• 0

USER STORY

Pertaruhan Sekuel Film Filosofi Kopi 2 Terhadap Debutnya

Pertaruhan Sekuel Film Filosofi Kopi 2 Terhadap Debutnya


Setelah Ada Apa Dengan Cinta 2 yang tak memberi rasa seperti film pertama. Filosofi Kopi 2 juga mengikuti jejaknya. Ketakutan untuk mempertahankan keunggulan-keunggulan pada cerita perdana pun muncul sehingga film layar lebar membawa virus penyakit dari film-film sekuel yang jatuh dan tak sebagus film terdahulu. Urgensi cerita yang dipertahankan sebagai benang merah pada debut film terkadang lepas begitu saja karena tim produksi seringkali berpikir untuk menyulam benang baru yang akhirnya meninggalkan unsur-unsur potensial yang telah memenuhi latar belakang awal tema cerita.


Padahal, kreativitas itu tidak harus hal-hal yang baru, unsur produksi lama pun tetap bisa dipertahankan untuk tampil pada layar lebar secara berkelanjutan. Penonton bioskop butuh sentuhan nostalgia yang memikat sehingga kenangan bisa terekam sebagai track record yang nikmat.
Kesulitan untuk bertahan pada konsistensi cerita membuat energi film tampak surut dalam penyampaiannya. Jika dilihat pada rangkaian kereta, film pertama tak mampu menjadi lokomotif untuk film-film yang akan diproduksi berikutnya. Setiap sekuel seolah menemukan babak baru dalam menciptakan konflik untuk diramu. Padahal, ada tantangan tersendiri yang akan ditemui oleh penulis naskah agar bahasa tulisan bisa tersaji dalam bentuk audio visual.
Sinergi antara pengembangan plot di Film Filosofi Kopi lalu harusnya mampu mengkolaborasikan dengan apa yang akan ditangkap untuk Filosofi Kopi 2: Ben & Jody. Naskah pun penuh sesak dengan intrik-intrik yang tidak jeli melihat situasi.
Implisit ketahanan cerita akhirnya mengurangi esensi karena hanya menonjolkan sentuhan pribadi. Entah seperti apa rumus cerita yang mau digunakan sebagai proses kerja penciptaan cerita selanjutnya. Apakah memang menggunakan metode yang berbeda atau sama. Eksplorasi cerita dari sisi individu tampak timbul. Ranah perseorangan setiap karakter coba diruncingkan untuk menjadi konsumsi publik. Nilai-nilai yang menyangkut kepentingan pribadi akan mewarnai film-film sekuel yang telah diproduksi.

Awalnya, Filosofi Kopi 2 berupaya menjaga keseimbangan interaksi antara Ben (Chicco Jericho) dan Jody (Rio Dewanto). Porsi mereka dalam cerita pun masih sama. Awal cerita mulai dibuka melalui pertentangan ideologi pribadi. Ben dan Jody harus memutar otak di tengah krisis bisnis yang melanda mereka karena dunia usaha selalu punya strategi baru yang harus dicoba. Selain itu, kekurangan tenaga kerja akibat resign para karyawan juga menjadi pembuka cerita film ini.
Tak ada penyelidikan mendalam tentang asal usul kopi, Filosofi Kopi 2 lebih bercerita tentang kenyataan yang harus dihadapi oleh Ben dan Jody setelah keluar dari zona nyaman. Hubungan antara Ben dan Jody pun diuji sebatas persahabatan yang saling mengikat untuk tetap menjadikan Kedai Filosofi Kopi nomor 1 di Jakarta. Karakter Ben yang meledak-ledak penuh emosi, tergesa-gesa dan idealis justru membentur dengan karakter Jody yang berpikir menggunakan logika sebagai pertentangan dalam membangun Filosofi Kopi agar tidak menjadi cerita legenda.
Kemunculan karakter Tarra (Luna Maya) dan Brie (Nadine Alexandra) dengan segala rahasia yang dimiliki justru mengancam keberlangsungan usaha Filosofi Kopi itu sendiri. Meski intrik yang ditampilkan tidak terlalu kuat seperti film terdahulu.

Tidak relevan memang untuk menganalogikan film pertama dengan film lanjutannya. Masing-masing pasti berupaya menunjukkan sisi penceritaan dari sudut pandang yang berbeda. Namun, bukankah harus tetap ada yang menjadi tolak ukur agar film sebagai media komunikasi mampu menyampaikan pesan-pesan yang sama secara terarah dan berkelanjutan.
Sebagai hiburan semata, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody telah diseduh dan siap dinikmati. Kapabilitas Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara untuk andil menghadirkan film sebagai bagian dari media komunikasi terhadap generasi milenial berhasil menembus batas. Degradasi warna terlihat teduh mempengaruhi sinematografi yang lekat dengan anak muda. Kehadiran seorang gadis muda bernama Brie yang berprofesi sebagai barista juga mampu menjadi representasi generasi terkini.
Meski film ini bertahan pada segmentasi remaja dan dewasa, tata artistik juga berusaha menampilkan history setting dengan penempatan kedai-kedai kopi tua. Hanya saja estetika sudut pandang kamera kurang tergarap. Justru tertutup akan tata musik nan teduh yang mampu muncul memperkeruh penonton untuk larut merasakan kontemplasi hidup yang dialami oleh Ben dan Jody.
Secara verbal, rujukan-rujukan yang ditampilkan untuk memandang kehidupan juga tidak begitu kuat. Film ini hanya berusaha membawa penonton untuk tetap menyaksikan akhir kisah bahagia agar kembali kepada filosofi keluarga.
Pada akhirnya, film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody tak mampu menjadi revisi atas evaluasi keberhasilan film pertamanya. Film ini tidak menjadi sekuel yang berkelanjutan hanya berfungsi sebagai komplementer saja.
Kondisi demikian berimbas juga pada ragam output-output yang telah dihasilkan setelah Film Filosofi Kopi pertama rampung. Kehilangan fokus membuktikan bahwa tim hanya mengejar kuantitas bukan kualitas. Padahal seharusnya karya ini bisa berhasil memberi pengaruh kuat terhadap kehidupan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Ada satu filosofi yang tidak pernah tertulis di atas, It’s all about how we know and enjoy the film making process.
Ingat, Kopi itu bukan untuk diminum, tapi untuk dinikmati saja. Begitu juga dengan film ini*


Filosofi KopiFilm IndonesiaAngga Dwimas SasongkoHiburan

500

Baca Lainnya