Konten dari Pengguna

Kedaulatan Hati

AD Sudarto

AD Sudarto

Pengajar di Banyumas

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari AD Sudarto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tentang kecemburuan (sumber: unsplash.com/Thought Catalog)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tentang kecemburuan (sumber: unsplash.com/Thought Catalog)

Eksekusi mati di Tennessee Amerika Serikat pada 30 September 2026 dinyatakan gagal karena terpidana masih hidup, meskipun telah menerima dua dosis obat bius mematikan jenis pentobarbital. Terpidana yang bernama Christa Pike dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan AS pada tahun 1996.

Pada tahun 1995 Pike membunuh Colleen Slemmer, seorang teman wanita di sebuah pusat pelatihan kerja bagi anak-anak muda. Pembunuhan itu tergolong sadis layaknya film horor, brutal hingga membuat orang merasa ngeri mendengar bukti penyiksaan korban.

Penyebab peristiwa yang menyita perhatian warga Amerika itu karena ada rasa cemburu pelaku pada korban. Pike menjalin hubungan dengan Tadaryl Shipp dengan intens dan penuh gejolak. Sepertinya Pike begitu obsesif terhadap Tadaryl, hingga memiliki kecemburuan. Rasa cemburu terhadap Colleen Slemmer berujung pada tindakan keji yang mengakibatkan Pike dijatuhi hukuman mati.

Cemburu tidak harus dalam urusan merebut perhatian atau cinta, rasa itu bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Di bidang politik rasa cemburu muncul misalnya ketimpangan pembangunan daerah, hukum tebang pilih, akses kekuasaan dinasti. Dalam bidang ekonomi kesenjangan pendapatan, monopoli dan persaingan tidak sehat. Dalam bidang sosial adanya stratifikasi sosial, flexing, termasuk bansos tak tepat sasaran.

Kendali hati

Ada ungkapan "jangan izinkan hatimu tersakiti" sering kali dianggap sekadar nasihat puitis. Pernyataan itu sebenarnya menunjukkan bahwa kitalah yang sebenarnya mengendalikan hati ketika merespons pengalaman hidup. Pada saat ada suatu kejadian, maka tanggapan orang bisa berbeda-beda ada yang memberikan penilaian negatif atau sebaliknya, namun semua itu sebenarnya adalah penafsiran kita pada sebuah fakta.

Hati kita itu milik kita, ibarat TV maka yang memegang remote itu adalah kita sendiri. Apa jadinya bila remote itu dipegang orang lain? Tentu suasana hati tergantung pada perilaku orang lain. Pendek kata bila orang memiliki rasa iri, cemburu, dendam artinya hatinya dikendalikan oleh orang lain, dikendalikan oleh capaian-capaian orang lain. Suasana hati dipengaruhi kondisi eksternal, dan celakanya orang tidak bisa mengendalikan faktor luar.

Saat kondisi batin seperti dikontrol oleh faktor luar, maka tawa orang lain menjadi air mata bagi diri, bahagia orang lain menjadi kesedihan diri, keberhasilan yang lain menjadi keterpurukan diri. Sampai pada kondisi kronis dari hati yaitu orang lain harus menderita agar dirinya bahagia, yang lain harus menangis agar dirinya tertawa, faktor luar harus lenyap agar dirinya tetap menyala.

Secara psikologis, seseorang tidak bisa mengontrol tindakan, ucapan, atau perlakuan orang lain. Namun, seseorang memiliki kendali penuh atas interpretasi dan respons pribadinya. Meminjam konsep internal locus of control menjelaskan bahwa individu yang sehat secara mental menyadari bahwa kedamaian batinnya ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan oleh faktor eksternal. Hati yang merdeka adalah suasana hati yang tidak sepenuhnya tergantung pada kondisi luar. Hati yang berdaulat sepenuhnya menjadi tempat dialog antara moral dan pikiran rasional.

Dalam dunia modern banyak hal yang terjadi di luar kendali manusia seperti perubahan kebijakan baik regulasi pemerintah atau kebijakan manajemen di kantor, kritikan, kadang pertemanan toxic, opini orang lain, perubahan beban kerja, rotasi jabatan, atau restrukturisasi.

Hati yang merdeka

Iri dan cemburu adalah rasa sakit dalam berinteraksi sosial. Rasa itu muncul karena reaksi dalam dunia nyata dan sekarang juga bisa dipicu oleh media sosial. Ketika orang scroll layar tidak langsung menunjukkan konten yang memicu rasa iri, melainkan menyelinginya dengan konten lucu, berita terkini, lalu tiba-tiba menyuguhkan unggahan liburan mewah teman Anda atau keberhasilan teman, dan tiba-tiba ada pejabat yang kurang cakap tetapi kekayaannya melimpah, padahal di negeri ada banyak ahli yang sangat mengagumkan.

Iri dan cemburu bekerja dalam senyap, diam-diam rasa itu muncul sebagai keadaan afektif, yaitu kondisi psikologis atau suasana hati (mood) yang berkaitan erat dengan emosi, perasaan, sikap, serta cara seseorang merespons lingkungannya. Menurut penelitian ahli neurosains iri atau cemburu memicu area otak di korteks cingulata anterior (dACC). Area otak tersebut aktif pada saat nyeri secara fisik maupun nyeri sosial, dan area itu adalah otak yang juga memproses pengalaman emosional.

Berarti iri dan cemburu itu adalah sakit, yang perlu pengaturan agar tidak menguasai hati atau pikiran. Cemburu berlebihan bisa berdampak pada kesehatan fisik di antaranya: tekanan darah tinggi, insomnia atau gangguan tidur dan imunitas yang melemah. Iri dan cemburu bisa berdampak pada kesejahteraan mental, sering dikaitkan dengan konsekuensi negatif seperti rendah diri, kecemasan, perasaan tidak aman, bahkan depresi.

Dalam kacamata stoikisme, daripada orang terjebak dalam overthinking, frustrasi atau ledakan emosi maka energi dipusatkan pada hal yang bisa dikendalikan misalnya pengembangan diri, manajemen emosi, berkarya, dan melakukan regulasi emosi kognitif. Di antara strategi mentalnya adalah mengubah cara pandang terhadap suatu peristiwa yang menekan agar maknanya menjadi lebih netral atau positif (Cognitive Reappraisal).

Pikiran sebelum dibingkai ulang: "Saya tidak kompeten. Kerja keras saya tidak dihargai oleh perusahaan, karier saya sudah hancur." Setelah melakukan Cognitive Reappraisal: "Ini adalah kesempatan untuk melatih kembali keterampilan saya. Saya bisa meminta masukan dari atasan agar tahu apa yang perlu ditingkatkan untuk tantangan berikutnya."

Jika regulasi emosi berjalan optimal, otak beralih dari fase "iri destruktif" (malicious envy) ke "iri konstruktif" (benign envy). Dalam kondisi ini, iri da cemburu bukan untuk mensyukuri kegagalan orang lain, melainkan untuk memicu motivasi, energi, dan perencanaan agar Anda bisa mencapai kesuksesan yang serupa.