Tidak Semua Pertemanan Bertahan: Dewasa Mengajarkan Kita Kehilangan

Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Sriwijaya yang percaya bahwa pelayanan yang baik dan kebijakan yang tepat dapat membawa perubahan nyata bagi masyarakat.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Adelia Oktaviani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada masa ketika kita merasa teman akan selalu ada. Selama masih saling chat, masih bisa ketawa bareng, masih sering nongkrong, rasanya hubungan itu aman-aman saja. Seolah pertemanan memang diciptakan untuk bertahan lama. Tapi makin dewasa, kita mulai sadar bahwa tidak semua hubungan berjalan seperti itu.
Pelan-pelan, percakapan jadi lebih singkat. Jadwal makin sulit cocok. Ada yang sibuk kuliah, ada yang kerja, ada yang pindah kota, ada juga yang diam-diam menjauh tanpa banyak penjelasan. Tidak selalu karena ada masalah besar. Kadang hanya karena hidup membawa orang ke arah yang berbeda.
Hal yang paling terasa dari perubahan itu bukan sekadar hilangnya intensitas pertemanan, melainkan rasa asing yang muncul di tengah orang yang dulu paling dekat. Orang yang dulu tahu cara kita bercanda, tahu hal-hal kecil yang kita suka, dan tahu kapan kita sedang tidak baik-baik saja, sekarang mungkin hanya lewat di linimasa. Masih ada, tapi tidak lagi sedekat dulu.
Di titik ini, banyak orang mulai bertanya dalam hati: apakah pertemanan itu memang tidak sekuat yang kita kira? Atau justru kita yang terlalu berharap semua hal bisa bertahan sama seperti dulu?
Mungkin jawabannya ada di tengah-tengah. Tidak semua pertemanan gagal. Tidak semua pertemanan harus berakhir buruk. Hanya saja, ada hubungan yang memang berubah bentuk. Ada yang tetap dekat meski jarang bertemu. Ada yang cukup dikenang dengan baik tanpa harus dipaksa seperti semula. Dan ada juga yang pelan-pelan benar-benar hilang dari hidup kita.
Yang sulit diterima adalah kenyataan bahwa kehilangan tidak selalu datang dalam bentuk perpisahan yang jelas. Kadang ia datang diam-diam. Tidak ada pertengkaran, tidak ada kata putus, tidak ada penjelasan panjang. Tiba-tiba saja, orang yang dulu sering kita ceritakan banyak hal, sekarang jadi nama yang sesekali muncul di memori.
Di masa muda, kita sering mengira bahwa hubungan yang kuat adalah hubungan yang tidak pernah berubah. Padahal, dewasa justru mengajarkan sesuatu yang lain: bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk berjalan bersama dalam waktu yang sama. Sebagian orang hadir hanya untuk satu fase hidup. Sebagian lagi bertahan lebih lama. Sisanya, menghilang begitu saja.
Dan mungkin itu yang paling membuat dewasa terasa sepi. Bukan karena kita tidak punya teman, tetapi karena kita belajar bahwa kedekatan tidak selalu permanen. Kita belajar untuk tidak terlalu kaget saat orang yang dulu sangat penting kini menjadi bagian dari masa lalu.
Namun, kehilangan dalam pertemanan tidak selalu buruk. Kadang, dari situ kita belajar mengenali siapa yang benar-benar bertahan, siapa yang hanya lewat, dan siapa yang memang perlu dilepaskan. Kita juga belajar bahwa tidak semua hubungan harus diselamatkan dengan cara apa pun. Ada yang cukup disyukuri pernah ada.
Pada akhirnya, dewasa memang tidak hanya soal bertambah umur. Ia juga soal menerima bahwa ada banyak hal yang tidak bisa kita pertahankan selamanya, termasuk pertemanan. Dan meski rasanya tidak enak, di situlah kita belajar bahwa kehilangan bukan selalu tanda kegagalan. Kadang, ia hanya bagian dari proses menjadi lebih dewasa.
