Konten dari Pengguna

Mengupas Rahasia Public Speaking yang Memukau

Ade Tuti Turistiati

Ade Tuti Turistiati

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi presentasi. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi presentasi. Foto: Shutterstock

Manusia sejatinya adalah homo narrans, makhluk yang suka bercerita. Namun, tidak semua orang berani berbicara terutama di depan umum. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh The People’s Almanac Book terhadap 3.000 warga Amerika, hal yang paling ditakuti oleh responden adalah berbicara di depan kelompok alias public speaking. Ketakutan berbicara di depan publik bahkan mengalahkan orang Amerika akan ketakutan pada penyakit dan kematian.

Keterampilan melakukan pidato atau presentasi di depan khalayak dapat diperoleh melalui latihan. Practice makes perfect. Dalam buku Presentation Mastery, Ongky Hojanto, sang penulis, mengupas tentang teknik mengatasi rasa takut berbicara dengan konsep NLP (Neuro Linguistic Programming), menyusun isi presentasi yang memukau dan mudah dimengerti, dan teknik menampilkan bahasa tubuh yang elegan di mata audiens.

Ketakutan pada umumnya adalah tanda dari ketidakbiasaan melakukan sesuatu. Saat orang mulai terbiasa, ketakutan itu pada umumnya akan berangsur-angsur berkurang. Penyesuaian diri dapat dilakukan secara fisik seperti melakukan persiapan, merasakan suasana panggung atau podium, dan penyesuaian diri secara mental dan pikiran. Tubuh dan pikiran adalah satu paket.

Ketidaknyamanan pada salah satunya akan menyebabkan ketidaknyamanan pada keduanya. Latihan pernafasan perut dapat membantu mengurangi deg-degan, gemetar, tubuh menjadi dingin, dan muka pucat.

Ilustrasi seminar. Foto: Shutter Stock

Sebelum naik panggung atau podium, presenter harus mengubah bahasa tubuh dengan berlatih menarik napas panjang, tersenyum walaupun dipaksakan, membusungkan dada, berdiri tegak, dan melompat-lompat.

Pemanasan dapat dilakukan dengan cara membicarakan topik yang akan disampaikan dengan orang yang kita kenal, misalnya anggota keluarga, staf, atau teman. (Hal. 1-16).

Kesan pertama dalam suatu presentasi di depan umum adalah segalanya, sehingga pembukaan menjadi momen yang kritikal. Penulis dengan kreatif memberikan berbagai contoh bagaimana membuat visual impact, powerful questions, story, dan humor yang secara praktis dapat ditiru oleh mereka yang membutuhkan.

Isi presentasi dibuat dengan prinsip “Sederhanakanlah hal yang kompleks dan mudahkanlah yang sulit”. Melakukan basa-basi kadang-kadang perlu untuk mencairkan kekakuan dan membangun keakraban dengan audiens.

Ilustrasi seminar. Foto: Shutter Stock

Namun, berbasa-basi yang terlalu lama juga akan membuat presentasi tidak menarik sehingga presentasi harus disusun secara efektif dengan teknik 5W dan 1H. Anekdot dapat disisipkan dalam presentasi.

Anekdot adalah cerita singkat yang lucu dan menarik yang mungkin menggambarkan kejadian atau orang. Anekdot tidak sama dengan lelucon karena tujuannya tidak hanya untuk membangkitkan tawa tetapi untuk melukiskan suatu karakter dengan ringan, memperjelas poin utama atau sub poin sehingga audiens mudah memahami.

Akhir presentasi dilakukan dengan teknik penutupan yang berkesan. Misalnya dengan melakukan suatu ajakan, menyampaikan cerita, mengajak nyanyi, menyampaikan pantun, atau mengutip ucapan dari orang yang berpengaruh (Hal. 33-67).

Di era digital ini yang tak kalah pentingnya ketika kita melakukan presentasi adalah menampilkan slide presentasi berkelas dunia yang penunjang keseluruhan presentasi. Slide presentasi bukanlah isi presentasi lengkap dengan penjelasannya seperti yang presenter persiapkan dalam MS. Words kemudian di copy paste ke dalam bentuk Power Point Slide Presentation. Ketika hal ini dilakukan slide presentasi hanya penuh dengan kata-kata atau kalimat sehingga tidak menarik.

Ilustrasi presentasi menghadap audiens. Foto: Shutterstock

Slide presentasi adalah “media sekilas” pesan yang ditayangkan dalam slide itu dapat diproses dalam 3 detik. Slide presentasi dibuat terutama untuk memudahkan audiens memahami materi bukan hanya untuk memudahkan presenter.

Sehingga, slide presentasi harus memerhatikan pemilihan jenis huruf atau font, ukuran font, gambar, background, warna, posisi teks, variasi posisi horizontal, vertical, atau miring, perpaduan shape dan efek, simbol, dan animasi.

Animasi bukanlah mainan atau sekadar menambah efek supaya teks atau gambar bergerak. Tujuan menggunakan animasi dalam slide presentasi adalah untuk membuat presentasi lebih mudah dipahami dan menarik.

Anda diminta presentasi? Siapa takut.

“Public Speaking is a skill that can be studied, polished, perfected. Not only can you get good at it, you can get damn good at it and it makes a heck of a difference.” -Tom Peters- (“Public Speaking adalah keterampilan yang bisa dipelajari, dipoles, disempurnakan. Anda tidak hanya bisa menjadi ahli dalam hal itu, Anda juga bisa menjadi sangat ahli dalam hal itu dan itu membuat perbedaan besar").