Konten Media Partner

Pandemi Tak Surutkan Semangat Pengusaha Aceh Bangkitkan Perekonomian Masyarakat

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aidil dan Ruhul, pasangan suami istri di Aceh pemilik usaha Arsha Cake & Cookies.
zoom-in-whitePerbesar
Aidil dan Ruhul, pasangan suami istri di Aceh pemilik usaha Arsha Cake & Cookies.

Pandemi COVID-19 yang melanda di seluruh penjuru dunia banyak menimbulkan duka bagi masyarakat, salah satunya menurunnya pertumbuhan ekonomi masyarakat karena pendapatan keluarga menurun. Akan tetapi, hal itu tak menyurutkan semangat Aidil dan Syarifuddin di Aceh untuk bertahan dan bangkit meskipun di tengah pandemi. Aidil dan Syarifuddin membuka usaha yang dapat membangkitkan kembali perekonomian keluarga dan masyarakat sekitar.

Arsha Cake, Usaha Keluarga Aidil yang Kini Beromzet Jutaan Rupiah

Arsha Cake merupakan usaha rumah tangga milik Aidil dan Ruhul, istrinya. Keduanya sudah melakoni usaha ini sejak akhir Agustus 2019 sebagai tambahan pendapatan keluarga. Akan tetapi, baru saja beberapa bulan merintis usaha keluarga, virus corona melanda Indonesia pada Maret 2020 membuat Aidil dan Ruhul memilih bertahan dengan usaha keluarganya itu.

Mulanya, Arsha Cake hanya menjual kue malinda. Namun, omzet penjualan mereka menurun dibandingkan sebelumnya saat pandemi. Aidil dan istri pun mencari inovasi-inovasi baru agar usaha yang baru saja dirintis bersama keluarganya itu tetap bertahan di tengah pandemic COVID-19.

“Di saat pandemi ini, kita pun coba untuk buat produk yang lain, kita coba ke kue dekorasi gitu ternyata respon dari pelanggan juga ada. Ya, pada saat penjualan kue malindanya terhambat ya cari usaha lain, ya untuk bertahan ini dan biar enggak down,” ujar Aidil yang juga merupakan seorang guru kesenian di salah satu Madrasah Aliyah Negeri di Banda Aceh.

Kue malinda produksi Arsha Cake & Cookies milik Aidil dan Ruhul di Aceh.

Aidil dan istri memulai usahanya ini dengan modal 50.000 rupiah. Dari modal tersebut, Arsha Cake berhasil mendapatkan keuntungan sebesar 125.000 rupiah. Keuntungan ini kemudian terus diputar untuk dijadikan sebagai modal usaha.

“Diawali dengan 2 kilogram tepung terus kita pasarkan, terus hasil itu diputar terus sampai meningkat-meningkat sampai dalam sehari itu bisa produksi dalam 1 sak 25 kilogram,” tuturnya.

Omzet yang berhasil mereka dapat selama pandemi ini pun mencapai 12 juta rupiah. Namun, itu bukan laba bersih. “12 juta, kotor masih dek, karena pandemi,” sebut Ruhul, istri Aidil.

Meski awalnya ada swalayan yang tidak menerima karena belum memiliki izin dari dinas kesehatan, kini kue malinda dari Arsha Cake telah dipasarkan di warung-warung kopi dan juga sudah dimasukkan hampir ke seluruh swalayan di Banda Aceh.

Susunan kue produksi Arsha Cake & Cookies milik Aidil dan Ruhul di Aceh.

“Memang ada beberapa swalayan yang tidak menerima disebabkan tidak ada perizinan dinas kesehatan. Terus, di saat itu, kami mencoba berkembang di dalam masa pandemi juga, kami mengurus Perizinan Industri Rumah Tangga (PIRT), kemudian dapat nomor itu kita masuk lagi yang enggak boleh,” jelasnya.

Tidak hanya di warung kopi dan swalayan di Banda Aceh, Arsha Cake terus melebarkan usahanya agar dapat menjangkau masyarakat luar Aceh melalui media sosial seperti WhatsApp dan Instagram. Bahkan, Aidil berencana akan memasarkan usaha kuenya ini ke pasar daring (market place) seperti Shopee dan Tokopedia.

“Luar Aceh pernah juga kita kirimkan, seperti Pekanbaru juga ada,” kata Aidil.

Selain itu, ia juga tengah mencari cara agar usahanya ini dapat dipasarkan di luar negeri. Dirinya menargetkan dapat memasarkan produk dari Arsha Cake ke negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Kebun Melon, Syarifuddin Pekerjakan Korban PHK dan Pengangguran

Tidak jauh berbeda dengan Aidil, Syarifuddin memulai usaha kebun melon sejak pandemi. Beralih dari dunia kontraktor selama 25 tahun. Kini ia memilih menjadi seorang petani melon. Syarifuddin berinisiatif membuka usaha kebun melon karena melihat banyaknya pengangguran serta pegawai yang di-PHK selama pandemi COVID-19. Kebun melon Syarifuddin yang kini seluas tujuh hektare tersebut, sudah memiliki sepuluh orang pegawai tetap, dan beberapa orang pegawai lepas.

“Sementara tenaga kerja yang tetap di sini ada sepuluh orang, tenaga lepas itu enggak tentu, bisa sepuluh orang, bisa dua puluh orang karena tenaga lepas itu untuk persiapan lahan. Tanam melon ini kan enggak langsung ditanam perlu persiapan dulu, buat lahan dulu, siapin bedeng itu kerja lepas. Ada orang kerja tetap ya bisa juga kerja ini, kekurangan kita pakai kerja lepas, yang sepuluh orang itu sudah pegawai kita. Kalau pekerja lepas tu kapan kita butuh kita panggil mereka, ini butuh sepuluh orang, siap pekerjaan selesai urusan. Nanti perlu lagi kita panggil lagi,” ujar Syarifuddin.

Syarifuddin memanen melon di kebun usaha miliknya di Peukan Bada, Aceh Besar.

Para pekerja tersebut, kata Syarifuddin, umumnya merupakan pengangguran dan korban PHK (pemutusan hubungan kerja). Sementara ini, sepuluh orang pegawai tersebut terus dibina. Ke depannya, ia berencana membuat inovasi baru, yaitu mina melon (kombinasi melon dan ikan) agar dapat meningkatkan kuantitas hasil kebun melon serta mengembangkan lagi usaha perkebunan melon miliknya.

“Ini Alhamdulillah kualitas sudah ada, jadi mau kita tingkatkan kuantitas, termasuk kita tanam mina melon tadi, ada ikan. Jadi, kita bisa tingkatkan kuantitas dengan perluas lahan, karena konsumen kita sudah bertambah,” jelasnya.

Selain itu, inovasi tersebut juga akan menjadi peluang untuk menambah tenaga kerja serta menaikkan gaji pegawai. Tidak hanya itu, harga jual melon pun bisa lebih murah lagi karena produksi sudah lebih tinggi.

“Ini peluangnya besar, orang kerjanya yang seperti tadi kita butuh untuk olah tanah, buat bedeng itu, butuh cepat, yang kita terima pegawai harian. Kalau sekarang ini, orang tetap, tapi gajinya lumayan, tiga juta sebulan. Itu lain lagi untuk buat saluran drainase atau gali lobang dibayar lagi, bisa dapat sekitar lima jutaan atau lebih tergantung kerjanya. Kemudian, makan gratis, tinggal gratis, semua gratis,” kata Yadi Jufri, teman semasa kuliah Syarifuddin yang kini menjadi dosen di Jurusan Ilmu Pertanahan Universitas Syiah Kuala.

Kebun melon Syarifuddin yang juga dibuka sebagai agrowisata mampu memanen melon setiap bulannya. Per hektarenya bisa menghasilkan sekitar 40 ton melon.

Memetik melon di kebun agrowisata milik Syarifuddin di Peukan Bada, Aceh Besar.

“Kalau dulu, kita belum bisa atur pola tanam, mulai sekarang sudah bisa panen terus, enggak ada putus-putus lagi, masa panennya itu dua bulan. Sekali panen per hektare, satu hektare ada dua puluh lima ribu batang, jadi panennya lebih kurang hampir 40 ton per satu hektare. Tapi, kita enggak ada putus-putus lagi, terus panen,” sebut Syarifuddin.

Menurut Syarifuddin, kualitas melon miliknya sudah cukup bagus. Melon yang ditanam merupakan melon varietas yang berasal dari Taiwan.

“Itu bobot maksimumnya 2 kilogram dia, cuma kemanisannya paling tinggi inilah dia, dari pada melon-melon lebih kurang ada 11 varietas yang masuk ke Indonesia. Ini yang paling manis, kalau kita lihat dari segi bentuk atau warna enggak menarik dia, cuma kita perlu kualitasnya, kalau ini Alhamdulillah manis, buahnya kecil,” ujarnya.

Melon tersebut dijual dengan harga Rp 10.000 per kilogram. Namun, dijual lebih murah lagi apabila pembelinya berasal dari kalangan yang tidak mampu.

Syarifuddin, pemilik usaha kebun melon di Peukan Bada, Aceh Besar, yang memperkerjakan korban PKH dan pengangguran.

“Kalau orang biasa kita jual harga normal 10.000 per kilogram. Kalau sekeliling ini kita lihat orang enggak mampu, itu kadang-kadang kita potong 50 persen., tujuan kami ini untuk menampung tenaga kerja dan menyejahterakan masyarakat,” kata Syarifuddin.

Selain meningkatkan kuantitas, Syarifuddin dan Yadi juga akan menerapkan konsep eco farming dalam usaha kebun melonnya ini. Mereka akan mengurangi penggunaan pestisida serta bahan kimia beracun lainnya dengan beralih menggunakan pupuk hayati serta bahan organik lainnya.

“Jadi untuk menjaga kesehatan manusia, lingkungan juga aman, tanah bagus, ya itu, ke depannya akan begitu,” ujar Yadi. [*]

kumparan post embed