Konten dari Pengguna

Keindahan Belanda Dari Lautan Tulip di Keukenhof ke Kincir Angin di Zaanse Schan

Ade Tuti Turistiati

Ade Tuti Turistiati

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Anggota ICA, APJIKI, ASPIKOM. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanggal 28 April, atau sehari setelah perayaan Hari Raja (Koningsdag) yang diperingati setiap 27 April, taman bunga Keukenhof dipenuhi lautan manusia. Pada tanggal 28 April tersebut, taman bunga terbesar di Eropa itu tidak hanya dipadati warga lokal yang memanfaatkan momen spesial berupa akses gratis sehari setelah perayaan nasional berlangsung, tetapi juga dikunjungi oleh wisatawan mancanegara.

Wanita dengan pakaian adat Belanda siap memberikan informasi yang ditanyakan wisatawan. Sumber: Dok. Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Wanita dengan pakaian adat Belanda siap memberikan informasi yang ditanyakan wisatawan. Sumber: Dok. Pribadi.

Keluarga, pasangan muda, hingga rombongan lansia datang dengan wajah yang antusias. Sebagian masih mengenakan syal, topi, atau jaket oranye, sisa euforia Hari Raja yang pada saat itu belum benar-benar usai. Ketika pintu dibuka, ratusan orang mengalir masuk menuju hamparan bunga yang selama ini lebih sering dilihat di kalender, film, atau media sosial.

Pengunjung lansia yang senang cerita tentang sejarah tulip. Sumber: Dok. Pribadi

Di dalam Keukenhof, jutaan tulip sedang berada di puncak mekarnya. Warna merah, putih, kuning, ungu, hingga kombinasi warna yang nyaris tampak tidak nyata membentuk lanskap seperti lukisan hidup. Setiap sudut taman dirancang dengan detail artistik yang membuat pengunjung merasa berjalan di dalam galeri alam terbuka.

Aneka warna-warni tulip. Sumber: Dok. Pribadi

Keukenhof bukan hanya tentang bunga. Tempat ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Belanda memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam. Hari gratis itu terasa seperti simbol bahwa taman bukan merupakan destinasi wisata internasional sekaligus bagian dari identitas dan kebanggaan warga setempat.

Tulip kombinasi warna kuning, merah, oranye, putih. Sumber: Dok.Pribadi

Tulip sendiri memang sudah menjadi ikon Belanda, meski asal-usulnya sebenarnya berasal dari Asia Tengah dan kemudian berkembang di Kekaisaran Ottoman, Turki. Bunga ini dibawa ke Belanda pada akhir abad ke-16 oleh ahli botani Carolus Clusius yang mulai menanamnya di Leiden.

Keukenhof sendiri menjadi simbol paling indah dari filosofi itu. Setiap tahun, sekitar tujuh juta umbi bunga ditanam di taman ini, termasuk lebih dari 800 varietas tulip. Namun, keindahan tersebut hanya berlangsung beberapa minggu setiap musim semi. Justru karena singkat, orang-orang datang dari berbagai penjuru dunia untuk melihatnya. Ada pelajaran sederhana yang terasa kuat dari musim tulip di Belanda bahwa keindahan tidak selalu harus abadi untuk menjadi bermakna.

Di tengah hamparan tulip yang bergoyang diterpa angin musim semi, Belanda seakan mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali lahir dari hal-hal sederhana, yaitu berjalan santai, menikmati alam, dan menjaga tradisi. Selain itu, kita berhenti sejenak untuk merasa kagum pada keindahan dunia terlebih pada Sang Penciptanya.

Pesona Kincir Angin di Zaanse Schans

Perjalanan kemudian berlanjut ke arah utara menuju Zaanse Schans, desa bersejarah yang menawarkan suasana sangat berbeda. Jika Keukenhof dipenuhi energi dan warna, maka Zaanse Schans menghadirkan ketenangan yang terasa hampir meditatif.

Kincir angin di Zaanse Schans menjelang sore. Sumber: Dok. Pribadi

Di desa ini, deretan kincir angin berdiri di tepi kanal dengan baling-baling kayu yang terus berputar perlahan mengikuti arah angin. Suara kayu berderit menciptakan irama lembut yang membuat suasana terasa damai. Rumah-rumah tradisional berwarna hijau tua berdiri rapi, seolah menjaga cerita masa lalu agar tidak hilang ditelan zaman. Berjalan di Zaanse Schans terasa seperti melangkah ke Belanda beberapa abad lalu.

Kincir angin dilihat dari dekat. Sumber: Dok. Pribadi

Di sudut lain desa, pengunjung bisa melihat proses pembuatan keju khas Belanda, mencicipi produk lokal, atau sekadar duduk menikmati pantulan kincir angin di permukaan kanal yang tenang. Tempat ini bukan sekadar objek wisata, melainkan ruang hidup yang menjaga memori kolektif sebuah bangsa.

Perjalanan dari Keukenhof ke Zaanse Schans menghadirkan dua wajah Belanda yang kontras namun saling melengkapi. Di satu sisi ada ledakan warna, kehidupan, dan perayaan musim semi. Di sisi lain, ada ketenangan, sejarah, dan refleksi tentang masa lalu. Keduanya dihubungkan oleh satu benang merah yang sama yaitu harmoni antara manusia, alam, dan budaya.

Orang Belanda umumnya berpostur tinggi dan ramah. Sumber: Dok. Pribadi

Mungkin di situlah daya tarik Belanda yang sebenarnya. Bukan hanya pada tulip yang bermekaran atau kincir angin yang fotogenik, tetapi juga pada cara negara ini menjaga keseimbangan. Mereka mampu merayakan modernitas tanpa melupakan tradisi, menikmati kemajuan tanpa kehilangan kedekatan dengan alam.