Zona Oranye Corona di Aceh Naik Jadi 22 Daerah, Zona Kuning Tinggal 1 Kabupaten

Konten Media Partner
20 Januari 2021 22:04 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Petugas mengangkat boks khusus dosis vaksin corona Sinovac untuk dibawa ke Pulo Aceh dengan menggunakan perahu motor penumpang, Sabtu (16/1). Foto: Suparta/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Petugas mengangkat boks khusus dosis vaksin corona Sinovac untuk dibawa ke Pulo Aceh dengan menggunakan perahu motor penumpang, Sabtu (16/1). Foto: Suparta/acehkini
ADVERTISEMENT
Jumlah daerah dengan risiko sedang penularan kasus virus corona atau zona oranye di Aceh pada pekan ini mengalami peningkatan dari pekan sebelumnya. Jumlah zona oranye COVID-19 meningkat menjadi 22 dari 19 kabupaten dan kota. Kini tersisa satu kabupaten di Aceh yang berstatus zona kuning atau zona risiko rendah, yakni Aceh Tenggara.
ADVERTISEMENT
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Aceh, Saifullah Abdulgani, menyampaikan hal tersebut sebagaimana peta zonasi risiko kenaikan kasus COVID-19 berdasarkan data analisis per 17 Januari 2021 yang dirilis Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19 Nasional. Aceh Tenggara tinggal satu-satunya daerah zona kuning di Aceh.
"Pada analisis minggu lalu masih ada Kabupaten Aceh Barat Daya, Bireuen, Aceh Timur, bersama Aceh Tenggara sebagai zona kuning di Aceh. Kini tinggal Aceh Tenggara, 22 kabupaten/kota lainnya semuanya zona oranye," ujar Saifullah kepada awak media, Rabu (20/1) malam.
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Aceh, Saifullah Abdulgani (SAG). Foto: Dok. Humas Setda Aceh
Jubir yang akrab disapa SAG itu menjelaskan, zona kuning merupakan daerah risiko rendah kenaikan kasus COVID-19. Penyebaran virus corona di zona kuning relatif sudah terkendali, namun tetap ada kemungkinan transmisi tingkat rumah tangga. Masyarakat di zona kuning disarankan tetap menjalankan protokol kesehatan secara disiplin dan konsisten.
ADVERTISEMENT
Semenatara zona oranye, lanjut SAG, merupakan zona risiko sedang kenaikan kasus COVID-19. Penyebaran virus corona masih tinggi dan berpotensi tak terkendali. Transmisi lokal bisa terjadi dengan cepat, karena itu klaster-klaster baru harus dipantau dan dikontrol dengan testing dan tracing agresif. Masyarakat sama sekali tidak boleh abai pada protokol kesehatan.
"Baik di zona kuning dan apa lagi di zona oranye, prilaku 3M menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan, tetap harus dilakukan secara disiplin dan konsisten," sebutnya.
SAG mengatakan, menyikapi peta zonasi risiko tersebut tidak dengan membuat peta zonasi versi sendiri di kabupaten/kota. Pemetaan zonasi risiko COVID-19 di Tanah Air merupakan kewenangan Satgas COVID-19 Nasional.
"Peta zonasi merupakan alat navigasi bagi pemerintah dan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan dan strategi penanggulangan pandemi COVID-19 berbasis data. Karena itu, analisisnya harus adekuat dan berbasis data yang valid terhadap variabel atau indikator yang dinilai dan dianalisis," kata SAG.
ADVERTISEMENT
Ia menyarankan Satgas COVID-19 kabupaten/kota di Aceh mempelajari indikator-indikator yang dinilai Tim Pakar Satgas COVID-19 Nasional, sebagai dasar penetapan peta zonasi risiko COVID-19, dan melakukan intervensi secara cepat dan tepat. Tiga indikator utama dan 14 sub indikator dapat diunggah pada laman covid19.go.id.
"Peta zonasi risiko hampir mustahil terkoreksi apabila tidak diintervensi variabel-variabel yang dijadikan indikator oleh Satgas COVID-19 Nasional," ujarnya.
Kasus Kumulatif COVID-19 di Aceh
Lebih lanjut, SAG menambahkan, kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Aceh bertambah 18 orang dalam 24 jam terakhir. Sementara pasien sembuh sebanyak 4 orang, dan tidak ada penambahan kasus meninggal dunia pada hari ini.
Ia menyebut, jumlah akumulasi kasus COVID-19 di Aceh sudah mencapai 9.089 orang, terhitung sejak kasus positif pertama diumumkan pada 26 Maret 2020. Dengan rincian, pasien yang dirawat saat ini 962 orang (kasus aktif), sudah sembuh sebanyak 7.753 orang, dan 374 orang meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
SAG menjelaskan, kasus baru sebanyak 18 orang meliputi warga Kabupaten Aceh Besar sebanyak delapan orang, Kota Banda Aceh enam orang, Kabupaten Pidie dua orang, dan Kota Langsa satu orang. Satu orang lainnya merupakan warga dari luar daerah Aceh.
Sedangkan tambahan empat pasien sembuh dari COVID-19 di Aceh hari ini, masing-masing satu orang warga Kabupaten Simeulue, Aceh Singkil, Kota Sabang, dan warga Kabupaten Aceh Tamiang.
"Alhamdulillah, tidak ada pasien COVID-19 yang meninggal dunia dalam 24 jam terakhir," sebut SAG.