telah didirikan pemerintah dan warga di sana untuk mengingat sejarah masa lalu. Tugu diresmikan pada 12 Juli 2018.
Korban dan keluarga korban berkumpul di Rumoh Geudong. Foto: PASKA
zoom-in-whitePerbesar
Korban dan keluarga korban berkumpul di Rumoh Geudong. Foto: PASKA
Tragedi Masa DOM Aceh
Tragedi Rumoh Geudong di Aceh dikenal sebagai tragedi memilukan sepanjang tahun 1998-1998. Nama Rumoh Geudong merujuk pada sebuah rumah panggung tradisional Aceh, peninggalan Uleebalang (bangsawan) di Pidie.
Saat konflik Aceh, rumah itu menjadi markas TNI sejak April 1989 sampai status Daerah Operasi Militer (DOM) dicabut di Aceh pada 7 Agustus 1998, di era reformasi. Selama menjadi kamp militer, seribuan warga diduga pernah disiksa, meninggal dan hilang setelah dibawa ke Rumoh Geudong.
Miniatur Rumoh Geudong seperti aslinya. Foto: Khairul/KontraS Aceh
zoom-in-whitePerbesar
Miniatur Rumoh Geudong seperti aslinya. Foto: Khairul/KontraS Aceh
Untuk membongkar kekerasan dan pelanggaran HAM masa DOM di Aceh, Pemerintah Indonesia di masa Presiden BJ Habibie, kemudian membentuk Tim Pencari Fakta dari Komnas HAM. Tim yang dipimpin Baharuddin Lopa sempat berkunjung ke Rumoh Geudong pada 20 Agustus 1998, (sebagian menyebutkan 21 Agustus 1998), untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM di sana.
ADVERTISEMENT
Tim Pencari Fakta menemukan sejumlah bukti terjadinya pelanggaran HAM berat di Rumoh Geudong, seperti kabel listrik, balok kayu berukuran 70 sentimeter, bercak darah pada dinding rumah dan pepohonan. Tim juga menggali beberapa titik yang diduga kuburan korban pelanggaran HAM. Namun hanya menemukan serpihan tulang dan kerangka manusia, tulang jari, tangan.
Ribuan massa ikut melihat kerja Tim Pencari Fakta saat itu. Tetapi setelah tim tersebut bergerak pulang meninggalkan lokasi, massa kemudian ikut membakar Rumoh Geudong, hingga tak tersisa. Tidak diketahui alasan pasti kenapa massa membakar tempat tersebut. []
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020