Menuju Eropa, Singgah dalam Keheningan Mushalla di Tengah Gejolak Dunia

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perjalanan ke Eropa bersama Etihad Airways kali itu terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya karena destinasi yang dituju, tetapi juga karena situasi global yang sedang memanas. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menimbulkan kekhawatiran tersendiri, terutama saat harus transit di Bandara Internasional Zayed, Abu Dhabi. Bandara ini sempat terkena sasaran serangan drone pada akhir Februari 2026 akibat eskalasi konflik regional Iran dengan koalisi AS-Israel.

Saat itu, pilihan terasa terbatas. Tidak ada kepastian apakah aman untuk keluar dari bandara atau lebih baik tetap berada di dalam. Jika keluar dari bandara, kita harus mengajukan visa sebelumnya atau on the spot di bandara. Pada akhirnya, keputusan paling masuk akal adalah menunggu di area transit, mengamati situasi sambil menjaga rasa tenang dan nyaman. Namun, menunggu di bandara ini ternyata tidak seburuk yang dibayangkan. Bandara Internasional Abu Dhabi menawarkan berbagai fasilitas yang membuat waktu transit terasa lebih nyaman.
Bagi penumpang Muslim, tersedia mushalla yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Ruangnya bersih dan tenang, memberikan tempat untuk beribadah sekaligus menenangkan pikiran di tengah situasi dunia yang tidak menentu. Selain itu, bandara ini juga cocok untuk sekadar berjalan-jalan ringan. Area terminalnya luas dan modern, sehingga aktivitas sightseeing kecil-kecilan pun bisa menjadi cara efektif untuk mengusir bosan. Deretan toko duty free menawarkan berbagai produk dari parfum hingga barang mewah.
Namun, yang paling berkesan justru adalah area wudunya. Tempat wudu di sini dirancang dengan sangat baik, bersih, mengalir lancar, dan terawat. Setiap sudutnya terasa higienis, memberikan kenyamanan saat bersuci. Dalam perjalanan panjang yang melelahkan, momen membasuh wajah dengan air dingin terasa seperti jeda yang menyegarkan, bukan hanya untuk tubuh tetapi juga untuk pikiran.
Di tengah ketidakpastian dunia luar, berdiri dalam shalat di tempat yang tenang seperti ini memberikan rasa stabil yang sulit dijelaskan. Sejenak, semua kekhawatiran tentang konflik dan perjalanan seakan menjauh. Yang tersisa hanyalah keheningan, doa, dan rasa pasrah.
Selepas itu, waktu transit diisi dengan hal-hal sederhana. Berjalan menyusuri lorong-lorong terminal, memerhatikan arsitektur modern yang elegan, hingga melihat etalase duty-free yang penuh warna. Ada juga godaan untuk mencicipi kuliner di bandara, meski harganya relatif mahal, tetap ada kepuasan tersendiri dalam menikmati makanan hangat di tengah perjalanan panjang.
Tak ketinggalan, fasilitas shower gratis menjadi penyelamat. Setelah berjam-jam di udara, mandi sejenak mengembalikan energi dan semangat. Rasanya seperti memulai perjalanan baru, meski masih berada di tengah rute yang sama.
Transit ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar menunggu. Ia menjadi ruang refleksi tentang perjalanan, tentang ketidakpastian, dan tentang bagaimana menemukan ketenangan di tengah situasi yang tidak ideal. Bandara Internasional Abu Dhabi bukan hanya tempat persinggahan, tetapi juga tempat di mana rasa lelah, cemas, dan harapan bertemu, lalu perlahan menemukan keseimbangannya kembali.
