Aachen-Düsseldorf: Jejak Habibie, Masjid Turki, dan Harmoni Jepang di Jerman

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jerman Barat menyimpan dua kota lintas budaya yang tak biasa, yaitu Aachen dan Düsseldorf. Keduanya simpul perjumpaan ide, iman, dan identitas global yang hidup berdampingan dengan wajah Eropa klasik.

Di Aachen, nama B.J. Habibie menggema tidak hanya sebagai tokoh Indonesia, tetapi juga sebagai simbol intelektualitas lintas batas. RWTH Aachen University menjadi salah satu kampus teknik terbaik di Eropa, menjadi saksi perjalanan akademik Habibie muda. Di kalangan mahasiswa Indonesia, kawasan ini kerap disebut “Kampus Habibi”, bukan secara resmi, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap jejak pemikirannya. Atmosfer akademik Aachen terasa unik. Kota ini relatif kecil, namun dipenuhi energi muda dari mahasiswa internasional. Bahasa Jerman bercampur dengan bahasa Inggris, bahasa Arab, hingga bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.
Tak jauh dari pusat kota, berdiri sebuah simbol lain dari keberagaman, yaitu Masjid Komunitas Turki DITIB Aachen Yunus Emre Cami. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kehidupan sosial diaspora Turki di Aachen. Arsitekturnya memadukan gaya Ottoman dengan sentuhan modern Eropa dengan kubah besar, menara ramping, dan interior yang hangat dengan ornamen kaligrafi. Pada waktu shalat wajib, masjid dipenuhi jamaah yang telah menjadi warga lokal ataupun wisatawan Muslim yang sengaja singgah untuk shalat dan menikmati keindahan interior masjid. Masjid ini menjadi contoh bagaimana identitas budaya tidak hilang, melainkan beradaptasi dan tumbuh di tanah baru.
Perjalanan berlanjut ke Düsseldorf, kota yang menawarkan kejutan berbeda. Jika Aachen adalah kota akademik, Düsseldorf adalah panggung kosmopolitan. Kota ini dikenal sebagai “Little Tokyo”-nya Jerman, dengan sekitar 30 persen penduduknya memiliki keterkaitan dengan Jepang, baik sebagai ekspatriat, keturunan, maupun pelaku bisnis. Namun, Düsseldorf bukan hanya tentang Jepang. Kota ini adalah contoh bagaimana globalisasi bisa membentuk identitas baru tanpa menghapus yang lama. Gedung-gedung modern berdiri berdampingan dengan arsitektur klasik, sementara sungai Rhein mengalir tenang, menjadi saksi perubahan zaman.
Yang menarik, baik Aachen maupun Düsseldorf menunjukkan bahwa keberagaman bukan sekadar statistik, melainkan pengalaman hidup sehari-hari. Dari “Kampus Habibie” yang melahirkan mimpi besar, masjid Turki yang menjaga akar budaya, hingga Düsseldorf yang merangkul Jepang sebagai bagian dari dirinya, semuanya menggambarkan dunia yang semakin terhubung.
Di tengah dinamika global, dua kota ini mengajarkan satu hal sederhana namun penting: identitas tidak harus tunggal. Ia bisa berlapis, berwarna, dan justru menjadi lebih kuat ketika saling bertemu.
