Warga Banda Aceh Kerap Keluhkan Air Bersih, PDAM Berdalih Instalasi Tahun 1975

Kerap adanya keluhan warga Banda Aceh terkait layanan air bersih yang didistribusikan melalui PDAM Tirta Daroy, pihak Ombudsman Indonesia Perwakilan Aceh memfasilitasi diskusi online bertema “Menyoal Masalah PDAM”.
Dalam diskusi yang berlangsung Senin (11/5) sore kemarin, Ombudsman menghadirkan nara sumber antara lain Dr. Taqwaddin Husin (Ombudsman Aceh), Farid Nyak Umar (Ketua DPRK Banda Aceh) dan T. Novizal Aiyub (Direktur PDAM Tirta Daroy) dan Ilyas Isti, ST sebagai moderator.
"Diskusi tentang PDAM Tirta Daroy kali ini menarik bagi kami, karena banyak keluhan yang kami dengar di media terkait kurangnya suplai air bersih kepada warga. Namun kami dari Ombudsman belum menerima keluhan tersebut secara langsung ke kantor kami" sebut Taqwaddin saat membuka acara tersebut, sesuai keterangan tertulis yang disampaikan kepada acehkini, Selasa (12/5).
Oleh karena itu, pihaknya membuka ruang kepada masyarakat Kota Banda Aceh untuk menyampaikan saran dan masukan yang konstruktif untuk pelayanan PDAM ke depan yang lebih baik.
Ketua DPRK Banda Aceh dalam paparannya mengatakan, DPRK mengapresiasi kerja PDAM selama ini yang sudah mulai membenahi dari dibandingkan dengan masa lalu. “Namun tak dipungkiri juga bahwa masih banyak persoalan yang harus dibenahi oleh pimpinan PDAM sekarang, karena masih adanya keluhan warga yang kesulitan mengakses air bersih di kota gemilang ini" kata Farid Nyak Umar.
Menurutnya berdasarkan data, PDAM Tirta Daroy sudah membangun jaringan pipa sekitar 1.500 kilometer untuk Sambungan Rumah (SR) bagi 63.000 pelanggan. “Sehingga kita berharap PDAM dapat memberikan pelayanan yang maksimal berupa kualitas, kuantitas, kontiniunitas, dan keterjangkauan bagi masyarakat," lanjut Farid.
Direktur PDAM Tirta Daroy, T. Novizal Aiyub, menyampaikan saat ini setiap keluhan yang disampaikan oleh warga langsung ditanggapi secara cepat, sehingga langsung terselesaikan. Dia mengakui PDAM Tirta Daroy masih banyak kekurangan dalam pelayanan selama ini.
"Iya kita akui masih banyak kekurangan, hal itu karena instalasi yang kita gunakan 70 persen masih instalasi dasar Tahun 1975, yang mana pipanya berukuran kecil, sehingga proses aliran air agak lambat. Selanjutnya terjadinya kebocoran pipa di jalan-jalan,” katanya.
Kendala lainnya termasuk penggunaan pompa hisab oleh pelanggan. “Jadinya rebutan air dan daerah yang jauh airnya tidak kesampaian, seperti Lampineung, Lampulo, Meuraxa debit airnya jadi kurang," kata Aiyub.
Selanjutnya, Aiyub menyampaikan bahwa pelayanan PDAM juga bergantung pada PLN, ketika listrik mati maka proses distribusi air juga terhenti. "Namun demikian, saat ini PDAM Tirta Daroy Banda Aceh masuk dalam kategori PDAM sehat di Aceh, selain Aceh Besar, Bireuen, dan Aceh Tengah," tambah Aiyub.
Kemudian pada sesi tanya jawab secara langsung, Gemal Bakri salah satu peserta menanyakan apakah mungkin masyarakat mendapatkan air secara merata jika tidak menggunakan pompa air.
Selanjutnya Zainal Natural juga mengomentari terkait kinerja pegawai PDAM yang seakan-akan Direktur bekerja sendiri tanpa ada Wakil yang membantunya. Serta Ary Firmana yang menyarankan agar PDAM menggunakan jalur premium dari PLN supaya listriknya tidak padam dalam waktu yang lama.
Menanggapi hal tersebut, Aiyub yakin kalau masyarakat tidak menggunakan pompa air maka distribusi air akan lebih bagus dan bisa dinikmati oleh semua penduduk Banda Aceh. “Terkait memakai jalur premium PLN, harganya masih kurang terjangkau,” urainya. []
