Kumparan Logo

FIFA Hujan Kritik karena Batalkan Sanksi Kartu Merah Folarin Balogun

kumparanBOLAverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penyerang timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, melakukan selebrasi setelah mencetak gol pertama dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Bosnia dan Herzegovina di Stadion San Francisco Bay Area, California, Rabu (1/7/2026). Foto: Phil Noble/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Penyerang timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, melakukan selebrasi setelah mencetak gol pertama dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Bosnia dan Herzegovina di Stadion San Francisco Bay Area, California, Rabu (1/7/2026). Foto: Phil Noble/REUTERS

Keputusan mendadak FIFA yang membatalkan hukuman larangan bermain bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, memicu kemarahan besar dari pihak Belgia. Balogun, yang seharusnya absen dalam laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 karena kartu merah, kini diizinkan tampil setelah FIFA mengubah sanksi tersebut menjadi masa percobaan.

Reaksi Keras Pelatih Belgia

Komite Disiplin FIFA menyebut penangguhan itu diberlakukan berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA, dengan masa percobaan selama satu tahun. Artinya, hukuman otomatis akibat kartu merah tidak dihapus, tetapi pelaksanaannya ditangguhkan selama periode tersebut.

Sejumlah media melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump melakukan komunikasi dengan Presiden FIFA Gianni Infantino sebelum keputusan tersebut diumumkan. Namun, FIFA dalam pernyataan resminya hanya menyebut dasar hukumnya adalah Kode Disiplin FIFA dan tidak menyatakan bahwa keputusan itu diambil karena intervensi politik.

Pelatih Belgia, Rudi Garcia, mengungkapkan kekesalannya dalam konferensi pers menjelang pertandingan. Ia merasa kebijakan ini sangat tidak masuk akal dan mempertanyakan integritas aturan yang ditetapkan FIFA sebelum turnamen dimulai.

“Saya tidak tahu bahwa di Piala Dunia, tanggal 5 Juli ternyata adalah tanggal 1 April, ini seperti lelucon April Mop,” sindir Garcia seperti dilansir ESPN.

Ia menegaskan bahwa sikap protes yang diambil oleh federasi Belgia bukan hanya demi kepentingan tim mereka, melainkan untuk menjaga marwah dan keadilan dalam olahraga sepak bola secara keseluruhan.

Protes Terhadap Inkonsistensi Regulasi

Federasi Sepak Bola Belgia menyatakan kekecewaan mendalam terhadap FIFA. Mereka menilai keputusan tersebut sangat kontradiktif dengan panduan disiplin yang telah disosialisasikan sejak awal turnamen, di mana setiap pemain yang menerima kartu merah otomatis harus menjalani skorsing satu pertandingan.

Kiper Belgia Thibaut Courtois. Foto: Marcelo Del Pozo/Reuters

Kiper andalan Belgia, Thibaut Courtois, turut memberikan tanggapan terkait situasi ini. “Seandainya ini dilakukan lebih awal, kami mungkin bisa lebih siap secara mental. Namun, kami akan tetap siap di lapangan nanti. Mereka punya 11 pemain, bukan hanya Balogun,” ucap Courtois.

Keputusan kontroversial FIFA ini tidak hanya menuai kecaman dari Belgia, tetapi juga dari pelatih lain yang berkompetisi di Piala Dunia. Pelatih Norwegia, Stale Solbakken, secara terbuka mengkritik langkah tersebut karena dianggap merusak kredibilitas sistem kartu merah dan VAR.

“Ini adalah kesalahan besar dari FIFA. Jika dia mencetak gol kemenangan, hasil pertandingan tersebut akan selalu dipertanyakan,” kata Solbakken.