Konten dari Pengguna

Inggris Bukan Lagi God Save The Queen Melainkan God Save The King

Adelia Putri M

Adelia Putri M

Mahasiswi jurusan Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adelia Putri M tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

                                                Ilustrasi. Kredit: Adelia Putri Musthafa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. Kredit: Adelia Putri Musthafa

Sebelumnya, dunia sedang dihebohkan atas berpulangnya Ratu Elizabeth II, wanita nomor satu di Inggris di usia 96 tahun. Tentunya Inggris menanggung duka yang sangat mendalam atas kepergiannya. Diketahui bahwa Ratu Elizabeth II telah bertakhta selama kurang lebih 70 tahun dan dianggap sebagai pilar stabilitas monarki Inggris.

Selepas kepergian Ratu Elizabeth II, yang menjadi sorotan adalah transisi takhta kerajaan Inggris. Mengacu pada aturan hukum umum bahwa “raja tidak pernah mati” menjadikan putra sulung dari Ratu Elizabeth II meneruskan takhta kerajaannya agar pemerintahan segera dan tetap berjalan sehingga Inggris kini berada pada era baru, era Raja Charles III. Momentum ini membuat parlemen harus berkumpul untuk melakukan sumpah setia kepada ratu atau raja yang baru setelah kematian ratu atau raja. Berbeda dengan House of Lords, House of Commons tidak punya kewajiban resmi untuk bersumpah kepada seorang ratu atau raja baru karena mereka dianggap secara otomatis telah melakukan sumpah.

Diangkatnya Pangeran Charles menjadi Raja Charles III secara langsung turut merubah gelar keluarganya. Istri Raja Charles, yaitu Camila Parker Bowles akhirnya menyandang takhta Queen Consort. Sedangkan, Pangeran William sebagai anak tertua Raja Charles III mewarisi gelar ayahnya, yaitu Prince of Wales yang juga menandakan bahwa Pangeran William resmi menjadi Putra Mahkota Kerajaan Inggris.

Telah kita ketahui bersama bahwa sosok Ratu Elizabeth II telah melekat dihati masyarakat Inggris. Bagaimana tidak, sosok Ratu Elizabeth II telah menjadi ikon utama kerajaan Inggris. Terdapat gambar seorang Ratu Elizabeth II pada desain uang, perangko, sandi kotak surat, atribut kepolisian, dan atribut tentara Inggris Raya. Setelah meninggalnya Ratu Elizabeth II dan digantikan dengan Raja Charles III membuat seluruh desain uang dan lainnya yang menyantumkan gambar Ratu Elizabeth II kemungkinan besar akan diganti dengan gambar Raja Charles III. Lagu nasional Inggris God Save The Queen juga akan berubah menjadi God Save The King mengikuti alur kepemimpinan di Inggris. Secara keseluruhan lirik tidak akan diganti hanya saja kata she diganti he dan her menjadi him.

Sejatinya, kesan baik yang ditinggalkan Ratu Elizabeth II menjadi suatu beban yang berat bagi Raja Charles III. Hal tersebut secara tidak langsung menciptakan tanggung jawab besar bagi Raja Charles III untuk memimpin Inggris lebih baik daripada sebelumnya, yaitu saat takhta masih dipegang oleh Ratu Elizabeth II. Permasalahannya adalah, Raja Charles III diragukan untuk bisa sukses menggantikan mendiang ibunya karena mengingat Raja Charles memiliki banyak prokontra di kalangan masyarakat Inggris, seperti hidupnya yang banyak dihinggapi masalah, hobinya yang sering diejek media Inggris, kandasnya rumah tangga, dan lainnya.

Tentu saja dalam hal ini, Raja Charles memiliki perbedaan gaya kepemimpinan dengan Ratu Elizabeth II. Raja Charles III dianggap akan menjadi raja yang aktif dan memaksimalkan penggunaan hak prerogatif yang dia miliki. Belum terlihat jelas gaya kepemimpinan Raja Charles III yang sebenarnya karena memang dia baru saja naik menjadi seorang Raja Inggris. Namun, melihat track records yang ia miliki menjadikan munculnya beberapa anggapan bahwa Raja Charles III akan lebih blak-blakan dalam memimpin Inggris. Tekanan publik tentu saja juga akan membentuk Raja Charles III untuk menjadi Raja yang sepatutnya dengan netralitas yang wajib ia miliki.