Menjauhi Virus Corona dari China ke Aceh: Panik, Henan Diisolasi (1)
Virus Corona benar-benar membuat panik, membuyarkan konsentrasi untuk menikmati liburan sambil menyiapkan tesis di Kota Kaifeng, Provinisi Henan, China, tempat saya menempuh pendidikan selama ini. Saya terpaksa kembali ke Aceh, sambil menunggu tepat untuk terbang lagi ke sana.

Kampus Henan University, Kota Kaifeng, tempat saya menimba ilmu hampir dua tahun belakangan, mengeluarkan amaran untuk para mahasiswanya, termasuk ratusan mahasiswa asing yang tinggal di asrama khusus. Imbauan untuk tetap berada di asrama itu disampaikan pada Minggu pagi, 26 Januari 2020.
Kebijakan itu diambil setelah Virus Corona merebak ke wilayah Provinsi Henan. Pemerintah setempat mengumumkan isolasi kota setelah menemukan peningkatan kasus Virus Corona, dari 9 menjadi 128 kasus. Ini menjadi urutan kedua setelah Kota Wuhan, Provinsi Hubei diisolasi karena virus tersebut.
Padahal dua jam sebelumnya, puluhan dokter dari Kampus Henan, dikirim ke Wuhan untuk membantu mengatasi Virus Corona. Pelepasan para dokter meriah, disaksikan ratusan akademisi dan mahasiswa.
Praktis setelah dilarang keluar kampus, saya dan ratusan mahasiswa patuh. Kampus dan kota sepi, mahasiswa memilih memasak sendiri dibandingkan dengan keluar mencari jajanan. Hari-hari di asrama dilewati dengan masker dan belajar di kamar sempit. Segala perlengkapan medis disiapkan.
Keputusan lainnya dari kampus untuk mahasiswa asing, saya baca setelah dikirimkan ke WeChat Group mahasiswa asing, pada Senin, 27 Januari 2020. Isinya: “Melarang keras untuk berpergian ke luar daerah bagian Wuhan, Terus menjaga kesehatan tubuh-dalam suhu normal, satu hari sebelumnya segala transportasi umum di provinsi Henan telah ditutup. Jika ingin meninggalkan Kota Kaifeng, Kampus menyediakan angkutan transportasi akan tetapi dengan harga yang tidak normal seperti biasanya. Harga dan tipe mobil, lengkap dengan nomor kontak pengemudi tertulis dalam pengumuman resmi itu. Jika mahasiswa memutuskan kembali ke rumah atau berpergian keluar negeri pihak kampus juga menyarankan untuk mengunduh dan mengisi lembar izin Cuti Belajar, bagi mahasiswa yang berada di luar Kaifeng atau di kampung halaman masing-masing, untuk tidak membeli tiket ke China- balik ke Henan University, adanya perubahan jadwal aktif kuliah yang belum pasti, akan diupdate lagi nantinya, setelah kondisi membaik.”
Pesan seakan memberi jalan bagi mahasiwa asing untuk pulang, walau dengan pertimbangan bahwa libur musim dingin akan berakhir dan kuliah akan aktif kembali. Jadwal kuliah yang tak pasti, membuat saya dan sebagian mahasiswa asing mengambil slip cuti, serta pernyataan kepulangan dengan sebab melandanya Virus Corona hingga ke Provinsi Henan.
Kampus memang sedang libur semester, sejak awal Januari. Tapi saat itu, saya tak berniat pulang, karena ingin fokus menyelesaikan tesis akhir. Segala bahan tesis telah terkumpul, saat pulang ke Aceh, Indonesia akhir 2019.
Pesan ini sangat jelas dibandingkan beberapa pesan sebelumnya yang bersifat pencegahan epidemi Virus Corona. Sebelumnya hanya imbauan untuk menjaga kesehatan, makan makanan bergizi, memakai pakaian layaknya musim dingin, mengunakan masker, mencuci tangan, mengecek kondisi suhu tubuh, dan larangan untuk tidak berkumpul di tempat yang ramai. Pemberitahuan seperti itu telah berlangsung seminggu sebelumnya, terus-menerus disampaikan dalam WeChat Group mahasiswa asing, oleh para dosen secara bergantian.
Maka setiap pagi, saya mencium bau alkohol begitu kuat di koridor asrama. Ini adalah cairan medis untuk mematikan kuman-kuman atau virus. Pengecekan kamar setiap pukul 10 malam dilakukan oleh petugas asrama.
***
Virus Corona yang menggemparkan dunia, membuat keluarga di Aceh khawatir. Hampir saban hari, saya mendapat telepon dari mereka, sekadar menanyakan kondisi, disertai saran untuk pulang. Pemberitaan heboh di Indonesia, apalagi setelah beberapa mahasiswa di Wuhan dan beberapa kota lainnya di China, memutuskan pulang.
Saat kampus dan kota-kota di Provinsi Henan diisolasi, suasana sepi persis kota tak berpenghuni. Hanya satu dua kendaraan di jalanan yang terlihat, warga lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.
Senin, 27 Januari 2020, dengan tekad bulat setelah dilanda kepanikan dan khawatir, saya memutuskan untuk keluar sementara dari China. Tiket pulang diurus keluarga dari Aceh, membeli mahal lewat jasa travel. Tiket tersedia pada 28 Januari, dari Zhengzhou (Ibu kota Provinsi Henan) ke Shanghai, lanjut ke Kuala Lumpur (Malaysia) selanjutnya ke Aceh.
Malam hari, saya mengemas barang dengan cepat, apa saja yang terlintas penting, seperti buku-buku, dokumen, dan bahan-bahan yang telah saya print untuk penulisan tesis. Tak lupa beberapa potong baju. Selesai berkemas lewat tengah malam.
Selasa, 28 Januari 2020, pukul 03.00 waktu Henan. Usai mengemas perlengkapan, saya mengetuk pintu kamar Bahtiyar Atahan, teman asal Turkmenistan, meminta bantuannya untuk mengantar saya keluar dari kampus dan mencarikan taksi yang jauh dari perkarangan maupun jalan utama kampus Henan University.
“Besok pagi-pagi pukul 8 kita keluar dari asrama ya, pesawat saya pukul 12 siang,” kata saya kepadanya. Sambil mengucek matanya, dia memastikan kembali sambil mengulang kata saya, lalu menjawabnya “Ok Mauluda.” Dia kesusahan mengeja nama belakang saya, Maulida.
Jelang pagi, saya mengetahui satu persatu mahasiswa di asrama meninggalkan Kota Kaifeng, 6 orang mahasiswa asal Thailand memutuskan berangkat pukul 6 pagi, disusul 3 perempuan asal Kazakhstan, Daria bersama temanya juga ikut meninggalkan kampus.
Tepat pukul 8.00 waktu Henan, saya keluar asrama. Tak ada taksi dan angkutan umum dari kampus ke Bandara Zhengzhou, semuanya sudah berhenti beroperasi. Sementara taxi pesanan Bahtiar jauh dari jalan utama kampus. Kami harus berjalan kaki sekitar 1 jam, menuju taksi di perempatan lampu merah bagian utara kampus.
Bahtiyar membawa koper dan tas saya yang berisi baju dan buku, berjalan cepat di depan. Badannya tinggi besar, kerap membantu menjadi kurir bagi mahasiswa asing yang ingin pulang ke daerahnya. “Mauluda, ayo cepet sedikit,” serunya dalam bahasa China, ketika menyadari saya tertinggal jauh di belakang. Sulit bagi saya untuk melangkah cepat, lalu lari tergopoh-gopoh mengejar langkah besar Bahtiyar, sambil mengatur pernapasan. Sepanjang jalan bercerita tentang bahaya Virus Corona.
Sesampai di taksi, kami berpisah. “Hati-hati Mauluda,” katanya. Saya masuk ke dalam taksi, lalu melaju cepat menuju Bandara Xin Zheng, Kota Zhengzhou. Tepat pukul 11.00 waktu Henan, saya tiba di sana.
Walau transportasi umum telah ditutup sejak dua hari lalu, Bandara Xin Zheng International Airport tidak sepi. Banyak orang berpikiran sama seperti saya, untuk meninggalkan Provinsi Henan. Banyak penerbangan keluar Provinsi Henan menuju Beijing, Shanghai, maupun penerbangan International seperti ke Thailand, Kuala Lumpur, Korea, Jepang, Vietnam, Turki dan Kazakhstan, sesuai jalur transit.
Di bandara, orang-orang irit bicara dengan masker menutupi bagian mulutnya. [bersambung]
Rizki Maulida
