Mengatur Ulang Fokus di Tengah Kekacauan Global

Mahaasiswa S2 Psikologi Terapan Universitas Airlangga
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Adelin Aprilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap hari kita bangun dengan notifikasi perang, krisis ekonomi, konflik politik, dan tagar “Indonesia gelap.” Timeline terasa seperti ruang darurat tanpa jeda. Dunia tampak terbakar, dan sebagai generasi muda, kita sering merasa harus peduli pada semuanya sekaligus.
Setiap hari, kita membuka mata dan langsung berhadapan dengan kabar perang, krisis ekonomi, konflik politik, hingga tagar “Indonesia Gelap”. Linimasa media sosial seolah menjadi ruang darurat yang tidak pernah tutup. Berbagai persoalan datang silih berganti, sementara kita dituntut untuk terus mengikuti, memahami, bahkan mengambil sikap terhadap semuanya.
Bagi generasi muda, situasi ini menghadirkan dilema. Di satu sisi, kita ingin menjadi bagian dari masyarakat yang peduli terhadap persoalan kemanusiaan, demokrasi, lingkungan, dan keadilan. Di sisi lain, paparan informasi yang terus-menerus dapat menguras energi psikologis. Kita ingin peduli, tetapi perlahan merasa lelah. Kita ingin melakukan sesuatu, tetapi justru kebingungan harus memulai dari mana. Persoalannya bukan semata-mata karena dunia sedang tidak baik-baik saja. Persoalannya juga terletak pada bagaimana kita mengelola perhatian dan merespons berbagai ketidakpastian tersebut.
Dalam psikologi, istilah doomscrolling merujuk pada kebiasaan terus-menerus menelusuri berita atau informasi negatif, meskipun aktivitas tersebut membuat kita semakin cemas dan tidak nyaman. Algoritma media sosial yang menyajikan konten serupa secara berulang dapat memperpanjang paparan terhadap informasi yang memicu kekhawatiran.
Ketika setiap hari kita membaca kabar tentang konflik, ketidakadilan, ancaman ekonomi, dan ketidakpastian masa depan, pikiran dapat dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Kita mungkin merasa harus selalu mengetahui perkembangan terbaru agar tidak dianggap abai. Padahal, mengetahui lebih banyak informasi tidak selalu membuat kita lebih mampu bertindak. Jika berlangsung terus-menerus tanpa pengelolaan yang baik, kondisi ini dapat berkontribusi pada kelelahan emosional, gangguan konsentrasi, dan meningkatnya kecemasan.
Kita mulai berpikir bahwa masa depan semakin suram, usaha pribadi tidak akan membawa perubahan, dan apa pun yang dilakukan terasa tidak berarti. Dalam situasi tertentu, perasaan tidak berdaya ini menyerupai konsep learned helplessness, yaitu kondisi ketika pengalaman berulang menghadapi situasi yang dianggap tidak terkendali dapat membuat seseorang merasa bahwa usahanya tidak akan menghasilkan perubahan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa tidak semua kelelahan akibat berita merupakan learned helplessness. Istilah ini membantu menjelaskan salah satu kemungkinan respons psikologis, bukan diagnosis yang bisa diberikan begitu saja kepada setiap orang yang merasa pesimistis. Kepedulian sosial tetap penting. Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana mempertahankannya tanpa mengorbankan kesehatan psikologis.
Generasi muda memiliki peran penting dalam kehidupan sosial. Kita dapat menyuarakan aspirasi, mengawal kebijakan, mengembangkan inovasi, memperjuangkan kelompok rentan, dan membangun gerakan komunitas. Kepedulian semacam ini merupakan modal sosial yang berharga. Namun, ada perbedaan antara menyadari bahwa sebuah persoalan penting dan merasa bahwa kita harus menyelesaikannya seorang diri.
Ketika setiap persoalan dianggap sebagai tanggung jawab pribadi, kita berisiko menempatkan diri dalam tekanan yang tidak proporsional. Kita merasa bersalah ketika beristirahat, cemas ketika tidak mengikuti berita, atau menganggap aktivitas sehari-hari tidak berarti karena tidak secara langsung menyelesaikan persoalan besar.
Padahal, tanggung jawab kolektif justru membutuhkan pembagian peran. Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama, dan tidak semua kontribusi harus menghasilkan perubahan besar dalam waktu singkat. Ada yang berperan melalui advokasi, ada yang memperkuat pendidikan, ada yang mengembangkan teknologi, dan ada pula yang mendampingi masyarakat secara langsung. Perubahan sosial membutuhkan banyak peran yang saling melengkapi.
Karena itu, menjaga kesehatan mental bukan bentuk pelarian dari tanggung jawab sosial. Sebaliknya, kondisi psikologis yang lebih terjaga dapat membantu kita mempertahankan kepedulian dan bertindak secara lebih konsisten.
Mengembalikan Perhatian pada Lingkar Kendali
Salah satu cara untuk menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian adalah membedakan hal-hal yang dapat kita pengaruhi dari hal-hal yang berada di luar kendali kita.
Gagasan tentang Circle of Concern dan Circle of Influence yang dipopulerkan Stephen R. Covey dalam bukunya, The 7 Habits of Highly Effective People, dapat menjadi titik awal refleksi. Lingkar kekhawatiran mencakup berbagai persoalan yang menyita perhatian kita, mulai dari konflik internasional hingga dinamika politik nasional. Sementara itu, lingkar pengaruh mencakup hal-hal yang dapat kita tindaklanjuti melalui pilihan dan tindakan nyata.
Kita memang tidak dapat menghentikan perang seorang diri, menentukan seluruh arah kebijakan negara, atau mengendalikan setiap informasi yang muncul di media sosial. Namun, kita masih dapat menentukan bagaimana mengonsumsi berita, mengatur waktu penggunaan gawai, mengembangkan keterampilan, membangun relasi yang sehat, dan berkontribusi di lingkungan sekitar.
Perbedaan ini bukan alasan untuk mengabaikan persoalan yang lebih luas. Justru, dengan mengenali batas kendali, kita dapat menentukan bentuk keterlibatan yang lebih realistis. Fokus bukan berarti berhenti peduli. Fokus berarti memilih tindakan yang paling mungkin kita lakukan dan memberikan manfaat nyata.
Indonesia Gelap atau Pikiran yang Terlalu Lelah?
Istilah “Indonesia Gelap” menjadi salah satu ekspresi keresahan terhadap berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik. Kritik semacam ini tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bentuk pesimisme yang keliru. Dalam masyarakat demokratis, kritik merupakan bagian penting dari upaya mengawasi kekuasaan dan mendorong perubahan. Namun, ada hal yang perlu dibedakan: menilai situasi secara kritis tidak sama dengan menganggap seluruh masa depan pasti suram.
Ketika narasi tentang krisis terus memenuhi ruang digital, kita dapat terjebak dalam cara pandang yang hanya menyoroti ancaman. Berbagai kemungkinan buruk terasa semakin dekat, sementara peluang dan ruang tindakan menjadi kurang terlihat. Kita tidak perlu menyangkal kenyataan untuk mempertahankan harapan. Sebaliknya, harapan yang sehat justru tumbuh dari kemampuan melihat persoalan secara jernih, mengakui keterbatasan, dan tetap mencari kemungkinan untuk bertindak.
Generasi muda tidak membutuhkan optimisme yang menutup mata terhadap masalah. Kita membutuhkan optimisme yang realistis: keberanian untuk mengakui bahwa keadaan tidak selalu mudah, sekaligus keyakinan bahwa tindakan yang terarah tetap memiliki arti.
Lima Langkah Menjaga Fokus di Tengah Ketidakpastian
Lalu, bagaimana tetap peduli tanpa ikut tenggelam dalam kegaduhan?
1. Batasi konsumsi berita tanpa menutup diri dari informasi.
Pilih sumber yang kredibel dan tentukan waktu khusus untuk mengikuti perkembangan. Tidak semua unggahan harus dibaca, dan tidak semua perdebatan perlu diikuti. Memeriksa informasi secara berkala lebih bermanfaat daripada terus-menerus menyegarkan linimasa karena rasa cemas.
2. Pertahankan rutinitas yang menyehatkan
Tidur cukup, berolahraga, belajar, bekerja, dan menjalankan aktivitas sehari-hari mungkin tampak sederhana. Namun, rutinitas dapat membantu menjaga kestabilan ketika lingkungan terasa tidak menentu. Merawat diri bukan berarti mengabaikan keadaan, melainkan menjaga kapasitas untuk menghadapinya.
3. Ubah kecemasan menjadi tindakan yang terukur
Jika suatu isu membuat kita prihatin, tentukan kontribusi yang sesuai dengan kemampuan. Kita dapat mengikuti diskusi yang substantif, menjadi relawan, membantu komunitas, mendukung inisiatif sosial, atau mengembangkan keterampilan yang relevan. Tindakan kecil tidak menyelesaikan semua masalah, tetapi dapat menjadi awal keterlibatan yang berkelanjutan.
4. Rawat hubungan di luar ruang digital
Percakapan langsung dengan teman, keluarga, atau komunitas dapat memberi ruang untuk berbagi perspektif dan memperoleh dukungan emosional. Kita tidak harus menghadapi semua kekhawatiran sendirian, apalagi hanya melalui perdebatan di media sosial.
5. Kenali batas diri dan cari bantuan ketika diperlukan
Menulis jurnal, melakukan latihan pernapasan, atau meluangkan waktu untuk aktivitas yang menenangkan dapat membantu mengelola tekanan. Jika kecemasan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu tidur, konsentrasi, pekerjaan, atau hubungan sosial, mencari bantuan profesional merupakan langkah yang patut dipertimbangkan.
Langkah-langkah ini tidak menghilangkan ketidakpastian global. Tujuannya adalah membantu kita merespons ketidakpastian dengan lebih sadar, bukan semata-mata mengikuti arus informasi dan emosi.
Kita hidup pada masa ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memprosesnya. Berbagai krisis dapat hadir di layar dalam hitungan detik, membuat persoalan yang jauh terasa seolah berada tepat di depan mata. Dalam situasi seperti ini, kemampuan mengatur perhatian menjadi bagian penting dari menjaga kesehatan psikologis.
Kita tetap perlu kritis terhadap kebijakan, peka terhadap ketidakadilan, dan terlibat dalam persoalan masyarakat. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa perhatian, energi, dan waktu memiliki batas. Tidak semua kegaduhan harus kita simpan di kepala. Tidak semua masalah harus kita selesaikan hari ini. Dan tidak semua bentuk kepedulian harus ditunjukkan dengan terus-menerus mengikuti berita.
Generasi muda tidak dituntut untuk memikul dunia seorang diri. Kita hanya perlu belajar membedakan kapan harus bersuara, kapan harus bertindak, dan kapan perlu mengambil jeda agar dapat kembali dengan pikiran yang lebih jernih.
Sebab, perubahan sosial membutuhkan kepedulian, tetapi juga membutuhkan ketahanan. Kita tidak bisa mengendalikan seluruh arah dunia, tetapi kita masih dapat menentukan bagaimana mengambil bagian di dalamnya. Di tengah ketidakpastian global dan nasional, menjaga diri agar tetap sehat secara psikologis bukanlah akhir dari perjuangan. Itu adalah salah satu cara agar kita mampu terus berjuang.
