Konten dari Pengguna

Peranan Pers pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia

Adhelia Puteri Maharani

Adhelia Puteri Maharani

halo nama saya Adhelia Puteri Maharani, biasa dipanggil adhel. Saya adalah seorang Mahasiswa di Universitas Negeri Semarang yang saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di prodi pendidikan sejarah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adhelia Puteri Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber : pribadi

Perkembangan pers atau persuratkabaran sudah ada sebelum masa kemerdekaan Indonesia, Media Pers ini memberikan dampak sangat besar pada masa pergerakan nasional. Pers pertama kali muncul di Hindia Belanda diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda, pemerintah kolonial saat itu menggunakan pers sebagai media utama dalam menyalurkan aspirasi dan kritik terhadap kebijakan pemerintah dari Eropa hingga sampai ke Hindia Belanda. Pada masa pergerakan nasional, pers memiliki peranan penting dalam melawan ketidakadilan pemerintah kolonial Belanda di berbagai bidang. Perlawanan tersebut diwujudkan melalui tulisan yang berisi tanggapan terhadap pemerintah kolonial. Selain itu, pers juga dapat mempengaruhi pendapat dan asumsi orang banyak, hal itu bisa digunakan untuk mengumpulkan kekuatan masyarakat secara luas.

Tirto Adhie Soerjo merupakan salah satu tokoh bumiputra yang paham akan pentingnya pers dalam menyuarakan suara rakyat bumiputra terhadap kebijakan politik kolonial Hindia Belanda. Gagasan Tirto mengenai pers tersebut kemudian mempengaruhi tokoh-tokoh para pejuang pergerakan nasional lainnya.

Kemudian Pada tahun 1906, Tirto mendirikan sarekat priyayi dan sekaligus menerbitkan medan priyayi di Bandung yang kemudian menjadi pers pertama yang diterbitkan oleh bumiputra. Selain menerbitkan medan priyayi, Tirto juga menerbitkan Putri Hindia yang kemudian menjadi pers pertama yang menyuarakan tentang perempuan. Peranan media pers pada masa pergerakan nasional antara lain:

  1. Menyadarkan masyarakat bumiputra bahwa kemerdekaan merupakan hak yang harus diperjuangkan.

  2. Menumbuhkan serta mengembangkan rasa percaya diri, sebagai awal dalam memperjuangkan kemerdekaan.

  3. Menumbuhkan rasa persatuan sesama.

  4. Menyadarkan bangsa Indonesia pada sistem politik dan praktek yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda.

  5. Dan menyebarluaskan berita dari tempat lain.

Selain sarekat priyayi yang didirikan oleh Tirto Adhie Soerjo, beberapa tokoh lain juga ikut serta dalam menyuarakan kritiknya melalui pers, Beberapa pers yang ada pada masa Pergerakan Nasional diantaranya:

  • Darmo Kondo milik Budi Utomo

  • Oetoesan Hindia yang dikelola Sarekat Islam

  • Surat Kabar Mataram yang didalamnya membahas mengenai pendidikan, seni, budaya, penderitaan masyarakat bumiputra dan penindasan serta perkembangan pergerakan nasional yang ada saat itu.

  • Majalah Hindia Putra milik dari Indische Verenenging atau Perhimpunan Indonesia yang ada di Belanda. Kemudian namanya berganti menjadi Majalah Indonesia Merdeka.

  • Pewarta Prijaji yang telah direvisi oleh R.M.T. Kusumo Utaya yang merupakan seorang Bupati Ngawi,ia merupakan tokoh yang gentar menyerukan persatuan di kalangan priyayi.

  • Surat kabar Pertja Barat dan majalah bulanan yang didalamnya menggunakan bahasa Batak, Tapian Nauli yang diketuai oleh Dja Endar Muda.

  • De Expres yang diterbitkan oleh Indische Partij.

  • Suara Perempuan pada tahun 1918 di Padang

  • Sinar Hindia yang diketuai oleh Semaun , ia merupakan seorang aktivis dan juga jurnalis terkenal pada masa itu.

Namun dalam perkembangannya, pers kemudian dianggap radikal oleh pemerintah kolonial Belanda karena banyak berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial yang saat itu sebagai penguasa Hindia-Belanda. Pada tahun 1912 Tirto Adhie Soerjo diasingkan ke Maluku oleh pemerintah kolonial karena kritikan-kritikannya dalam persnya. Selain Tirto Adhie Soerjo, Ki Hajar Dewantara juga mengeluarkan kritiknya kepada kolonial Hindia Belanda. Bahkan, akibat tulisannya yang berjudul "Seandainya Aku Seorang Belanda" atau dalam Bahasa belandanya "Als ik een Nederlander was" yang dimuat dalam surat kabar "De Express" milik Douwes Dekker tanggal 13 Juli 1913, kemudian Ki Hajar dibuang atau diasingkan ke Pulau Bangka.