kumparan
20 April 2017 10:22

Film Kartini: Peduli Emansipasi demi Menjadi Inspirasi

Kartini Bersama Kedua Orang Tuanya (Foto: Legacy Pictures)
Sosok Kartini menjadi Pahlawan Perempuan Indonesia yang mempunyai hari khusus dan diperingati setiap tahunnya yaitu setiap tanggal 21 April sebagai Hari Kartini di seluruh Indonesia. Dari peringatan setiap bulan April itu, kita diingatkan kembali akan arti perjuangan Kartini yang masih belum selesai hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Sudah ada beberapa cerita tentang sosok Kartini yang dibuat film. Masing-masing sutradara mempunyai sudut pandang yang berbeda dan penonton semakin banyak pengetahuan tentang Kartini dari berbagai sudut pandang.
Ada film Kartini versi Sjumandjadja di tahun 1984.
Video
Film Surat Cinta untuk Kartini versi Azhar Kinoi Lubis tahun 2016.
Video
Dan terbaru, flm Kartini versi Hanung Brahmantyo tahun 2017 yang tayang mulai tanggal 19 April 2017.
Video
Menonton film ini menjadi pengalaman kedua penulis menyaksikan film tentang Kartini. Sebelumnya, penulis telah menonton film Surat Cinta Untuk Kartini yang dijejali kisah fiksi. Kini film yang berjudul singkat Kartini ala Hanung Brahmantyo sudah siap hadir di bioskop kesayangan kita dari sisi yang jarang diketahui.
ADVERTISEMENT
Latar suasana Kabupaten Jepara di akhir abad ke 19 nyaris dihadirkan dengan baik. Dialog dalam Bahasa Jawa dirangkai mengikuti tutur yang teratur. Dialog dalam Bahasa Belanda juga mengingatkan penonton bahwa sebagian besar kepulauan Nusantara pada masa itu masih menjadi wilayah kekuasaan masa kolonial Belanda.
Dari awal film, Kartini (Dian Sastrowardoyo) hadir sebagai pemberontak dan pendobrak tradisi.
Dengan jelas Kartini kecil yang dipanggil Trinil lebih memilih tidur dengan Ngasirah (Christine Hakim), ibu kandungnya yang berubah status menjadi pembantu karena sang ayah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo) kemudian menikahi Raden Adjeng Moeriam (Djenar Maesa Ayu) dalam rangka memenuhi persyaratan untuk menjadi bupati.
Ketika beranjak remaja, kartini dan kedua adiknya Kardinah (Ayushita Nugraha) dan Roekmini (Acha Septriasa) mulai dipingit. Mereka mulai hidup penuh tekanan dalam konflik rumah tangga keluarga golongan bangsawan.
ADVERTISEMENT
Tak hadir dalam kisah meratapi takdir sebagai perempuan yang berlarut dalam kesedihan, Kartini dan adik-adiknya memiliki ide cemerlang untuk membaca dan menulis artikel tentang pemikirannya masing-masing. Kegemaran ini pun yang seolah berhasil menembus batas peradaban.
Dinding kamar yang semula dianggap Kartini membatasi gerak lincah selama masa pingitan perlahan menjadi dunia baru yang menembus ruang dan waktu. Apalagi saat R.M. Panji Sosrokartono, kakak lelaki Kartini, memberikan kunci lemari buku yang ia miliki.
Dari koleksi buku milik Kartono yang sedang melanjutkan studi ke Belanda, Kartini memiliki pandangan luas, pemikiran cerdas, dan sekejap lebih maju. Melalui buku yang dibacanya, Kartini terdeskripsi menjelajah ke berbagai negara, bercakap-cakap dengan tokoh-tokoh dalam buku.
Terutama para perempuan negeri kincir angin yang dapat menempuh pendidikan tinggi sekaligus menikah. Adegan ini memang terkesan hiperbola, namun menjadi suatu daya yang berbeda dari film-film lokal lainnya.
ADVERTISEMENT
Korespondensi pun terjadi antara Kartini dengan para penulis buku berbahasa Belanda. Kolaborasi ini juga diikuti adik-adik Kartini yang mulai rajin membaca buku dan menuliskan pemikirannya untuk diterbitkan ke dalam bahasa Belanda.
Konsistensi mereka berada pada koridor semangat yang diberikan oleh Kartono. Kontroversi juga tak bisa dielakkan, manakala kakak laki-lakinya mengetahui tingkah laku Kartini dan adik-adiknya yang berusaha mendobrak tradisi menjadi kaum terpelajar bukan sebatas menjadi Raden Ayu.
Kartini dan kedua adiknya pun mulai mengatur strategi agar surat-surat yang mereka tulis bisa dibaca oleh banyak orang. Digunakanlah nama samaran “Het Kalverblaad” atau Daun Semanggi sehingga menjadi buah bibir bahkan cibiran keras sebagian masyarakat Jawa yang masih feodal.
Dukungan sang ayah mampu membuat Kartini terus maju untuk tetap belajar mendobrak tradisi yang sudah tergariskan.
ADVERTISEMENT
Selain literasi, Kartini beserta kedua adiknya juga memajukan kerajinan ukiran di wilayah Jepara dengan mengenalkan dan menyalurkan pesanan ke negeri Belanda. Para pengrajin didata untuk mengerjakan motif ukiran sesuai pesanan. Maka, Kota Jepara mulai dikenal memiliki ukiran-ukiran yang bagus.
Namun, sayang, informasi tersebut dalam film Kartini hanya sebatas tempelan yang hilang tanpa kesan karena seharusnya bisa digali lagi dari potensi diri yang membuktikan Kartini bisa bermanfaat bagi banyak orang.
Kartini memang selalu ingat pesan Kartono jika sesuatu yang dimiliki tidak akan ada artinya bila disimpan sendiri. Ilmu yang ada harus dibagi. Kartini pun memberikan pengajaran baca dan tulis kepada perempuan.
Kartini juga mengirimkan permohonan beasiswa ke negeri Belanda agar lebih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk memajukan negerinya. Terutama mengangkat kesetaraan bagi perempuan agar bisa menempuh pendidikan tinggi, seperti halnya laki-laki.
ADVERTISEMENT
Kondisi keluarga pun pro kontra terhadap sikap Kartini yang semakin mendobrak tradisi. Namun, dukungan sang ayah yang mejadikan Kartini tampak putri kesayangannya membuat Ia berusaha mengabulkan semua permintaan Kartini.
Penonton pun diajak berasumsi bahwa sebetulnya Sosroningrat lebih menyayangi istri pertama, yang menjadi ibu kandung Kartini. Pernikahan kedua dengan putri bangsawan yang lebih tinggi, hanya untuk memenuhi perintah orang tuanya. Karena itulah, ia berusaha membela Kartini secara halus.
“Tidak ada yang lebih berharga selain membebaskan pikiran”.
Sutradara berhasil mengarahkan para pemain film Kartini untuk tampil dalam jiwa sesuai tuntutan cerita. Hanung Brahmantyo mencoba mengarahkan pemain untuk masuk ke dalam intrepretasi karakternya.
Dari semua karakter, penulis sangat terkesan dengan chemistry Dian Sastrowardoyo dan Christine Hakim sebagai anak dan ibu kandung.
ADVERTISEMENT
Dengan bahasa Jawa yang fasih dan sangat menguasai peran, Christine Hakim mampu memancing Dian Sastrowardoyo untuk mengeluarkan emosinya sebagai anak yang memberontak terhadap ketidakadilan.
Sebagai Ibu kandung, Ngasirah membebaskan Kartini begitu mudah untuk keluar kamar saat terkurung dalam kondisi kegelapan atas tindakan ibu tirinya. Kartini diajak oleh ibu yang melahirkannya tersebut menuju danau sambil merenungi nilai-nilai luhur budaya Jawa yang tidak diajarkan dalam edukasi modern.
Dalam budaya Jawa, jika ingin menaklukkan seseorang bukan dengan membantah atau melawan tapi dengan memangku atau mengorbankan ego pribadi. Christine Hakim berhasil membangun citra Kartini sesungguhnya dari sudut pandang seorang ibu.
Walaupun adegan ini terkesan disisipkan dan menjadi titik balik yang disengaja. Christine Hakim mampu menyikapi adegan ini dengan penghayatan emosi yang mendalam.
ADVERTISEMENT
Ia berhasil mengingatkan Dian Sastrowardoyo tentang nilai tradisi lokal yang harus tetap menjadi identitas diri agar tidak luntur karena semua proses perjuangan butuh pengorbanan. Komunikasi ibu dan anak ini pun terbangun seperti menyaksikan film Pasir Berbisik.
Selebihnya Nova Eliza yang berperan sebagai Christine Hakim muda juga tampil natural di awal film dengan dukungan penampilan fisiknya yang pas. Adinia Wirasasti yang berperan sebagai Soelastri (kakak dari Kartini) juga mampu mencuri perhatian sekilas meski tak tergarap lugas.
Lalu, raut wajah Djenar Maesa Ayu yang berperan sebagai ibu tiri juga turut membantu penonton untuk menafsirkan setiap adegan. Sumbangsih akting mereka memberi warna tersendiri untuk film ini.
Citra modern justru diperlihatkan Dian Sastrowardoyo sebagai Kartini lewat gestur dan bahasa tubuhnya. Mimiknya masih tak bisa menyembunyikan trademark-nya sebagai Cinta di awal tahun 2000an. Hanya bedanya, Cinta lebih terbiasa dengan adat Jawa yang melekat dalam balutan sanggul dan kain.
ADVERTISEMENT
AADC (Foto: Wikimedia Commons)
Cara bicaranya masih kurang halus dan cara interaksi dengan yang lain tidak begitu dihayati. Hanya sedikit penekanan logat Jawa medhok dibeberapa bagian dan cara berjalan yang memang harus dipelajarinya sebagai Raden Ayu.
Tapi, selebihnya Dian Sastrowardoyo amat terkesan modern. Usianya yang sudah masuk kategori ‘orangtua’ juga dicibir oleh netizen yang tak merepresentasi Kartini muda.
Dian Sastro makin tidak terasa jiwanya sebagai Kartini dengan segala kompleksitasnya yang kita rasakan diberbagai surat tulisan Kartini semasa hidupnya. Ini jelas tidak logis.
Pendalaman karakter Kartini yang meleset dengan segala konsep dan karakter yang diharapkan penulis juga diikuti oleh karakter lain, seperti Reza Rahardian yang berperan sebagai sosok kakak laki-laki yang begitu jenius bernama R.M. Panji Sosrokartono.
ADVERTISEMENT
Sebagai medium pemberi pesan terhadap Kartini dan penonton, Reza yang tampil sesaat tak sanggup menjadi cameo dengan penuh totalitas. Kabarnya yang melanjutkan studi di Belanda tak ada kelanjutan dan koleksi bukunya yang dibaca oleh Kartini hanya berisi adegan numpang lewat begitu saja.
Akting Deddy Sutomo dengan jenggot palsunya juga masih belum tampil apa adanya dan Denny Sumargo yang berperan sebagai Slamet terkesan datar tanpa memainkan emosi sesuai karakter yang diperankannya.
Rianti Cartwright pun sebagai Wilhelmina tampil tenggelam di garis batas kualitas nama-nama pemeran pendukung lainnya yang selalu diperhitungkan dalam jagat perfilman nasional.
Begitu banyak pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan setelah menonton film Kartini. Namun, film Kartini hanya akan mempengaruhi penonton untuk melihat sosok Kartini sebagai pejuang kaum perempuan saja. Tidak tergarap dengan baik dari segi tokoh pendidikan.
ADVERTISEMENT
Semoga saja setelah menonton film Kartini banyak generasi millennial di Indonesia semakin mengenal sosok Kartini sehingga mereka mampu meneruskan perjuangan Kartini dalam hal pendidikan dan kesetaraan status sosial.
Selamat Menonton Film Kartini!
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan