Warga di Wilayah Bekas Tsunami Aceh Kenang Bencana dengan Doa

Satu per satu warga berdatangan sejak pagi ke Masjid Rahmatullah, kawasan Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Kamis (26/12). Mereka berbusana muslim. Sebuah hajatan digelar untuk mengenang tsunami 15 tahun silam.
Masjid itu punya sejarah lekat dengan bencana paling mematikan sepanjang abad ke-21. Bangunan itu menjadi satu-satunya yang tersisa saat tsunami menghantam kawasan Lampuuk, hanya satu kilometer dari Laut. Seluruh permukiman di sekitarnya hancur.
“Kami mengenang tsunami dengan doa bersama, selalu kami lakukan setiap tahun,” kata Khairuddin alias Agam, warga Lampuuk kepada acehkini, Kamis (26/12).
Peringatan tsunami di Lampuuk diikuti oleh seribuan warga yang telah kembali menempati kawasan Lampuuk yang sempat porak-poranda. Saat ini, permukiman warga telah tumbuh padat di sana.
Menurut Agam, selain zikir, doa bersama, dan tausiah yang disampaikan oleh Ustaz Sirajuddin Saman, agenda peringatan diwarnai dengan santunan kepada anak yatim dan fakir miskin. Kegiatan digelar sejak pagi, berakhir menjelang salat zuhur.
Di Masjid Ulee Lheu, Banda Aceh, doa bersama mulai sejak Rabu malam (25/12) selepas salat Isya. “Kami menggelar doa semalam,” kata Ustaz Subhan, pengurus masjid Ulee Lheu.
Masjid Ulee Lheu menjadi salah satu saksi tsunami 15 tahun lalu. Terletak di pinggir pantai, bangunan peninggalan masa perang Belanda itu, bertahan dengan kerusakan ringan.
Pagi harinya, sebagian besar warga Ulee Lheu menjenguk kuburan massal yang tak jauh dari Masjid. Mereka ikut membaca doa-doa kepada keluarganya yang menjadi korban tsunami. Mereka yang umumnya nelayan, tak melaut di hari peringatan tsunami.
Zikir dan doa bersama juga digelar di masjid, meunasah dan rumah ibadah lainnya di wilayah bekas bencana. Sebagian mengadakan pada malam hari dan sebagian pada siang hari. []
