Konten dari Pengguna

Jauhi yang Menyakiti, Dekati yang Mengerti

Adhisty Dwiriyani

Adhisty Dwiriyani

Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Pamulang (UNPAM)

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adhisty Dwiriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Dua wanita. Foto: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Dua wanita. Foto: Pexels.com

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu hidup berkelompok, makhluk sosial berarti manusia merupakan warga masyarakat. Sedangkan yang dimaksud individu adalah manusia tidak dapat dibagi-bagi antara jiwa dan raganya karena jiwa dan raga sudah menjadi satu kesatuan wujud manusia.

Manusia tidak dapat hidup sendiri. Tidak bisa. Walaupun memiliki banyak uang dan segalanya tercukupi, tentunya manusia tetap memerlukan campur tangan orang lain dalam menjalani kehidupannya.

Tiap manusia pastinya berinteraksi, berkomunikasi dan bersosialisasi dengan yang lainnya. Itu sudah menjadi hal umum yang terjadi, orang yang anti sosial juga mau tak mau harus melakukan komunikasi dengan seseorang jika sedang kebingungan melakukan sesuatu karena jika tidak bertanya akan tersesat di jalan.

Melakukan segala hal dengan mempercayai diri sendiri memang bagus karena terkesan mandiri. Namun jangan dipaksakan kalau tidak bisa sendiri karena ada banyak individu yang mengulurkan tangan untuk membantu jika kesulitan dengan sesuatu.

Manusia merupakan makhluk sosial, berkaitan erat dengan yang namanya pertemanan. Ada banyak sekali orang di bumi yang bisa dijadikan teman yang berfungsi untuk tempat bercerita, berbagi segalanya, saling membantu, susah dan senang tetap bersama, saling mengerti satu sama lain, tidak egois.

Tetapi, apakah teman bisa seperti itu semua? Perlu diketahui bahwa sifat tiap manusia berbeda-beda dan itu terbentuk pada lingkungannya, didikan orang tua, pergaulannya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karakter merupakan sifat kejiwaan, tabiat, akhlak atau budi pekerti seseorang yang membedakan seorang individu dengan individu lainnya. Bayangkan jika setiap orang memiliki sifat yang sama, pasti akan sulit sekali membedakannya.

Terkadang kita terlalu senang berteman dengan seseorang karena sifatnya yang asyik tanpa memandang apa-apa lagi. Padahal seseorang yang dianggap teman itu suka sekali membicarakan hal buruk tentangmu dibelakang bersama temannya yang lain.

Jika ada yang seperti itu, segera tinggalkan. Kamu hanya akan merasa sakit karena berteman dengan pengkhianat, kamu pantas mendapat teman yang lebih baik lagi. Sosok teman yang mau mengerti, menerima apa adanya bukan ada apanya.

Lalu kalau kamu merasa sedang dimanfaatkan oleh temanmu tetapi kamu tidak bisa memanfaatkannya, segera tinggalkan. Orang seperti itu hanya akan menjadi parasit dalam hidup yang tidak bisa berguna bagi orang lain.

Ilustrasi Tiga wanita berpose. Foto: Pexels.com

Berteman juga harus memilih karena semua orang mempunyai sifat, karakter, perilaku dan latar belakang yang berbeda-beda. Maka perlu dipastikan cocok atau tidaknya dengan seseorang, perlu diingat bahwa tiap orang memiliki sifat yang berbeda dan tidak bisa disamaratakan.

Bila ada sesuatu yang berbeda tetapi tidak berlebihan atau menyakiti seperti: kamu suka sarapan, dia tidak. Kamu suka berbicara, dia suka mendengarkan. Kamu suka ditemani, dia tidak suka tapi dia mengerti dan selalu menemanimu jika ingin ditemani.

Jadikanlah orang itu teman agar pengetahuan lebih luas karena bisa mengenal pandangan dunia dari sudut pandang orang lain, berteman dengan orang yang mengerti, paham sifatmu, tidak selalu membenarkan semua tindakanmu tetapi juga menasihati jika kamu salah, selalu bisa saling mengerti dan tidak egois, paham mana yang membuat seseorang sakit hati mana yang tidak, kalau bercanda tidak berlebihan.

Kunci dari pertemanan tanpa sakit hati adalah saling mengerti. Ungkapkan apa yang disukai dan tidak untuk saling mengenal lebih dalam lagi.

Menemukan teman yang baik memang susah, ada baiknya jalani hidup santai lalu berkenalan dengan orang yang mungkin akan bertemu denganmu seterusnya kemudian berteman.

Menurut Andrea Bonior, PhD, penulis buku Friendship Fix, The Complete Guide to Choosing, Losing, and Keeping Up With Your Friends, pertemanan toxic adalah yang terjadi ketika hubungan dengan orang yang sudah kamu anggap teman, justru membahayakan kondisi emosional kamu.

“Kamu bisa bilang dia teman toxic kalau sepanjang pertemanan si teman malah men-trigger stres, kesedihan, dan anxiety,” kata Andrea Bonior.

Ilustrasi wanita menangis. Foto: Pexels.com

Kalau sudah menjalin pertemanan, lama-kelamaan akan muncul sifat asli orang tersebut. Dari situ bisa ditentukan akan lanjut berteman atau tidak?

Karena tak sedikit orang yang toxic tapi tidak sadar dengan sifatnya sendiri malah menganggap semuanya hal wajar atau candaan belaka. Contoh toxic seperti ingin menang sendiri, selalu ambil keputusan sendiri padahal harusnya bersama, merasa berbeda dari orang lain, manipulatif, tidak bisa saling mengerti.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, seleksi dalam berteman sangat diperlukan. Jangan ragu untuk melakukan cut off dengan seseorang karena jika sudah tidak cocok, apa yang perlu dipertahankan?

Sebuah kenangan ketika awal-awal menjadi teman? Semua hanya kenangan, sifat yang asli tidak semanis itu jika dipertahankan dan tetap berteman dengan teman toxic yang ada bisa sakit mental karena menghadapinya.

Memiliki teman dalam hidup memang perlu, memilih teman itu harus!"