Mengapa Aceh Terpuruk di MTQ Nasional 2020?

Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional 2020 di Provinsi Sumatera Barat telah usai pada Jumat (20/11) malam. Tuan rumah keluar sebagai juara umum. Sedangkan Aceh menduduki peringkat ke-20 dengan seorang finalis. Hasil Aceh ini sangat terpuruk bila dibandingkan dengan perolehan di ajang yang sama pada 2018 di Sumatera Utara yang menduduki peringkat ke-7.
Lantas, mengapa Aceh, daerah yang menerapkan syariat Islam, begitu terperosok pada perlombaan islami kali ini?
Sebelum peserta mengadu kehebatan dan juri belum mengumumkan hasil perlombaan, Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengaku sama sekali tak punya target dalam MTQ Nasional 2020. "Target kita tidak ada. Tapi kita harus tampil lebih baik dari MTQ sebelumnya di Medan," katanya dalam keterangan tertulis kepada awak media, Minggu (15/11).
Saat mengunjungi peserta MTQ di Sumatera Barat, Nova menitip tiga pesan untuk kafilah Aceh. "Pertama jaga kesehatan, kedua tampil dengan sebaik-baiknya, dan ketiga jalin silaturahim dengan seluruh kafilah," ujarnya.
Dalam perhelatan MTQ Nasional 2020, Aceh mengirim 118 orang yang terdiri dari peserta dan tim ofisial. Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Alidar, menyebut jumlah ini adalah komposisi lengkap, sehingga Aceh mengikuti semua cabang yang diperlombakan.
Berbeda dengan Nova, Alidar punya target tersendiri. "Insyaallah kita berharap posisi Aceh lebih baik dari MTQ ke-27 di Medan. Di mana pada saat itu, kita berada di posisi tujuh. Kita berharap di Padang ini, meskipun suasana COVID-19 kita bisa meraih lebih baik, bisa masuk rangking enam hingga empat," sebutnya, Minggu (15/11).
Lalu bagaimana persiapan menjelang perlombaan? Alidar mengatakan selama ini pelatihan secara tatap muka hanya dilakukan selama 12 hari, mengingat adanya pandemi COVID-19. Namun, ia mengklaim para pelatih tetap berinisiatif memberi pelatihan dengan cara daring.
Kelemahan Aceh di Pengkaderan Peserta
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Teungku Faisal Ali, menilai hasil buruk yang diperoleh Aceh di MTQ Nasional 2020 karena pengkaderan peserta hanya dilakukan menjelang perlombaan. Sehingga peserta yang diambil untuk mengikuti musabaqah adalah orang-orang yang selama ini dilatih oleh masyarakat, bukan pemerintah.
"Pengkaderan yang dilakukan kadang-kadang menjelang, bukan pekerjaan. Saya kira metode pengkaderan kita misalnya mengambil (peserta) yang sudah dikaderkan oleh masyarakat. Jadi itu jangan," kata ulama yang sering disapa Lem Faisal ini kepada acehkini, Senin (23/11).
"Ke depan itu kita harus buat semacam betul-betul tempat pengkaderan untuk musabaqah. Bukan bentuknya sambilan. Dan anak itu dari awal sudah dipantau, jadi jangan cuma diambil di akhir."
Kendati demikian, Lem Faisal menyebut saat ini tidak ada pihak yang disalahkan. Menurutnya juga sangat tidak baik bila kemudian menyalahkan peserta atau pemerintah. Menurutnya, yang harus dilakukan sekarang adalah evaluasi atas kegagalan di Sumatera Barat supaya menjadi lebih baik pada MTQ Nasional ke depannya.
"Mungkin kita masih menggunakan metode pengkaderan cara lama, bukan cara-cara baru. Maka ke depan kita berharap perlu adanya evaluasi, tidak perlu saling menyalahkan yang sudah terjadi ya sudah. Tapi bagaimana kita mempersiapkan ke depan untuk lebih baik," ujarnya.
Harus Serius Mengurus Musabaqah
Lem Faisal menyarankan agar persiapan mengikuti MTQ Nasional harus serius dengan persiapan yang matang jauh-jauh hari. Mengurus musabaqah, menurutnya, harus dijadikan sebagai pekerjaan utama bukan sambilan.
"Musabaqah itu bukan urusan sambilan, tapi urusan utama dalam konteks mengikuti musabaqah. Oleh karena itu penanganannya itu harus serius sehingga betul-betul sebuah program memang dibuatkan untuk mengikuti event," sebutnya.
