kumparan
25 Des 2018 12:10 WIB

Sektor Pariwisata Menjadi Penghasil Devisa Teratas di Indonesia

Dalam Jumpa Pers Akhir Tahun (JPAT) 2018, Arief Yahya mempresentasikan bahwa Indonesia mengalami pertumbuhan sektor pariwisata yang berkelanjutan dengan ukuran yang lebih besar dalam beberapa tahun terakhir. Pencapaian tersebut hingga 25,68%. Hal ini membuat Indonesia menempati urutan pertumbuhan sektor pariwisata tercepat ke-9 di dunia, nomor 3 di Asia, dan nomor 1 di Asia Tenggara versi WTTC (World Travel and Tourism Council).
ADVERTISEMENT
Pertumbuhan pariwisata Indonesia yang dinilai cepat membuat banyak investor tertarik menanam modal dalam sejumlah proyek pariwisata. Dengan begitu angka proyeksi perolehan devisa sebesar 17,6 miliar dolar AS tahun 2018 akan menempatkan sektor pariwisata di posisi teratas sebagai penghasil devisa atau mungkin bisa mengungguli CPO (Crude Palm Oil) yang saat ini menempati urutan pertama dengan nilai ekspor mencapai 17 miliar dolar AS. Penambahan devisa yang diiringi peningkatan investor dalam dan luar negeri harus diiringi pembenahan sarana dan prasarana dari wisata itu sendiri.
Adapun 3 negara yang paling sering melakukan Penanaman Modal Asing (PMA) ke Indonesia yaitu Singapura, Tiongkok, dan Korea Selatan. Negara-negara tersebut memilih jenis usaha di bidang hotel berbintang, akomodasi jangka pendek, dan restoran dengan pilihan tempat konsentrasi investasi pada destinasi yang ada di Bali, DKI Jakarta, dan Kepulauan Riau. Tempat-tempat tersebut dipilih karena menjadi gerbang wisatawan mancanegara untuk berlibur di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Sementara investor domestik yang melakukan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru memilih investasi pada usaha hotel bintang, taman rekreasi tematik, dan daya tarik wisata buatan atau binaan manusia. Sebaran pilihan tempat investasi yang dipilih masih berada di Pulau Jawa, meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pemilihan lokasi investasi berdasar sumber dan tujuan wisata utama yang dilakukan wisatawan nusantara.
Peningkatan devisa yang pesat dinilai karena Kementerian Pariwisata mampu berkomitmen dalam memperhatikan unsur 3 A dalam setiap destinasi yang meliputi aksesibilitas, amenitas, dan atraksi. Unsur aksesibilitas terlihat kerja Pemerinta dalam memperbaiki akses konektivitas melalui percepatan pembangunan jalan tol, jalan sekitar destinasi wisata, hingga pelabuhan marina untuk kapal pesiar. Selain itu, renovasi bandara agar bisa naik kelas sebagai international airport dan penambahan penerbangan langsung dari berbagai negara juga menjadi hal yang diprioritaskan bersama Kementerian Perhubungan. Untuk kualitas amenitas, fasilitas di luar akomodasi telah dapat dimanfaatkan wisatawan selama berwisata di suatu destinasi. Unsur ini bisa berupa restoran, toko cenderamata, mal, serta fasilitas umum seperti toilet yang nyaman, tempat ibadah, klinik kesehatan, dan taman. Jika kita lihat dari sisi atraksi, pemerintah terus menghadirkan keragaman atraksi destinasi wisata sehingga waktu tinggal (length of stay) wisman lebih lama. Hal ini bisa dilihat dalam launching 100 calendar of event wonderful 2019.
ADVERTISEMENT
Dipastikan tahun 2019, sektor pariwisata tetap menjadi andalan dalam peningkatan devisa di Indonesia. Hanya untuk mengakomodir hal ini diperlukan pula pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) seperti fashion, seni pertunjukan, kuliner, dan kriya sebagai oleh-oleh yang disajikan untuk para wisatawan. Produk-produk kreatif tersebut akan menjadi daya tarik tersendiri dan memiliki back story yang bisa dibawa ke asal wisatawan itu berada. Dalam hal ini Kementerian Pariwisata harus berkolaborasi dengan Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf) yang memiliki peran sebagai lembaga yang mampu memberi peningkatan nilai tambah terhadap produk lokal.
Dengan meningkatnya devisa Indonesia dari sektor pariwisata, maka hal ini akan memberi dampak positif bagi semua pihak. Nama Indonesia di dunia akan semakin terkenal dan banyak wisatawan yang datang ke Indonesia karena tertarik mengunjungi destinasi wisata dengan keindahan pesonanya. Kedatangan wisatawan tersebut juga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia, seperti menjadi tour guide atau seniman lokal yang memperkenalkan budaya bangsanya. Tentu hal ini juga akan berimbas pada perekonomian nasional.
ADVERTISEMENT
Semoga saja kemajuan industri pariwisata bisa membuka peluang kemudahan terhadap bantuan promosi, pelatihan, dan bimbingan teknologi didalamnya. Dengan demikian pariwisata bisa disebut tokcer sebagai solusi terobosan yang mengatasi masalah sosial ekonomi dengan membuka isolasi daerah, menyediakan lapangan kerja, menumbuhkan usaha rakyat, dan meningkatkan pelestarian lingkungan serta wawasan berbudaya. Jika semua bisa terpadu niscaya sektor pariwisata jadi kunci stabilisasi rupiah dan penggerak harapan pembangunan nasional. Ayo, kita dukung sektor pariwisata sebagai quick yielding industry yang menambang devisa bagi Indonesia.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan